Sep 11, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Amerika Serikat Peringati 25 Tahun 9/11 di Tengah Perpecahan Politik

Langkah kecil seorang anak memecah keheningan di monumen Empty Sky, Jersey City. Dari seberang Sungai Hudson, siluet menara One World Trade Center menjulan

Amerika Serikat Peringati 25 Tahun 9/11 di Tengah Perpecahan Politik

Langkah kecil seorang anak memecah keheningan di monumen Empty Sky, Jersey City. Dari seberang Sungai Hudson, siluet menara One World Trade Center menjulang gagah menembus langit Manhattan. Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak gelombang asap hitam menyelimuti New York, Washington D.C., dan sebidang tanah di Shanksville, Pennsylvania. Namun, ketika warga Amerika Serikat kembali berkumpul untuk memperingati seperempat abad tragedi 11 September (9/11), lanskap sosial dan politik negara tersebut telah berubah drastis dibanding era persatuan pasca-bencana.

Peringatan 25 tahun serangan teroris terbesar di tanah AS ini tidak lagi dilangsungkan dalam iklim solidaritas nasional yang hangat seperti akhir tahun 2001. Sebaliknya, momen hening dan pembacaan 2.977 nama korban jiwa kini berlangsung di tengah jurang perpecahan ideologi yang kian mendalam. Makna, warisan, serta dampak jangka panjang dari kebijakan War on Terror justru menjadi bahan perdebatan sengit di kalangan publik yang terbelah.

Di Antara Keheningan Duka dan Polarisasi Ideologi

Investigasi atas memori publik AS menunjukkan pergeseran fundamental. Jika pada akhir 2001 kibaran bendera bintang-garis di depan rumah warga menandakan persatuan tanpa memandang faksi politik, hari ini peringatan sejarah tersebut justru kerap diseret ke dalam narasi politik identitas. Sentimen kebangsaan yang dahulu menyatukan masyarakat kini perlahan tergerus oleh ketidakpercayaan antar-kelompok yang semakin mengkristal.

"Dahulu bendera mengaburkan perbedaan kami dalam duka bersama. Kini, bendera itu sendiri sering dijadikan alat untuk membedakan siapa yang dianggap 'patriotik' dan siapa yang bukan," ungkap Dr. Eleanor Vance, peneliti senior studi kebijakan publik di Washington.

Beberapa poin utama yang memicu pembelahan pandangan masyarakat saat ini meliputi:

  • Efektivitas Intervensi Militer: Perdebatan tajam atas efektivitas perang berkepanjangan di Afghanistan dan Irak.
  • Erosi Kebebasan Sipil: Kekhawatiran atas legalitas pengawasan massal oleh lembaga intelijen pasca-kejadian.
  • Instrumentalisasi Patriotisme: Penggunaan simbol-simbol tragedi 9/11 sebagai alat legitimasi politik partisan.

Warisan Kelam: Mengukur Harga dari Seperempat Abad Reformasi Keamanan

Dampak tragedi 9/11 tidak hanya terbatas pada kehilangan nyawa pada hari kejadian, tetapi juga mengubah struktur anggaran dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat selama puluhan tahun. Berdasarkan data analisis kebijakan, respons terhadap serangan tersebut melahirkan reorganisasi intelijen terbesar dalam sejarah modern AS melalui pembentukan Department of Homeland Security.

Indikator Evaluasi Pasca-Serangan (2001) Kondisi Saat Ini (25 Tahun Kemudian)
Kepercayaan Publik pada Pemerintah 60% (Sangat Tinggi) 16% (Turun Drastis)
Fokus Keamanan Utama Terorisme Transnasional (Al-Qaeda) Polarisasi Domestik & Persaingan Geopolitik
Biaya Operasi Militer Global Awal Anggaran Darurat Melebihi 8 Triliun Dolar AS

Data di atas memperlihatkan bagaimana fokus keamanan dan persepsi masyarakat telah mengalami pergeseran ekstrem. Pengeluaran triliunan dolar dalam perang luar negeri meninggalkan beban ekonomi yang berat serta rasa frustrasi publik terhadap politik luar negeri yang kontroversial.

Generasi Baru yang Tidak Mengalami Langsung Tragedi

Tantangan terbesar dalam memperingati 25 tahun 9/11 adalah pergeseran demografi. Lebih dari sepertiga populasi Amerika Serikat saat ini lahir setelah tahun 2001 atau terlalu muda untuk mengingat langsung kepulan asap dari Twin Towers. Bagi generasi muda ini, 9/11 bukanlah memori traumatis yang dialami secara pribadi, melainkan bab sejarah di buku teks sekolah.

Perubahan generasi ini melahirkan perspektif baru yang lebih kritis terhadap kebijakan pengawasan massal (mass surveillance) seperti Patriot Act dan operasi militer internasional. "Generasi baru mempertanyakan apakah pengorbanan hak-hak sipil demi janji keamanan di masa lalu masih relevan untuk mempertahankan demokrasi saat ini," tambah Vance.

Di tengah pusaran perpecahan dan perubahan zaman, keluarga korban tetap melangkahkan kaki ke Ground Zero. Bagi mereka, terlepas dari dinamika politik yang berkecamuk di Washington, peringatan 25 tahun ini tetaplah tentang satu hal mendasar: merawat ingatan atas jiwa-jiwa yang hilang dan memastikan duka tersebut tidak pernah dilupakan.

Seperempat abad pasca-serangan WTC, bangsa AS berkumpul dalam duka yang diwarnai polarisasi ideologi dan perubahan cara pandang generasi muda terhadap warisan 'War on Terror'. Selengkapnya di Lurusin.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User