Keberadaan layanan kereta ringan yang membentang di atas kawasan Velodrome hingga Manggarai telah menghadirkan pilihan transportasi baru bagi penduduk Jakarta Timur dan sekitarnya. Namun, di permukaan tanah, persoalan yang dihadapi warga jauh lebih sederhana: ruang jalan yang lega dan trotoar yang layak untuk dilewati. Selama proses pembangunan berlangsung, sebagian badan jalan sempat difungsikan sebagai lahan kerja sehingga ruang gerak pengguna jalan menyempit. Kini, ketika struktur utama telah berdiri dan kereta mulai berangkat-tiba secara rutin, masyarakat menaruh harapan agar area di bawah jalur gantung tersebut segera ditata ulang.
Trotoar Terputus dan Ruang Lalu Lintas yang Menyempit
Sejumlah titik di sepanjang koridor itu masih menampilkan wajah yang belum ramah bagi pejalan kaki. Trotoar yang ada terputus-putus, sempit, dan pada beberapa bagian justru dipakai untuk parkir kendaraan atau berjualan. Akibatnya, pejalan kaki terpaksa turun ke badan jalan dan berbagi ruang dengan sepeda motor yang melaju cukup cepat. Kondisi ini bertentangan dengan prinsip transportasi berkelanjutan yang selama ini digaungkan, sebab pengalaman perjalanan tidak berhenti ketika penumpang turun dari stasiun, melainkan berlanjut hingga ia tiba di tujuan akhirnya.
Bagi penyandang disabilitas, lansia, dan orang tua yang menggendong anak, trotoar yang tidak tersambung merupakan hambatan nyata. Kursi roda sulit melewati tepian yang tinggi, sementara jalur pejalan kaki yang terputus memaksa mereka berpindah ke jalan raya tanpa perlindungan apa pun. Padahal, stasiun-stasiun di ruas ini dirancang melayani banyak penumpang setiap harinya, dan sebagian besar dari mereka menempuh sisa perjalanan dengan berjalan kaki.
Harapan atas Ruang Publik di Bawah Jalur Gantung
Warga yang tinggal di sekitar koridor tersebut menilai ruang di bawah pilar LRT memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan. Area yang cukup luas itu, menurut mereka, dapat dialihfungsikan menjadi trotoar lebar, jalur sepeda, taman linear dengan penanaman pohon, serta pencahayaan yang memadai agar aman dilalui pada malam hari. Konsep serupa telah diterapkan di sejumlah kota besar di dunia, di mana ruang di bawah viaduk tidak dibiarkan menganggur, melainkan diolah menjadi bagian dari lanskap kota yang hidup.
Aspek keamanan juga menjadi sorotan. Pilar-pilar yang menjulang tanpa penerangan yang merata berpotensi menjadi titik rawan kejahatan. Pencahayaan yang baik, kamera pengawas, dan keberadaan aktivitas warga di ruang publik diyakini mampu menekan potensi kerawanan tersebut. Selain itu, penataan yang tertib akan mengurangi praktik parkir liar yang selama ini memakan ruang jalan dan memicu kemacetan pada jam-jam sibuk.
Penataan Menuntut Koordinasi Lintas Lembaga
Realisasi harapan tersebut tidak sederhana. Ruang di bawah jalur kereta ringan melibatkan pengelolaan oleh lebih dari satu pihak, mulai dari operator transportasi, dinas pekerjaan umum, dinas perhubungan, hingga pemerintah kota administrasi setempat. Penyusunan ulang trotoar, pembuatan jalur sepeda, dan penataan ruang publik menuntut perencanaan terpadu agar tidak saling menimpa dan hasilnya benar-benar termanfaatkan masyarakat.
Prinsip yang kerap dipegang dalam pembangunan transportasi massal adalah bahwa stasiun yang baik adalah stasiun yang mudah dijangkau dengan kaki. Konektivitas antara stasiun dan kawasan sekitarnya menentukan seberapa besar masyarakat mau meninggalkan kendaraan pribadi. Bila akses pejalan kaki dari permukiman menuju stasiun tetap sulit dan tidak nyaman, daya tarik transportasi publik akan berkurang dan target pengurangan kemacetan menjadi lebih sulit tercapai.
Menunggu Wujud Nyata
Bagi warga, ukuran keberhasilan proyek transportasi tidak hanya diukur dari kecepatan kereta atau kecanggihan layanannya, melainkan juga dari pengalaman sehari-hari di bawahnya. Ruang jalan yang tertata, trotoar yang tersambung, pepohonan yang rindang, dan penerangan yang memadai merupakan bentuk nyata bahwa pembangunan memberi manfaat langsung bagi penduduk, bukan hanya bagi mereka yang naik kereta.
Selama area di bawah jalur Velodrome-Manggarai belum berubah, ekspektasi itu akan terus menggantung. Yang warga tunggu bukan janji dalam dokumen perencanaan, melainkan trotoar yang bisa diinjak, jalur sepeda yang aman, dan ruang publik yang menghidupkan kawasan. Pemenuhan harapan sederhana itu menjadi ujian sesungguhnya bagi tata kelola kota: apakah ruang di bawah infrastruktur megah dapat dikembalikan kepada masyarakat yang menunggunya.
}
Comments (0)