Sep 11, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Yogyakarta — Pemda DIY Redesain Regol Ayom Malioboro Demi Kenyamanan Pedestrian

Kawasan pedestrian Malioboro kembali menjadi fokus penataan infrastruktur publik. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) secara resmi mengevalua

Yogyakarta — Pemda DIY Redesain Regol Ayom Malioboro Demi Kenyamanan Pedestrian

Kawasan pedestrian Malioboro kembali menjadi fokus penataan infrastruktur publik. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) secara resmi mengevaluasi keberadaan peneduh jalur pejalan kaki yang dikenal sebagai Regol Ayom Malioboro. Langkah evaluasi dan rencana redesain ini diambil setelah serangkaian pemantauan lapangan menunjukkan bahwa fasilitas peneduh eksisting belum bekerja optimal dalam melindungi pejalan kaki dari sengatan matahari maupun terpaan hujan deras di koridor utama pariwisata tersebut.

Penataan kembali fasilitas publik di kawasan heritage Malioboro bukan sekadar urusan estetika visual. Sejak Malioboro ditetapkan sebagai bagian dari Sumbu Filosofis Yogyakarta—yang diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO—setiap elemen arsitektur jalanan (street furniture) wajib memenuhi prinsip kelestarian budaya, keamanan, serta aksesibilitas universal. Evaluasi menyeluruh ini melibatkan koordinasi intensif antara Pemda DIY dan Pemerintah Kota Yogyakarta untuk merumuskan ulang konsep desain peneduh yang adaptif tanpa merusak nilai historis fasad bangunan di sekitarnya.

Evaluasi Infrastruktur: Mengapa Desain Lama Perlu Diubah?

Kajian teknis mengindikasikan bahwa struktur peneduh saat ini memiliki beberapa keterbatasan fungsional. Saat curah hujan tinggi disertai angin kencang menerpa kota, bentuk kanopi lama tidak mampu meminimalisasi tampias air. Selain itu, pada siang hari, akumulasi panas di bawah material kanopi dinilai kurang mendukung kenyamanan termal pejalan kaki.

"Sebuah fasilitas peneduh di kawasan pedestrian berstandar internasional seperti Malioboro harus menyeimbangkan tiga pilar utama: perlindungan mikroklimat, integritas cagar budaya, dan kenyamanan termal pejalan kaki," ungkap pakar tata ruang kota dalam riset evaluasi fasilitas publik Yogyakarta.

Kronologi dan Alur Evaluasi Regol Ayom Malioboro

Proses perancangan ulang Regol Ayom Malioboro ditempuh melalui serangkaian tahapan terukur yang melibatkan lintas instansi teknis:

  1. Pemantauan Lapangan (Agustus 2026): Pemda DIY mencatat tingkat kepadatan pedestrian mencapai lebih dari 15.000 pengunjung per hari pada akhir pekan, dengan keluhan terkait minimnya area peneduh efektif menjadi aspirasi utama masyarakat.
  2. Koordinasi Lintas Sektor (September 2026): Pemkot Yogyakarta bersama Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY menggelar sinkronisasi teknis untuk membahas dimensi dan material baru.
  3. Finalisasi Detail Engineering Design (DED): Tim arsitek Pemda DIY menyusun cetak biru desain baru yang mengedepankan konsep ramah lingkungan serta kearifan lokal.

Perbandingan Konsep Desain Regol Ayom Malioboro

Untuk memberikan gambaran komparatif mengenai perubahan yang sedang dirancang, berikut adalah tabel perbandingan antara fasilitas eksisting dengan rencana desain baru:

Parameter Evaluasi Desain Lama (Eksisting) Rencana Desain Baru
Perlindungan Cuaca Hanya efektif saat hujan ringan, rawan tampias angin Sistem proteksi ganda dengan struktur kanopi aerodinamis
Material Utama Baja standar dan polikarbonat Material ramah lingkungan berornamen tradisional khas Yogyakarta
Integritas Cagar Budaya Cenderung menutupi visual fasad bangunan kuno Desain netral-transparan, menjaga garis pandang Sumbu Filosofis
Aksesibilitas Difabel Mengurangi ruang gerak efektif hingga 20% Integrasi penuh dengan guiding block dan 100% ramah difabel

Dampak Ekonomi dan Harapan Masyarakat Pedestrian

Kenyamanan fasilitas pedestrian di Malioboro memegang peranan krusial bagi ekosistem perekonomian daerah. Data Dinas Pariwisata DIY mencatat bahwa aktivitas ritel dan UMKM di kawasan Malioboro menyumbang lebih dari 35% dari total perputaran uang sektor pariwisata Kota Yogyakarta. Ketika kenyamanan pejalan kaki terganggu akibat cuaca, durasi kunjungan (length of stay) wisatawan di koridor pedestrian mengalami penurunan hingga 40%.

"Kami berharap desain baru Regol Ayom tidak hanya elok dipandang secara estetika Jawa, tetapi benar-benar fungsional melindungi pengunjung dari panas dan hujan," ungkap salah satu perwakilan paguyuban pedagang Malioboro.

Melalui proses desain ulang ini, Pemda DIY menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang publik Malioboro yang humanis, inklusif, dan tangguh terhadap perubahan iklim tanpa mengorbankan identitas kebudayaan Yogyakarta.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User