Verifikasi: Benarkah Macet dan Kelelahan Picu Emosi Pengendara?

Berdasarkan verifikasi tim Lurusin, beredar klaim bahwa pengendara kendaraan bermotor sangat rentan mengalami lonjakan emosi ketika berada di balik kemudi. Klaim ini menguat ke ruang publik menyusul s...

Verifikasi: Benarkah Macet dan Kelelahan Picu Emosi Pengendara?

Berdasarkan verifikasi tim Lurusin, beredar klaim bahwa pengendara kendaraan bermotor sangat rentan mengalami lonjakan emosi ketika berada di balik kemudi. Klaim ini menguat ke ruang publik menyusul sebuah insiden di jalan raya yang menyeret nama seorang perwira menengah kepolisian berpangkat Komisaris Besar, dan memicu pertanyaan mendasar di kalangan masyarakat: mengapa amarah begitu mudah meledak di jalan? Psikolog klinis A. Kasandra Putranto mengidentifikasi empat pemicu utama, yaitu kemacetan lalu lintas, kelelahan fisik, tekanan waktu, serta perilaku pengemudi lain. Lurusin menelusuri klaim tersebut dan membandingkannya dengan literatur ilmiah serta data resmi yang tersedia.

Klaim yang Diperiksa

Klaim: Emosi pengemudi mudah tersulut selama berkendara, dengan pemicu dominan berupa kemacetan, kelelahan, kejaran tenggat waktu, serta aksi pengguna jalan lainnya.

Pernyataan tersebut layak diverifikasi karena dua alasan. Pertama, klaim disampaikan oleh praktisi psikologi yang kerap menjadi rujukan publik. Kedua, klaim ini dipakai untuk membingkai insiden tertentu, sehingga tingkat akurasinya berpengaruh langsung pada kualitas diskursus publik. Verifikasi dilakukan dengan menelusuri jurnal psikologi lalu lintas, laporan lembaga keselamatan jalan internasional, serta data kepolisian.

Hasil Verifikasi terhadap Empat Pemicu

Pemicu pertama: kemacetan. Faktanya adalah kemacetan merupakan stresor kronis yang terdokumentasi luas dalam riset perilaku berkendara. Studi yang dimuat jurnal Accident Analysis and Prevention mengaitkan kepadatan lalu lintas dengan peningkatan frustrasi serta perilaku agresif pengemudi. Secara fisiologis, kondisi terjebak tanpa kendali menaikkan kadar hormon stres kortisol dan adrenalin, yang menurunkan ambang toleransi seseorang terhadap gangguan sekecil apa pun.

Pemicu kedua: kelelahan. Data menunjukkan kelelahan menggerus kinerja korteks prefrontal, bagian otak yang bertugas menahan impuls. National Highway Traffic Safety Administration Amerika Serikat mencatat kantuk dan kelelahan sebagai faktor yang memperburuk pengambilan keputusan sekaligus kontrol emosi pengemudi. Pengemudi yang kelelahan lebih cepat menafsirkan kejadian netral sebagai provokasi.

Pemicu ketiga: tekanan waktu. Literatur psikologi mengenal istilah time urgency, yakni kondisi ketika seseorang merasa dikejar tenggat sehingga memandang setiap hambatan sebagai ancaman. Riset perilaku berkendara menemukan pengemudi yang terburu-buru lebih sering membunyikan klakson, memotong lajur, dan terlibat konfrontasi verbal dengan pengguna jalan lain.

Pemicu keempat: perilaku pengemudi lain. Psikolog Leon James dari University of Hawaii, yang puluhan tahun meneliti fenomena road rage, menjelaskan bahwa kabin kendaraan menciptakan ilusi teritorial sekaligus anonimitas. Pengemudi cenderung memandang kendaraannya sebagai wilayah pribadi, sehingga manuver orang lain ditafsirkan sebagai pelanggaran personal, bukan sekadar kesalahan teknis. Anonimitas di balik kaca mobil ikut menurunkan hambatan sosial untuk meluapkan amarah.

Bukti Statistik dan Data Resmi

Survei AAA Foundation for Traffic Safety tahun 2016 terhadap ribuan pengemudi di Amerika Serikat menemukan hampir 80 persen responden mengaku pernah mengekspresikan amarah, agresi, atau perilaku road rage setidaknya satu kali dalam setahun terakhir. Temuan ini menegaskan bahwa ledakan emosi di jalan bukan fenomena individual yang kebetulan, melainkan pola perilaku massal yang dapat dijelaskan dan diprediksi secara ilmiah.

Di dalam negeri, data Korlantas Polri secara konsisten menempatkan faktor manusia sebagai penyebab dominan kecelakaan lalu lintas, jauh melampaui faktor kendaraan maupun kondisi jalan. Perilaku agresif, termasuk mengemudi dalam kondisi emosional, masuk dalam kategori faktor manusia tersebut. Bukti ini bertentangan dengan anggapan bahwa emosi di jalan hanyalah persoalan sepele yang bisa diabaikan.

Kesimpulan

Rating: BENAR. Klaim bahwa pengendara rentan mengalami ledakan emosi saat berkendara, dengan pemicu utama berupa kemacetan, kelelahan, tekanan waktu, dan perilaku pengemudi lain, didukung literatur ilmiah, riset lembaga keselamatan jalan internasional, serta data kepolisian. Keempat pemicu tersebut selaras dengan temuan psikologi lalu lintas mengenai stres, penurunan kontrol impuls, time urgency, serta efek teritorialitas dan anonimitas di dalam kendaraan.

Catatan verifikasi: penjelasan psikologis bersifat menjelaskan, bukan membenarkan. Data menunjukkan emosi di jalan dapat dipahami akar penyebabnya, tetapi setiap pengemudi, termasuk aparat penegak hukum, tetap memikul tanggung jawab penuh atas tindakannya di ruang publik. Pemahaman terhadap pemicu semestinya menjadi dasar mitigasi dan pencegahan, bukan dalih pemakluman atas perilaku agresif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User