Asap tipis yang semula diniatkan untuk mengusir serangga justru berubah menjadi petaka hebat di Desa Poh Bergong, Kabupaten Buleleng, Bali. Sebuah bangunan kandang sapi semipermanen milik Ketut Sukantri (49) ludes dilalap si jago merah pada Kamis petang, menyisakan puing-puing gosong dan duka mendalam bagi pemiliknya. Tak hanya meratakan bangunan kayu tersebut, amukan api juga merenggut nyawa dua ekor sapi yang terperangkap di dalamnya tanpa sempat diselamatkan.
Peristiwa tragis ini bermula dari rutinitas harian peternak lokal. Sekitar pukul 11.00 WITA, Ketut Sukantri mendatangi kandangnya untuk memberikan pakan rutin. Guna melindungi ternaknya dari sengatan lalat dan nyamuk yang mengganggu, ia menyalakan pembakaran sekam dan rumput kering di sekitar kandang—sebuah metode tradisional yang kerap dilakukan peternak setempat. Merasa situasi aman dan tidak ada tanda-tanda bahaya, Sukantri meninggalkan area kandang sekitar pukul 12.30 WITA.
Namun, bara api yang diduga belum padam sepenuhnya terus membara secara diam-diam di bawah tumpukan material kering. Kondisi cuaca yang terik dan tiupan angin diduga kuat menjadi pemicu membesarnya kobaran api beberapa jam kemudian. Sekitar pukul 16.30 WITA, Ketut Manis (42), seorang warga yang tengah mencari rumput di sekitar lokasi, terkejut melihat bubungan asap tebal disusul kobaran api besar yang membumbung dari arah kandang Sukantri.
Detik-Detik Kepanikan dan Penyelamatan yang Gagal
Ketut Manis langsung berlari memberitahukan kejadian tersebut kepada Kadek Ratnada (34), keponakan korban. Bersama warga sekitar, mereka berhamburan menuju lokasi dengan peralatan seadanya untuk memadamkan api dan mencoba menyelamatkan hewan ternak yang terikat di dalam kandang. Sayangnya, hawa panas yang membakar dan cepatnya api merambat ke struktur kayu semipermanen membuat warga tak mampu menembus masuk. Tali pengikat sapi yang kuat tak sempat dilepaskan.
“Warga sudah berupaya maksimal untuk menyelamatkan sapi tersebut. Namun, api sudah sangat besar dan membakar seluruh struktur kandang. Salah satu sapi sempat berusaha meronta dan berlari ke arah selatan sebelum akhirnya bangunan roboh,” ujar Kasi Humas Polres Buleleng, Iptu Yohana Rosalin Diaz.
Analisis Kepolisian dan Rincian Kerugian
Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan para saksi, pihak kepolisian menyimpulkan bahwa insiden kebakaran ini murni disebabkan oleh kelalaian akibat sisa pembakaran sampah organik yang tidak dipadamkan secara sempurna. “Dari keterangan korban dan saksi, dugaan sementara kebakaran terjadi akibat sisa api pembakaran sekam dan rumput kering yang belum sepenuhnya padam,” tegas Iptu Yohana seizin Kapolres Buleleng AKBP Ruzi Gusman.
| Parameter Kejadian | Detail Data Ringkas |
|---|---|
| Lokasi Peristiwa | Desa Poh Bergong, Buleleng, Bali |
| Korban Pemilik | Ketut Sukantri (49 Tahun) |
| Total Kerugian Materiel | Rp23.000.000,- (Dua sapi & bangunan kandang) |
| Dugaan Penyebab utama | Sisa bara pembakaran sekam/rumput kering yang belum padam |
Risiko Latent Tradisi Pengasapan Kandang
Investigasi di lapangan menunjukkan bahwa metode pengasapan atau pembakaran sekam memang menjadi kebiasaan turun-temurun bagi peternak sapi tradisional di Bali untuk mengusir serangga. Namun, metode ini menyimpan risiko kebakaran yang sangat tinggi apabila tidak diawasi hingga bara benar-benar padam. Penggunaan material mudah terbakar seperti rumput kering dan sekam padi di dekat struktur bangunan kayu atau bambu sangat rentan tersulut angin.
Total kerugian materiel yang dialami Ketut Sukantri ditaksir mencapai Rp23 juta, sebuah pukulan ekonomi yang cukup berat bagi peternak skala rumah tangga. Kepolisian mengimbau seluruh masyarakat dan peternak di wilayah Buleleng agar lebih waspada serta memastikan sumber api atau bara benar-benar disiram air hingga padam total sebelum meninggalkan area kandang.
Comments (0)