Telkomsel Rogoh Rp545 M untuk Frekuensi 5G, Perusahaan Ganti Karyawan AI Boncos
Jakarta — Dua wajah transformasi digital Indonesia terlihat kontras dalam sepekan ini. Di satu sisi, Telkomsel merogoh kocek dalam-dalam demi memenangkan l
Jakarta — Dua wajah transformasi digital Indonesia terlihat kontras dalam sepekan ini. Di satu sisi, Telkomsel merogoh kocek dalam-dalam demi memenangkan lelang frekuensi 2,6 GHz senilai Rp545,8 miliar untuk mendukung layanan 5G. Sementara itu, sejumlah perusahaan yang sebelumnya ramai-ramai memecat karyawan demi digantikan kecerdasan buatan (AI) justru mengalami guncangan finansial: biaya operasional mereka melonjak, keuntungan tergerus, dan janji efisiensi berubah jadi utang.
Ironi ini menyiratkan bahwa modernisasi—entah lewat infrastruktur mutakhir atau otomatisasi tenaga kerja—tidak selalu memberikan hasil instan. Terkadang, yang terjadi malah sebaliknya.
Lelang Frekuensi 2,6 GHz: Taruhan Telkomsel untuk Masa Depan 5G
Telkomsel, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, resmi menjadi pemenang dalam lelang blok pita frekuensi 2,6 GHz yang digelar pemerintah. Dengan penawaran mencapai Rp545,8 miliar, operator seluler terbesar di Tanah Air ini berhasil mengamankan spektrum yang dinilai krusial bagi pengembangan jaringan 5G di perkotaan dan kawasan industri.
"Ini adalah langkah strategis. Frekuensi 2,6 GHz memiliki kapasitas lebar dan latensi rendah, ideal untuk mendukung layanan 5G ultra-cepat serta aplikasi Internet of Things (IoT) yang akan menjadi tulang punggung ekonomi digital," ujar seorang Direktur Telkomsel yang enggan disebutkan namanya, dalam keterangan tertulis, Kamis (3/4).
Menurut catatan Lurusin.com, lelang ini merupakan bagian dari agenda besar pemerintah memperluas akses 5G ke lebih dari 300 kota pada tahun 2027. Frekuensi ini juga akan digunakan untuk menggelar fixed wireless access (FWA) di wilayah yang sulit dijangkau kabel fiber optik. Meski begitu, angka hampir setengah triliun rupiah itu tetap membuat sejumlah analis mengernyitkan dahi, mengingat return of investment (ROI) dari teknologi generasi kelima ini masih belum terukur jelas di Indonesia.
Tambahan spektrum ini melengkapi portofolio Telkomsel yang sudah mengantongi pita 2,3 GHz serta 3,5 GHz dari lelang sebelumnya. Dengan begitu, Telkomsel makin leluasa membangun ekosistem 5G yang solid. Namun, beban investasi jumbo ini akan menjadi ujian bagi neraca keuangan perusahaan dalam jangka pendek.
Ketika AI Gagal Jadi Solusi Penghematan
Di belahan lain dunia korporasi, fenomena pemecatan massal yang diikuti penerapan AI sebagai pengganti tenaga manusia justru menimbulkan kisah pilu. Seorang pemilik perusahaan teknologi di Jakarta—sebut saja Andi—bercerita kepada awak media bagaimana keputusannya mengganti 40 staf administrasi dengan sistem AI berakhir dengan "kantong boncos".
"Saya pikir dengan AI biaya operasional bakal anjlok. Nyatanya, langganan layanan AI enterprise, biaya pelatihan, dan pemeliharaan sistem jauh lebih mahal dari gaji karyawan yang saya PHK. Belum lagi produktivitas tim yang tersisa malah turun karena harus beradaptasi dengan workflow baru," keluhnya.
Kasus Andi bukanlah satu-satunya. Sebuah survei internal dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang bocor ke media menunjukkan bahwa dari 120 perusahaan yang menerapkan AI untuk menggantikan fungsi manusia pada 2025, sebanyak 62% melaporkan kenaikan biaya operasional pada triwulan pertama penerapan. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh kebutuhan komputasi cloud yang tinggi, lisensi perangkat lunak, serta tenaga ahli AI yang langka dan mahal.
Ironisnya, banyak pelaku usaha terlena oleh narasi "AI murah meriah" yang digembar-gemborkan vendor teknologi. Mereka abai terhadap biaya tersembunyi seperti training data preparation, integrasi sistem, hingga audit kepatuhan regulasi yang bisa membengkak hingga tiga kali lipat dari estimasi awal.
Dua Sisi Mata Uang Transformasi Digital
Fenomena ini seakan menjadi peringatan bahwa adopsi teknologi bukan sekadar perkara pengadaan, melainkan juga perencanaan matang. Telkomsel, dengan kekuatan modalnya, mungkin masih bisa menahan guncangan dari belanja frekuensi mahal karena memiliki basis pelanggan hingga 150 juta lebih yang siap memonetisasi 5G lewat layanan premium. Sementara itu, perusahaan yang asal-asalan dalam menjalankan otomatisasi tanpa studi kelayakan justru terperosok.
Pakar transformasi digital dari Universitas Indonesia, Dr. Rizal Firmansyah, menekankan bahwa teknologi bukanlah tombol ajaib.
"Setiap investasi teknologi, baik itu spektrum 5G maupun AI, harus melalui analisis total cost of ownership yang jujur. Jika motivasinya hanya memotong biaya gaji tanpa mempertimbangkan biaya jangka panjang dari sistem, yang terjadi adalah bencana seperti yang kita lihat sekarang," jelasnya kepada Lurusin.com.
Ia menambahkan, kunci sukses adalah menjadikan teknologi sebagai pelengkap tenaga kerja manusia, bukan pengganti total. Pendekatan hibrida di mana AI menangani tugas repetitif sementara manusia fokus pada pengambilan keputusan dan inovasi, justru terbukti lebih efisien di banyak studi kasus global.
Kedua cerita ini bak dua sisi mata uang yang sama: transformasi digital membutuhkan keberanian investasi, namun keberanian itu harus dibarengi kalkulasi cermat. Tanpa itu, alih-alih jadi pemenang, perusahaan justru terpuruk diterpa ilusi teknologi.
[SOCIAL_TWEET]: Telkomsel tebar setengah triliun demi 5G, sementara perusahaan lain gigit jari karena AI bikin kantong bolong. Transformasi digital itu pedang bermata dua! #5GIndonesia #AIboncos #Telkomsel #TransformasiDigital [SOCIAL_TG]: 📡 Telkomsel: Rp545 M buat 5G. 🤖 Perusahaan AI: Kantong jebol! Dua cerita soal biaya teknologi yang bikin geleng-geleng.
Comments (0)