Sebanyak 170 pendaki yang terjebak di kawasan Gunung Semeru, Jawa Timur, berhasil dievakuasi oleh tim Search and Rescue gabungan pada Minggu (15/12/2024). Proses evakuasi melibatkan dua regu SAR yang bekerja sama mengatasi medan berbahaya dan kabut tebal di kawasan tersebut.
Medan Ekstrem di Sektor Ranu Kembang
Operasi evakuasi menghadapi tantangan besar di Blok Ranu Kembang, salah satu titik paling ekstrem di lereng Gunung Semeru. Kemiringan tanah yang sangat curam menjadi hambatan utama bagi tim救援. Para petugas harus menggunakan tali pengaman dan teknik mountaineering untuk mengakses posisi pendaki yang tersebar di berbagai ketinggian.
Kawasan tersebut diketahui memiliki kontur berbatu dengan jalur pendakian yang rusak akibat erosi dan material vulkanik. Kondisi ini diperparah oleh sisa-sisa letusan yang mengubah struktur tanah menjadi lebih rapuh dan licin saat dilalui.
Koordinasi Tim SAR Gabungan
Kedua regu SAR membagi tanggung jawab berdasarkan sektor operasi. Tim pertama bergerak dari arah utara menyusuri jalur utama, sementara tim kedua Approach dari sisi barat melalui jalur alternatif. Komunikasi radio menjadi alat utama koordinasi mengingat sinyal telepon seluler tidak menjangkau seluruh area operasional.
Komandan operasi menekankan prioritas keselamatan pendaki terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan kondisi cuaca. Berdasarkan dataBMKG, kecepatan angin di puncak mencapai 40 kilometer per jam dengan suhu turun hingga 5 derajat Celsius pada malam hari.
Kronologi Evakuasi dan Kondisi Pendaki
Proses evakuasi dimulai sejak pagi hari setelah tim SAR menerima laporan tentang keberadaan kelompok besar pendaki yang tidak dapat kembali turun karena jalur tertutup. Sebagian besar pendaki mengalami hipotermia ringan dan kelelahan akibat paparan dingin selama berjam-jam.
Tim medis yang bergabung dalam tim SAR memberikan pertolongan pertama di pos-pos evakuasi sementara sebelum membawa pendaki ke titik kumpul di kawasan Ranu Kumbolo. Dari 170 orang yang berhasil diamankan, 12 di antaranya memerlukan perawatan intensif karena mengalami dehidrasi dan cedera ringan akibat terjatuh di medan curam.
Seluruh pendaki kemudian diturunkan menggunakan kendaraan operasional menuju Desa Oro-Oro Ombo untuk menjalani pemeriksaan kesehatan lanjutan. Pihak berwajib setempat membuka jalur evakuasi darurat agar proses penurunan dapat berjalan lebih cepat mengingat prediksi cuaca buruk akan segera melanda kawasan tersebut.
Peringatan untuk Pendaki
Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat mengingatkan bahwa pendakian Gunung Semeru masih ditutup untuk umum hingga batas waktu yang belum ditentukan. Status aktivitas vulkanik yang masih fluktuatif menjadi pertimbangan utama penetapan larangan tersebut.
Bagi masyarakat yang tetap nekat mendaki, sanksi administratif berupa larangan masuk kawasan konservasi selama dua tahun dapat diterapkan. Pemerintah daerah juga menyiapkan pos-pos keamanan di setiap akses masuk jalur pendakian untuk mengantisipasi pelanggaran.
Kejadian evakuasi ini menjadi pengingat bagi seluruh pendaki untuk selalu mematuhi regulasi yang berlaku serta mempersiapkan diri dengan peralatan keselamatan yang memadai sebelum melakukan pendakian di kawasan aktif secara vulkanik.
Comments (0)