15 Merek Indonesia yang Sering Dianggap Produk Luar Negeri
Di tengah arus globalisasi, batas-batas asal-usul produk semakin pudar. Banyak merek lokal yang sukses membangun citra internasional, sehingga tak jarang konsumen Indonesia sendiri mengira bahwa merek...
Di tengah arus globalisasi, batas-batas asal-usul produk semakin pudar. Banyak merek lokal yang sukses membangun citra internasional, sehingga tak jarang konsumen Indonesia sendiri mengira bahwa merek-merek tersebut berasal dari luar negeri. Fenomena ini terjadi di berbagai sektor, mulai dari makanan, fesyen, hingga elektronik. Artikel ini mengurai 15 merek asli Indonesia yang kerap disangka produk asing, sekaligus menelusuri akar pendiriannya yang sesungguhnya.
Makanan dan Minuman
J.CO Donuts & Coffee sering diidentikkan dengan merek donat asal Amerika Serikat karena desain gerainya yang modern dan rasanya yang internasional. Faktanya, J.CO didirikan oleh Johnny Andrean, seorang pengusaha asal Indonesia, pada tahun 2005. Kini, J.CO telah merambah pasar Asia Tenggara dan bahkan Timur Tengah, tetapi pondasi bisnisnya tetap berawal dari Jakarta.
Kebab Turki Baba Rafi adalah contoh klasik bagaimana nama yang membawa unsur geografis bisa mengecoh. Meskipun istilah 'kebab' dan 'Turki' melekat, gerai kebab terbesar di Indonesia ini adalah produk asli negeri. Hendy Setiono mendirikannya pada 2003 dengan gerai pertama di Ngagel, Surabaya, bukan di Istanbul.
Es Teler 77 mungkin dianggap sebagai waralaba dari Thailand atau Filipina karena penyajian buahnya yang segar dan nama '77'. Padahal, restoran cepat saji yang menyajikan es teler dan hidangan Nusantara ini adalah asli kreasi Indonesia, didirikan oleh Sukyatno Nugroho pada 1981.
Kacang Dua Kelinci, produsen kacang dan camilan yang telah berusia puluhan tahun, juga tak luput dari kesalahpahaman. Kemasannya yang berwarna-warni dan logo dua kelinci terkadang membuatnya disangka sebagai produk dari Tiongkok. Padahal, pabriknya berada di Pati, Jawa Tengah, dan merupakan milik pengusaha lokal.
Sasa adalah merek bumbu penyedap dan tepung yang mudah ditemukan di dapur Indonesia. Karena namanya yang pendek dan terdengar universal, Sasa dianggap sebagai merek asing, bahkan sempat dikaitkan dengan perusahaan dari Jepang. Sesungguhnya, PT Sasa Inti adalah perusahaan Indonesia yang berdiri sejak 1972.
Fesyen dan Ritel
Batik Keris adalah ikon fesyen batik yang sudah hadir sejak 1949. Namun, konsumen milenial sering terperdaya bahwa Batik Keris merupakan cabang dari butik atau label batik milik desainer mancanegara. Kenyataannya, merek ini adalah warisan pengusaha Solo, Kasom Tjokrosaputro, dan sepenuhnya asli Indonesia dari hulu ke hilir.
Eiger, produsen perlengkapan petualangan dan tas gunung, kerap diasosiasikan dengan merek outdoor Jerman atau Swiss karena pengucapan dan citranya yang tangguh. Eiger sejatinya adalah merek lokal yang lahir di Bandung dari tangan Ronny Lukito pada 1989. Melawan arus prasangka, Eiger kini justru mengekspor produknya ke mancanegara.
Zoya adalah merek busana muslim yang namanya terdengar seperti label dari Timur Tengah atau Eropa. Kenyataannya, Zoya adalah anak perusahaan dari PT Shafira Laras Persada, sebuah korporasi fesyen yang didirikan di Bandung pada 2003. Merek ini justru bangga membawa identitas Indonesia dalam koleksi gamis dan jilbabnya.
Executive dikenal luas sebagai penyedia setelan jas dan kemeja formal pria. Publik sering menduganya sebagai merek Italia atau Prancis karena desainnya yang elegan. Namun, PT Dan Liris, yang menaungi Executive, adalah perusahaan tekstil raksasa yang berpusat di Solo, Jawa Tengah.
Sarinah mungkin terdengar seperti department store warisan kolonial atau milik investor asing, padahal Sarinah merupakan aset negara. Didirikan oleh Presiden Sukarno pada 1962, pusat perbelanjaan ini adalah simbol kemandirian ekonomi Indonesia, bukan bagian dari jaringan ritel internasional mana pun.
Elektronik dan Peralatan Rumah Tangga
Polytron telah memproduksi televisi, audio, dan ponsel sejak 1975. Nama yang berbau 'politronik' atau 'poly' sering kali dikira singkatan dari perusahaan Jepang atau Korea. Faktanya, PT Hartono Istana Teknologi, pemilik merek Polytron, adalah entitas bisnis Indonesia yang bermarkas di Kudus, Jawa Tengah.
Maspion adalah raksasa peralatan dapur dan elektronik rumah tangga. Meski namanya berasal dari singkatan, tidak sedikit yang menduga Maspion adalah korporasi Jepang karena kemasan produk dan kualitasnya. Padahal, perusahaan ini didirikan oleh Alim Husin di Surabaya pada 1962 dan sepenuhnya milik konglomerat nasional.
Cosmos terkenal dengan kipas angin, kompor gas, dan peranti rumah tangga lainnya. Nama 'Cosmos' yang kosmik membuatnya dianggap sebagai merek luar negeri. Produk-produk Cosmos sebenarnya dibuat oleh PT Star Cosmos, perusahaan yang bermula dari usaha kecil di Jakarta pada 1972 dan kemudian berkembang menjadi anggota kelompok Djarum.
Gaya Hidup dan Lainnya
Polygon adalah sepeda yang sangat populer dan sering terlihat di etalase toko olahraga internasional. Konsumen kerap menduga Polygon adalah merek Eropa, mengingat desainnya yang sportif dan namanya yang geometris. Kebenarannya, PT Insera Sena yang memproduksi Polygon berawal sebagai bengkel sederhana di Sidoarjo, Jawa Timur, pada 1989.
Kino menaungi berbagai merek perawatan diri seperti Cap Lang dan Eskulin. Meski sebagian portofolionya terdengar bernuansa Tiongkok atau Jepang, Kino Indonesia adalah perusahaan lokal yang didirikan oleh Kino Corporation dan berkembang dari distribusi kecil di Yogyakarta. Kini, produk Kino menembus pasar global tanpa kehilangan identitasnya sebagai perusahaan asal Indonesia.
Kelimabelas merek di atas menunjukkan bahwa persepsi konsumen tidak selalu mencerminkan realitas bisnis. Kemampuan merek Indonesia mengemas identitas global justru menjadi bukti daya saing produk nasional. Fenomena ini sekaligus mengingatkan agar kita lebih kritis dan bangga terhadap ciptaan anak bangsa.
Baca juga:
Comments (0)