Gagasan bahwa sampah anorganik selalu berakhir sebagai beban lingkungan mulai terkikis oleh praktik nyata di lapangan. Di Depok, Jawa Barat, dua inisiatif komunitas yang dikenal dengan nama Wisata Rongsok dan Mall Rongsok menghadirkan wajah baru pengelolaan limbah: barang bekas tidak lagi dipandang sebagai sisa yang menunggu dibuang, melainkan komoditas yang dipilah, diolah, dan dikembalikan ke siklus ekonomi. Keduanya menjadi penanda tumbuhnya ekonomi sirkular dari akar rumput, dibangun oleh warga dan pelaku usaha kecil yang bergerak di sektor daur ulang, bukan oleh korporasi besar.
Konsep yang Mengubah Pandangan terhadap Barang Bekas
Wisata Rongsok menawarkan pengalaman berbeda: lokasi pengumpulan barang bekas ditata sedemikian rupa sehingga layak dikunjungi, baik untuk melihat proses pemilahan maupun untuk membeli barang yang masih layak pakai. Sementara itu, Mall Rongsok mengambil pola seperti pusat perbelanjaan pada umumnya, dengan deretan lapak yang menjajakan barang bekas dalam kondisi terpilah berdasarkan jenis dan kualitasnya. Pembeli datang, membandingkan, dan memilih langsung barang yang dibutuhkan, sehingga nilai jual setiap benda bekas meningkat dibandingkan jika dijual dalam keadaan tercampur.
Pendekatan ini sekaligus menjawab persoalan yang selama ini membelit pengelolaan sampah anorganik: minimnya pemilahan sejak dari sumber. Dengan menyediakan tempat yang rapi, terorganisasi, dan menarik, kedua inisiatif itu mendorong warga untuk memilah sampahnya sendiri sebelum diserahkan ke lapak. Hasilnya, material seperti plastik, kertas, kardus, logam, dan kaca mengalir ke jalur daur ulang dengan kualitas yang lebih baik.
Ekonomi Sirkular yang Berakar di Komunitas
Ekonomi sirkular menekankan prinsip bahwa sumber daya digunakan selama mungkin, diambil nilai maksimumnya, lalu dipulihkan pada akhir masa pakainya. Praktik rongsokan sebenarnya telah lama menjadi tulang punggung daur ulang informal di Indonesia, digerakkan oleh pemulung dan pengepul yang bekerja di lapisan paling bawah. Yang dilakukan Wisata Rongsok dan Mall Rongsok adalah merapikan, mengangkat, dan mempopulerkan rantai tersebut sehingga lebih banyak pihak ikut terlibat.
Dampak ekonominya terasa langsung di komunitas. Warga memperoleh tambahan penghasilan dari menjual barang bekas yang semula hanya menumpuk di rumah, sementara pengelola lapak mendapat pasokan material yang lebih konsisten. Pekerjaan di sektor ini juga terbuka bagi tenaga kerja lokal, mulai dari tenaga sortir, pengemasan, hingga pengelolaan penjualan. Dengan kata lain, sampah anorganik yang tadinya dianggap tidak bernilai justru menciptakan lapangan kerja dan perputaran uang di tingkat lingkungan.
Mengurangi Beban Tempat Pembuangan Akhir
Setiap kilogram material yang masuk kembali ke siklus ekonomi berarti satu kilogram yang tidak perlu diangkut menuju tempat pembuangan akhir. Volume sampah yang mengalir ke TPA pun berkurang seiring semakin banyaknya barang bekas yang tertahan di jalur daur ulang. Pengurangan ini penting karena lahan TPA di berbagai wilayah kian terbatas, sementara sampah anorganik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami.
Dalam skala nasional, arah kebijakan pengelolaan sampah memang mengacu pada target pengurangan dan penanganan sampah yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Salah satu sasarannya adalah menekan jumlah sampah yang berakhir di TPA melalui perbaikan pengelolaan dari hulu. Inisiatif seperti Wisata Rongsok dan Mall Rongsok berada di jalur yang sejalan dengan target tersebut, meskipun digerakkan tanpa menunggu instruksi pemerintah pusat.
Tantangan dan Prospek Ke Depan
Kendati menjanjikan, keberlanjutan inisiatif ini tetap menghadapi sejumlah tantangan. Pemilahan yang konsisten membutuhkan kesadaran warga yang terus dipupuk, sedangkan pasar produk daur ulang masih rentan terhadap fluktuasi harga bahan baku sekunder. Dukungan pemerintah daerah, baik dalam bentuk regulasi, penyediaan lokasi, maupun pendampingan usaha, akan menentukan seberapa jauh model ini bisa bertumbuh dan ditiru di wilayah lain.
Kendati demikian, keberadaan Wisata Rongsok dan Mall Rongsok menunjukkan bahwa solusi pengelolaan sampah tidak selalu harus datang dari teknologi mahal. Dengan menata ulang praktik yang sudah ada, menambah nilai, dan melibatkan masyarakat, sampah anorganik dapat diubah dari masalah lingkungan menjadi aset ekonomi. Inilah esensi ekonomi sirkular yang tumbuh dari bawah, dan Depok menjadi salah satu tempat di mana akarnya mulai terlihat jelas.
Comments (0)