Verifikasi: Klaim Prabowo soal Peringkat Membaca Indonesia versi PISA

Berdasarkan verifikasi yang dilakukan tim investigasi Lurusin, beredar klaim bahwa Presiden Prabowo Subianto menyoroti rendahnya peringkat kemampuan membaca Indonesia berdasarkan hasil Programme for I...

Verifikasi: Klaim Prabowo soal Peringkat Membaca Indonesia versi PISA

Berdasarkan verifikasi yang dilakukan tim investigasi Lurusin, beredar klaim bahwa Presiden Prabowo Subianto menyoroti rendahnya peringkat kemampuan membaca Indonesia berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA). Dalam klaim tersebut, pemerintah dinyatakan harus menerima hasil PISA sebagai peringatan untuk melakukan pembenahan guna meningkatkan kemampuan membaca masyarakat. Laporan ini memeriksa kebenaran substansi klaim dengan merujuk pada dokumen resmi dan data primer.

Klaim yang Diperiksa

Klaim bahwa peringkat kemampuan membaca Indonesia versi PISA masih rendah, dan hasil tersebut harus diterima pemerintah sebagai peringatan untuk melakukan pembenahan.

Penelusuran terhadap pernyataan publik Prabowo Subianto menunjukkan isu kualitas pendidikan dan literasi memang berulang kali diangkat dalam forum-forum resmi kepresidenan. Nada pernyataan yang diverifikasi konsisten dengan posisi resmi pemerintah yang menempatkan pembenahan sumber daya manusia sebagai prioritas. Namun, fokus verifikasi laporan ini adalah komponen faktual dari klaim: apakah data PISA benar menunjukkan peringkat membaca Indonesia berada di posisi rendah.

Verifikasi terhadap Data Resmi PISA

Faktanya adalah, berdasarkan laporan resmi OECD bertajuk PISA 2022 Results yang dirilis pada 5 Desember 2023, Indonesia mencatatkan skor membaca sebesar 359 poin. Angka tersebut berada jauh di bawah rata-rata negara OECD yang mencapai 476 poin. Dengan capaian itu, posisi Indonesia berada di sekitar peringkat 69 dari 81 negara dan ekonomi yang berpartisipasi dalam asesmen tersebut.

Bukti kunci pertama: selisih skor membaca Indonesia dengan rata-rata OECD mencapai lebih dari 110 poin, sebuah jarak yang dalam kerangka PISA setara dengan ketertinggalan beberapa tahun pembelajaran. Data menunjukkan pula bahwa lebih dari dua pertiga siswa Indonesia yang mengikuti asesmen belum mencapai Level 2, yakni level kompetensi minimum yang ditetapkan OECD agar individu dapat berfungsi dalam masyarakat modern.

Bukti kunci kedua: tren capaian Indonesia tidak membaik. Pada PISA 2018, skor membaca Indonesia tercatat 371 poin. Dalam rentang empat tahun, terjadi penurunan 12 poin menjadi 359. Sejak pertama kali berpartisipasi pada PISA 2000, Indonesia secara konsisten berada di kelompok sepuluh besar terbawah dalam domain literasi membaca. Temuan ini bertentangan dengan narasi apa pun yang menyatakan peringkat membaca Indonesia sudah membaik secara signifikan.

Kesesuaian Pernyataan dengan Konteks Kebijakan

Verifikasi juga menemukan bahwa seruan untuk menjadikan hasil PISA sebagai peringatan sejalan dengan rekomendasi resmi OECD. Dalam laporan country note untuk Indonesia, OECD merekomendasikan penguatan kualitas pembelajaran literasi sejak dini, pemerataan kualitas antarwilayah, serta peningkatan kapasitas guru. Kementerian Pendidikan sendiri telah menjalankan sejumlah instrumen kebijakan terkait, antara lain Gerakan Literasi Sekolah berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015, Asesmen Nasional sebagai pengganti Ujian Nasional, serta implementasi Kurikulum Merdeka.

Dari sisi anggaran, data menunjukkan alokasi anggaran fungsi pendidikan dalam APBN memenuhi mandat konstitusional 20 persen sebagaimana diatur Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945. Namun, berdasarkan verifikasi terhadap sejumlah kajian anggaran, persoalan yang berulang dicatat lembaga independen bukan pada besarannya, melainkan pada efektivitas belanja dan kesenjangan kualitas antar daerah. Konteks ini memperkuat relevansi pernyataan bahwa hasil PISA perlu dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar statistik tahunan.

Klaim: peringkat membaca Indonesia versi PISA masih rendah. Fakta: skor 359 pada PISA 2022, peringkat sekitar 69 dari 81 peserta, turun 12 poin dari 2018. Klaim sesuai data resmi.

Kesimpulan

Berdasarkan verifikasi terhadap dokumen PISA 2022 Results yang diterbitkan OECD, data historis partisipasi Indonesia sejak PISA 2000, serta dokumen kebijakan resmi pemerintah, klaim bahwa peringkat kemampuan membaca Indonesia versi PISA masih rendah adalah akurat dan didukung bukti primer. Pernyataan bahwa hasil tersebut harus diterima sebagai peringatan untuk pembenahan merupakan respons kebijakan yang konsisten dengan rekomendasi lembaga penerbit asesmen.

Rating: BENAR. Substansi klaim sesuai dengan sumber resmi dan tidak ditemukan distorsi data. Peringatan bagi publik: tetap waspada terhadap turunan narasi yang memanipulasi angka PISA untuk kepentingan tertentu, karena angka yang terverifikasi hanya yang diterbitkan OECD.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User