SIDOARJO — Sebanyak 450 santri Madrasah Tsanawiyah (MTs) Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo, Jawa Timur, terlibat aktif dalam gelaran Batik Fest 2026, sebuah agenda tahunan sekolah yang dirancang untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya nasional. Kegiatan ini berlangsung di lingkungan madrasah dan menjadikan batik bukan sekadar materi hafalan, melainkan praktik langsung yang menyentuh pengalaman siswa.
Dalam pantauan kegiatan, para santri tampak antusias mewarnai pola batik menggunakan media kanvas dan cat akrilik. Berbeda dari proses membatik tradisional yang memerlukan canting dan malam panas, pendekatan yang dipilih panitia lebih ramah anak serta memungkinkan seluruh peserta terlibat tanpa hambatan teknis berarti. Kanvas berukuran sedang dibentangkan di meja panjang, sementara cat akrilik dengan aneka warna cerah disiapkan di setiap kelompok.
Pihak madrasah menyebut Batik Fest bukan sekadar lomba mewarnai. Agenda ini merupakan bagian dari strategi pembelajaran berbasis proyek yang menyandingkan seni, sejarah, dan kewirausahaan dalam satu rangkaian kegiatan. Santri tidak hanya diminta menghasilkan karya visual, tetapi juga memahami filosofi motif yang mereka gambar, mulai dari motif parang, kawung, hingga banji yang sarat makna simbolik.
Kronologi Jalannya Batik Fest 2026
Berdasarkan informasi yang dihimpun, rangkaian kegiatan berlangsung dalam beberapa tahap yang tersusun rapi. Berikut urutan kejadiannya:
- Pembukaan dan Pengarahan: Kegiatan dibuka dengan sambutan pihak madrasah, dilanjutkan pengarahan teknis mengenai pola, komposisi warna, dan etika berkarya dalam kelompok.
- Pembagian Kelompok dan Media: Sebanyak 450 santri dibagi ke dalam sejumlah kelompok. Setiap kelompok menerima kanvas, cat akrilik, kuas, serta lembar referensi motif batik Nusantara.
- Proses Mewarnai: Santri mulai mewarnai pola batik pada kanvas. Tahap ini menjadi inti kegiatan dan berlangsung paling lama karena menuntut ketelitian serta kerja sama antaranggota.
- Presentasi Filosofi Motif: Setiap kelompok mempresentasikan motif yang mereka kerjakan, termasuk alasan pemilihan warna dan makna budaya di baliknya.
- Penilaian dan Apresiasi: Dewan penilai mengevaluasi karya berdasarkan kreativitas, kerapian, kesesuaian motif, dan kekompakan tim sebelum pemenang diumumkan.
Menumbuhkan Kecintaan pada Warisan Budaya
Langkah MTs Progresif Bumi Shalawat dinilai sejalan dengan upaya pelestarian batik yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Persoalan yang kerap muncul di banyak sekolah adalah pendekatan teori yang dominan, sementara praktik langsung jarang diberikan karena keterbatasan alat dan bahan. Batik Fest semacam ini menjadi alternatif yang relevan.
"Kami ingin santri mengenal batik dari tangan sendiri, bukan hanya dari buku. Lewat kanvas dan cat akrilik, mereka belajar sabar, teliti, dan bangga pada budaya sendiri."
Selain dimensi budaya, kegiatan ini juga melatih keterampilan abad ke-21 seperti kolaborasi, komunikasi, dan berpikir kreatif. Santri dituntut menyelesaikan karya dalam batas waktu tertentu bersama rekan satu tim, situasi yang menyerupai dinamika kerja nyata.
Potensi Ekonomi Kreatif di Kalangan Santri
Yang menarik, hasil karya Batik Fest tidak berhenti sebagai pajangan dinding. Pihak madrasah berencana mendokumentasikan karya terbaik dan menjadikannya bahan kajian untuk pengembangan produk ekonomi kreatif sederhana, misalnya cetakan desain untuk tote bag, sampul buku, atau suvenir kegiatan. Jika direalisasikan, ini menjadi jembatan antara pelajaran seni dan literasi kewirausahaan.
Model pembelajaran seperti ini layak menjadi rujukan madrasah dan sekolah lain di Sidoarjo maupun Jawa Timur. Pasalnya, pelestarian batik tidak cukup mengandalkan festival daerah tahunan atau kampanye pemerintah. Regenerasi peminat batik harus dibangun sejak bangku sekolah melalui pengalaman yang menyenangkan dan berulang.
Dengan melibatkan 450 santri dalam satu gelaran, Batik Fest 2026 bukan sekadar acara seremonial. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat diajarkan dengan cara yang kontekstual, kreatif, dan dekat dengan dunia anak. Pertanyaannya kini, apakah agenda semacam ini akan berlanjut secara konsisten dan meluas ke madrasah lain, atau hanya berhenti sebagai dokumentasi tahunan semata.
Sebanyak 450 santri MTs Progresif Bumi Shalawat mewarnai pola batik di kanvas dengan cat akrilik. Motif parang, kawung, hingga banji jadi bahan praktik langsung, lengkap dengan presentasi filosofinya. Warisan budaya diajarkan dari tangan sendiri, bukan hanya dari buku.
Comments (0)