Oct 07, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Upaya Putus Rantai Perundungan di Yogyakarta

Perundungan di lingkungan sekolah masih menjadi salah satu tantangan yang terus menghantui dunia pendidikan di Yogyakarta. Fenomena ini bukanlah hal yang terjadi secara sesekali, melainkan sebuah perm...

Upaya Putus Rantai Perundungan di Yogyakarta

Perundungan di lingkungan sekolah masih menjadi salah satu tantangan yang terus menghantui dunia pendidikan di Yogyakarta. Fenomena ini bukanlah hal yang terjadi secara sesekali, melainkan sebuah permasalahan yang kerap berulang dari generasi ke generasi. Hal tersebut membuat berbagai pihak perlu untuk tidak hanya menanggapi kasus yang terjadi, namun juga mencari solusi jangka panjang untuk memutus siklus yang terus berputar tersebut.

Mengurai Rantai yang Terus Berulang

Salah satu aspek yang membuat perundungan sulit untuk diberantas adalah adanya siklus yang terpelihara dari waktu ke waktu. Perilaku agresif yang pernah dialami oleh seseorang dapat berpotensi ditiru dan diteruskan kepada orang lain ketika tidak ada upaya pemulihan maupun pembelajaran yang tepat. Kondisi ini kerap membuat korban dapat menjadi pelaku di kemudian hari, ataupun pelaku yang tidak mendapatkan pembelajaran justru mengulangi perbuatannya di lingkungan yang berbeda. Di Yogyakarta, kesadaran akan siklus ini menjadi landasan bagi upaya pencegahan yang tidak hanya berfokus pada pemberian hukuman, namun juga kepada proses perbaikan perilaku secara menyeluruh.

Selain itu, lingkungan sosial di sekolah turut berperan dalam menjaga ataupun memperkuat perilaku tersebut. Tekanan kelompok, budaya diam dari saksi, maupun kurangnya ruang aman untuk melapor dapat menjadi faktor yang memperpanjang rantai perundungan. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah sistem yang mampu melibatkan seluruh elemen sekolah agar tidak ada satupun pihak yang merasa terbebani untuk bersuara ataupun bertindak.

Memanfaatkan Kearifan Lokal Sebagai Solusi

Dalam upaya memutus siklus tersebut, pendekatan berbasis kearifan lokal menjadi salah satu strategi yang diutamakan. Nilai-nilai yang telah hidup di masyarakat Yogyakarta dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan empati dan tanggung jawab di kalangan peserta didik. Nilai seperti tepa selira, yang mengajarkan untuk menempatkan diri sesuai dengan keadaan orang lain, menjadi bekal penting untuk menumbuhkan kesadaran akan dampak dari setiap tindakan yang dilakukan. Begitu pula dengan semangat gotong royong yang kerap dijunjung tinggi, dapat diarahkan untuk membangun lingkungan sekolah yang saling menjaga satu sama lain.

Pendekatan ini tidak dilakukan secara terpisah dari pembelajaran, namun diintegrasikan kedalam kegiatan sekolah. Melalui dialog, cerita rakyat, maupun pembiasaan nilai dalam keseharian, peserta didik dapat memahami pentingnya menjaga keharmonisan tanpa harus melalui tekanan. Dengan begitu, pemahaman mengenai etika sosial tidak hanya bersifat teoritis, namun juga dapat diterapkan langsung kedalam interaksi mereka setiap hari.

Sanksi Edukatif Sebagai Bentuk Pembelajaran

Tak hanya melalui pendekatan nilai, upaya lain yang turut diterapkan adalah pemberian sanksi yang bersifat edukatif. Berbeda dengan sanksi yang hanya bertujuan untuk menghukum, sanksi edukatif berfokus kepada pembelajaran agar pelaku dapat menyadari kesalahannya serta memperbaiki perilakunya ke depannya. Proses ini menekankan pada pemulihan, bukan sekedar pembalasan, sehingga korban, pelaku, maupun lingkungan sekolah dapat bergerak menuju keadaan yang lebih baik.

Beberapa bentuk dari sanksi edukatif yang dapat diterapkan antara lain adalah refleksi diri, permintaan maaf yang bermakna, tugas pelayanan di lingkungan sekolah, hingga pendampingan oleh guru atau konselor. Melalui tahapan tersebut, pelaku diajak untuk melihat langsung dampak dari tindakannya, sekaligus diberikan ruang untuk memperbaikinya. Hal ini dinilai dapat memberikan efek jera yang berlandaskan pemahaman, alih-alih rasa takut semata.

Peran Bersama untuk Keberlanjutan

Keberhasilan dari seluruh upaya ini sangat bergantung kepada kolaborasi yang kuat antar seluruh elemen pendidikan. Guru, tenaga kependidikan, orang tua, peserta didik, serta lingkungan masyarakat perlu bersinergi untuk menciptakan sistem pencegahan yang berkelanjutan. Keberadaan jalur pelaporan yang aman dan responsif juga menjadi kunci, agar setiap laporan dapat ditindaklanjuti secara cepat, adil dan humanis.

Tak kalah penting, pemantauan pasca penanganan juga perlu dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa proses perbaikan yang telah dijalani oleh pelaku dapat terus berjalan, serta korban mendapatkan dukungan yang dibutuhkan untuk pulih. Dengan adanya tindak lanjut yang berkesinambungan, peluang untuk terulangnya kasus dapat diminimalisir secara signifikan.

Menuju Sekolah yang Aman dan Sehat

Memutus rantai reproduksi perundungan merupakan sebuah proses yang tidak instan. Namun, melalui kombinasi antara kearifan lokal yang mengakar kuat, sanksi edukatif yang berorientasi pada pemulihan, serta kolaborasi dari berbagai pihak, langkah tersebut dapat terus diperkuat dari tahun ke tahun. Investasi terbesar yang dapat dilakukan adalah membentuk generasi yang terbiasa untuk menjaga satu sama lain, sehingga budaya perundungan tidak lagi memiliki ruang untuk tumbuh di lingkungan sekolah Yogyakarta. Dengan begitu, harapan akan ruang belajar yang aman, sehat dan nyaman dapat semakin dekat untuk diwujudkan bagi seluruh peserta didik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User