Banda Aceh — Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati, Aceh. Seorang taruna tingkat pertama bernama Muhammad Rasya Fadhillah (18) dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti rangkaian kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek). Peristiwa yang menimpa pemuda berusia 18 tahun itu tidak hanya menyisakan kesedihan, tetapi juga memicu kecurigaan mendalam dari pihak keluarga yang menduga ada unsur kekerasan dalam proses kegiatan tersebut.
Kabar duka ini pertama kali mencuat ke publik setelah keluarga korban menyampaikan keberatan atas penyebab kematian yang dianggap tidak wajar. Muhammad Rasya Fadhillah dikenal sebagai sosok muda yang bersemangat menempuh pendidikan maritim di salah satu sekolah kedinasan favorit di Aceh. Namun, harapan karier di dunia pelayaran itu harus pupus di tengah jalan sebelum masa pendidikan dasar selesai.
Keluarga Menolak Penjelasan Resmi
Pihak keluarga mengaku tidak puas dengan penjelasan awal yang diberikan pihak kampus. Mereka menduga kuat bahwa anak mereka menjadi korban kekerasan fisik dari senior atau panitia ospek. Kecurigaan ini muncul karena kondisi tubuh korban saat ditemukan dinilai tidak sesuai dengan narasi kelelahan biasa yang disampaikan pihak penyelenggara.
"Kami melihat ada kejanggalan pada tubuh anak kami. Kami tidak percaya ini murni karena kelelahan. Kami minta penyelidikan transparan dan siapa pun yang bertanggung jawab harus diusut tuntas," ujar perwakilan keluarga korban dengan nada penuh emosi.
Tuntutan keluarga tersebut menjadi sorotan publik, terutama di kalangan pengguna media sosial yang menyoroti praktik ospek di sekolah kedinasan. Selama ini, kegiatan orientasi di institusi seperti Poltekpel memang dikenal dengan disiplin tinggi, namun sering kali diwarnai metode perpeloncoan yang berbatasan dengan kekerasan fisik maupun mental.
Praktik Ospek di Sekolah Kedinasan Kembali Disorot
Kematian Muhammad Rasya Fadhillah menambah daftar panjang insiden serupa di lingkungan pendidikan vokasi dan kedinasan Tanah Air. Sejumlah pengamat pendidikan menilai bahwa budaya senioritas dan kekerasan dalam ospek masih menjadi persoalan sistemik yang belum terselesaikan. Meskipun banyak kampus telah melarang perpeloncoan, implementasi aturan di lapangan sering kali tidak berjalan ketat.
Beberapa poin kritis yang perlu menjadi perhatian bersama antara lain:
- Pengawasan kegiatan ospek dinilai lemah dan sering diserahkan sepenuhnya kepada senior tanpa pendampingan dosen.
- Budaya senioritas di sekolah kedinasan masih kental dan kerap dianggap bagian dari tradisi yang tidak boleh dibantah.
- Mekanisme pelaporan bagi taruna baru yang mengalami kekerasan belum berjalan efektif karena rasa takut dan tekanan psikologis.
- Transparansi penanganan kasus menjadi kunci untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Poltekpel Malahayati belum memberikan keterangan resmi yang terperinci mengenai kronologi kejadian maupun hasil pemeriksaan awal. Aparat kepolisian diharapkan segera turun tangan untuk mengusut tuntas penyebab kematian korban, termasuk kemungkinan dilakukannya otopsi guna memastikan ada tidaknya tanda-tanda kekerasan.
Desakan Penyelidikan Transparan
Berbagai elemen mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil di Aceh mendorong agar kasus ini ditangani secara terbuka. Mereka menekankan bahwa nyawa seorang taruna tidak boleh hanya menjadi statistik dalam tradisi ospek yang usang. Kampus diminta mengevaluasi total seluruh rangkaian kegiatan orientasi agar tidak ada lagi korban berikutnya.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa pendidikan seharusnya menjadi ruang aman untuk tumbuh dan belajar, bukan arena yang menakutkan bagi siswa baru. Keluarga Muhammad Rasya Fadhillah berharap keadilan ditegakkan dan kematian anak mereka tidak berlalu tanpa pertanggungjawaban.
Comments (0)