Oct 05, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Tren Beta Mom di TikTok dan Pergeseran Wacana Pengasuhan

Perdebatan mengenai cara terbaik untuk membesarkan anak kembali mencuat di ruang digital Indonesia. Kali ini, wacana tersebut berpusat pada kemunculan istilah Beta Mom yang kian populer di platform be...

Tren Beta Mom di TikTok dan Pergeseran Wacana Pengasuhan

Perdebatan mengenai cara terbaik untuk membesarkan anak kembali mencuat di ruang digital Indonesia. Kali ini, wacana tersebut berpusat pada kemunculan istilah Beta Mom yang kian populer di platform berbagi video, TikTok. Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap gaya pengasuhan yang selama beberapa tahun terakhir dianggap terlalu kaku, menuntut, dan berorientasi pada prestasi. Pergeseran ini tidak hanya memicu diskusi antarorang tua, tetapi juga memperlihatkan bagaimana media sosial turut membentuk ulang pandangan masyarakat terhadap peran orang tua di era modern.

Latar Belakang Pergeseran Gaya Pengasuhan

Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai istilah terkait pola asuh telah menjadi bagian dari percakapan publik. Dua di antaranya yang paling sering disebut adalah Tiger Mom dan Helicopter Parent. Gaya pertama kerap dikaitkan dengan pendekatan tegas, penekanan pada disiplin, serta ekspektasi tinggi terhadap pencapaian akademik anak. Sementara itu, Helicopter Parent merujuk pada kecenderungan orang tua untuk terlibat secara berlebihan dalam setiap aspek kehidupan anak, mulai dari urusan sekolah hingga interaksi sosial, dengan tujuan melindungi anak dari kegagalan atau kekecewaan.

Kedua gaya ini, meski lahir dari niat menjaga masa depan anak, kerap menuai kritik karena dianggap dapat menimbulkan tekanan psikologis. Tekanan untuk selalu berprestasi, minimnya ruang untuk bermain tanpa tujuan, serta kurangnya kemandirian menjadi sejumlah catatan yang kerap dilontarkan oleh praktisi pendidikan dan psikologi perkembangan. Kritik tersebut lambat laun merembes ke ruang digital, tempat para orang tua saling berbagi pengalaman, kelelahan, maupun keresahan mereka terkait tuntutan pengasuhan yang dirasa tidak berimbang.

Apa yang Dimaksud dengan Beta Mom?

Berbeda dari pendekatan yang menonjolkan kontrol ketat, Beta Mom muncul sebagai istilah yang merujuk pada gaya pengasuhan yang lebih santai, fleksibel, dan berfokus pada kenyamanan emosional anak. Konsep ini menempatkan relasi yang hangat, komunikasi terbuka, serta penerimaan terhadap kondisi anak sebagai prioritas. Alih-alih memaksakan jadwal yang padat dengan berbagai les atau aktivitas prestasi, para pendukungnya lebih memilih memberikan ruang bagi anak untuk bermain, beristirahat, dan mengeksplorasi minat secara alami.

Pendekatan ini juga menekankan pentingnya menyesuaikan ekspektasi orang tua dengan kebutuhan perkembangan anak. Bukan berarti mengabaikan batasan atau tanggung jawab, melainkan menyeimbangkan kedisiplinan dengan empati. Dalam banyak unggahan di TikTok, narasi yang dibagikan adalah keinginan untuk menciptakan rumah yang menjadi tempat aman bagi anak, bukan semata tempat untuk membentuk anak agar memenuhi standar keberhasilan tertentu. Hal ini yang membuat istilah Beta Mom resonan di kalangan orang tua yang merasa lelah dengan tekanan pengasuhan konvensional.

Faktor yang Mendorong Popularitasnya

Kemunculan tren ini tidak terlepas dari konteks zaman. Pertama, meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental menjadi salah satu pendorong utama. Diskusi mengenai burnout pada anak, kecemasan akademik, hingga dampak tekanan jangka panjang kian marak dibicarakan, sehingga mendorong pencarian alternatif pola asuh yang lebih ramah emosi. Kedua, TikTok sebagai platform berbasis video pendek memungkinkan penyebaran narasi secara cepat dan relatable. Pengalaman pribadi yang dibagikan secara autentik cenderung lebih mudah diterima dibandingkan paparan teori yang panjang.

Selain itu, perubahan struktur sosial turut berperan. Banyak keluarga saat ini memiliki akses lebih luas terhadap informasi perkembangan anak, beragam perspektif parenting, serta ruang untuk mempertanyakan praktik yang diwariskan secara turun-temurun. Di tengah arus informasi tersebut, Beta Mom hadir sebagai bentuk penegasan bahwa ada lebih dari satu cara sah untuk membesarkan anak dengan baik. Popularitasnya juga mencerminkan keinginan kolektif untuk melepaskan beban perfeksionisme dalam peran orang tua.

Dampak dan Tantangan di Masyarakat

Tren ini membawa sejumlah dampak positif. Diskusi terbuka mengenai batasan sehat, pentingnya istirahat, serta validasi atas kelelahan orang tua menjadi angin segar dalam wacana pengasuhan. Banyak orang tua merasa diizinkan untuk memilih pendekatan yang sesuai dengan nilai dan kapasitas keluarga mereka tanpa harus merasa bersalah. Hal ini berpotensi menciptakan lingkungan pengasuhan yang lebih suportif, baik bagi anak maupun orang tua itu sendiri.

Namun, di sisi lain, penyederhanaan istilah ke dalam label seperti Beta Mom juga memiliki tantangan. Narasi yang beredar di media sosial kerap direduksi menjadi dikotomi hitam-putih, seolah-olah orang tua harus memilih antara menjadi 'ketat' atau 'santai' secara mutlak. Padangan semacam ini dapat mengaburkan realitas bahwa pengasuhan yang efektif umumnya bersifat kontekstual. Setiap anak, keluarga, dan kondisi sosial berbeda, sehingga pendekatan ideal cenderung berada pada spektrum yang dinamis, bukan pada kutub yang berlawanan. Selain itu, risiko membentuk tekanan baru juga muncul apabila gaya tertentu kemudian dianggap sebagai standar yang wajib diikuti.

Menuju Pendekatan yang Lebih Seimbang

Fenomena Beta Mom sebaiknya dilihat sebagai bagian dari evolusi wacana, bukan sebagai pengganti mutlak atas gaya sebelumnya. Kritik terhadap pola asuh yang terlalu menuntut berkontribusi pada pergeseran menuju kesadaran bahwa kesejahteraan emosional perlu disejajarkan dengan pencapaian. Namun, penerapan praktisnya membutuhkan keseimbangan. Menetapkan batasan yang jelas, menanamkan tanggung jawab, serta membangun kelekatan yang aman bukanlah hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan.

Yang terpenting adalah membebaskan ruang bagi keragaman praktik pengasuhan. Alih-alih terjebak dalam perang label, diskusi yang lebih produktif adalah membahas strategi konkret yang mempertimbangkan kebutuhan unik setiap keluarga. Dengan demikian, pergeseran yang kini terjadi berpotensi melahirkan pendekatan pengasuhan yang tidak hanya lebih manusiawi, tetapi juga lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User