Lombok, Lurusin.com — Warga Kampung Adat Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai bergotong royong membangun kembali rumah adat dan Masjid Sade pascakebakaran yang melanda kawasan permukiman adat Sasak tersebut. Proses rekonstruksi dilakukan dengan tetap mempertahankan bentuk serta karakter asli kawasan adat, sehingga nilai historis dan budaya yang melekat pada kampung tersebut tidak hilang ditelan api.
Pantauan di lokasi menunjukkan kesibukan warga sejak pagi hari. Mereka mengangkut material bangunan, menyusun kembali tiang-tiang kayu, hingga merapikan atap alang-alang yang menjadi ciri khas arsitektur tradisional Sade. Semangat gotong royong atau yang dikenal dengan istilah saling pelungguhan dalam tradisi Sasak tampak kental mewarnai proses pembangunan ulang tersebut.
Mempertahankan Karakter Asli Kawasan Adat
Yang menarik dari proses rekonstruksi ini adalah komitmen warga untuk tidak mengubah bentuk asli bangunan. Rumah-rumah adat Sade tetap dibangun dengan pola tradisional: lantai tanah yang dipadatkan, dinding anyaman bambu, serta atap dari alang-alang dan ijuk. Begitu pula dengan Masjid Sade yang menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus simbol identitas komunitas.
Seorang tokoh adat setempat menegaskan bahwa pembangunan kembali ini bukan sekadar mendirikan bangunan fisik, melainkan juga merawat warisan leluhur yang diwariskan turun-temurun.
"Kami tidak hanya membangun rumah, kami membangun kembali identitas kami. Bentuk dan tata letak harus sama seperti warisan leluhur. Kalau diubah, hilanglah ruh Kampung Sade," ujar tokoh adat setempat.
Menurutnya, seluruh elemen masyarakat terlibat tanpa terkecuali. Kaum muda dikerahkan untuk membantu tenaga, sementara para tetua adat mengawasi agar setiap detail bangunan sesuai dengan pakem yang berlaku.
Kebakaran Jadi Pukulan, Gotong Royong Jadi Obat
Insiden kebakaran yang melanda kawasan ini menjadi pukulan berat bagi warga, mengingat Kampung Adat Sade merupakan salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Lombok. Kerugian tidak hanya bersifat material, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi karena kawasan ini menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga.
Meski demikian, duka tersebut tidak membuat warga berhenti. Justru sebaliknya, semangat kebersamaan menguat. Beberapa poin kunci dari proses pemulihan ini antara lain:
- Gotong royong total: Warga bahu-membahu tanpa mengharap upah, mengandalkan solidaritas kekerabatan.
- Pelestarian arsitektur: Material dan teknik bangunan tetap mengikuti tradisi Sasak.
- Pemulihan Masjid Sade: Masjid dibangun ulang sebagai pusat spiritual dan kegiatan sosial warga.
- Dukungan berbagai pihak: Bantuan mulai mengalir, baik dari pemerintah maupun sukarelawan dan donatur.
Pemerintah daerah diharapkan terus mendampingi proses rekonstruksi, terutama dari sisi pendanaan dan penguatan status kawasan adat agar ke depan lebih terlindungi dari risiko serupa. Sejumlah pihak juga mendorong adanya peningkatan fasilitas pencegahan kebakaran tanpa merusak tata ruang tradisional.
Harapan Baru dari Kampung yang Pernah Terbakar
Bagi warga Sade, berdirinya kembali rumah adat dan Masjid bukan sekadar penanda pulihnya fisik, tetapi juga simbol ketangguhan budaya. Mereka berharap Kampung Sade kembali ramai dikunjungi wisatawan, sehingga roda perekonomian warga kembali berputar.
"Kami ingin Sade hidup kembali. Bukan hanya bangunannya, tapi juga denyut kehidupan di dalamnya," pungkas salah satu warga.
Proses pembangunan kembali diperkirakan berlangsung bertahap. Meski belum seluruhnya rampung, aroma semangat baru sudah terasa di setiap sudut kampung. Kisah Sade menjadi pengingat bahwa di balik bencana, ada kekuatan kolektif yang mampu membangun kembali harapan.
Comments (0)