Aug 28, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Sulit Melupakan Orang yang Menyakiti Kita, Ini yang Perlu Dilakukan

Hampir setiap orang pernah mengalami perasaan terluka oleh seseorang yang dekat. Bisa berupa pasangan yang memilih pergi, rekan kerja yang merusak kepercayaan, teman yang mengecewakan, saudara yang be...

Sulit Melupakan Orang yang Menyakiti Kita, Ini yang Perlu Dilakukan

Hampir setiap orang pernah mengalami perasaan terluka oleh seseorang yang dekat. Bisa berupa pasangan yang memilih pergi, rekan kerja yang merusak kepercayaan, teman yang mengecewakan, saudara yang bertengkar, atau orang terkasih yang sudah tiada namun meninggalkan luka yang belum sembuh. Keinginan untuk bersikap cuek dan melanjutkan hidup kerap kali kandas, sebab pikiran tetap saja melayang kembali ke peristiwa itu. Kenangan muncul tiba-tiba di tengah aktivitas, mengganggu tidur, atau menghampiri saat suasana sedang tenang. Mengapa otak kita begitu gigih menyimpan ingatan menyakitkan, dan apa yang bisa dilakukan untuk meredakannya?

Mekanisme Otak di Balik Ingatan yang Menyakitkan

Berdasarkan penelitian di bidang psikologi kognitif, otak manusia cenderung memberi perhatian lebih besar pada peristiwa negatif dibanding peristiwa positif. Kecenderungan ini dikenal sebagai bias negativitas. Pada masa lalu, kemampuan mengingat ancaman menjadi alat bertahan hidup: siapa yang mengingat bahaya akan lebih selamat. Namun di era modern, mekanisme yang sama justru membuat kita tersandera oleh ingatan tentang orang yang pernah menyakiti kita.

Emosi yang kuat juga mempercepat proses penyimpanan memori. Amygdala, pusat pemrosesan emosi di otak, bekerja sama dengan hippocampus untuk merekam peristiwa. Semakin pekat muatan emosional suatu kejadian, semakin tajam pula detail yang terekam. Karena itu, kita bisa mengingat kalimat demi kalimat yang diucapkan seseorang bertahun-tahun lalu, lengkap dengan suasana, aroma, bahkan suara di sekitarnya.

Kebiasaan memikirkan ulang peristiwa yang menyakitkan, atau rumination, memperparah keadaan. Setiap kali kita mengulang ingatan, koneksi saraf yang terkait ikut menguat. Alhasil, rasa sakit terasa hadir kembali seolah peristiwa itu baru terjadi kemarin. Lingkaran inilah yang membuat banyak orang merasa tidak kunjung bisa melupakan.

Mengingat Tidak Sama dengan Terjebak

Langkah pertama yang penting adalah membedakan antara mengingat dan terjebak. Mengingat adalah proses alami yang tak bisa dihapus sepenuhnya. Terjebak terjadi ketika ingatan mulai mengendalikan emosi dan perilaku sehari-hari. Cirinya antara lain sulit memercayai orang baru, mudah tersinggung oleh hal kecil, atau terus menerus mencari pembenaran atas perlakuan yang diterima di masa lalu.

Para psikolog menekankan bahwa tujuan penanganan luka batin bukanlah melupakan total, melainkan meredam kekuatan emosi yang menempel pada memori. Dengan begitu, ingatan boleh tetap ada, tetapi tidak lagi mengendalikan langkah kita. Ketika makna sebuah peristiwa berubah, beban emosionalnya ikut menyusut. Penerimaan menjadi kuncinya: mengakui bahwa peristiwa itu benar terjadi dan tidak mungkin diulang, tanpa harus membenarkan tindakan orang yang bersalah.

Langkah Praktis Meredakan Beban Masa Lalu

Ada beberapa langkah yang bisa dicoba. Pertama, menulis jurnal. Menuangkan emosi ke dalam tulisan membantu otak menyusun pikiran yang selama ini berputar tanpa arah. Kedua, membatasi waktu untuk merenung. Menyisihkan sejumlah menit tertentu setiap hari untuk memikirkan hal itu, lalu di luar waktu tersebut berusaha mengalihkan fokus ke aktivitas lain, terbukti membantu memutus kebiasaan berpikir berulang.

Ketiga, membangun batasan yang sehat. Jika orang yang menyakiti kita masih berada dalam lingkaran kehidupan, menetapkan jarak fisik maupun emosional adalah keputusan yang wajar, bukan tindakan pengecut. Keempat, melatih rasa syukur. Mencatat hal-hal baik setiap hari membantu otak menyeimbangkan perhatian yang selama ini didominasi peristiwa negatif.

Soal memaafkan, perlu dipahami bahwa memaafkan tidak selalu berarti berdamai kembali. Memaafkan dapat menjadi keputusan internal untuk melepas beban dendam, terlepas dari apakah hubungan dipulihkan atau tidak. Bagi banyak orang, proses ini bahkan bisa dimulai tanpa menunggu permintaan maaf dari pihak yang bersalah.

Apabila rasa sakit sudah mengganggu kualitas hidup, seperti sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau menarik diri dari lingkungan, konsultasi dengan psikolog atau psikiater sangat dianjurkan. Pendekatan seperti terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi EMDR terbukti membantu banyak orang mengurangi intensitas memori yang mengganggu.

Luka Boleh Ada, tetapi Tidak Perlu Menjadi Penjara

Kesulitan melupakan orang yang menyakiti kita adalah pengalaman yang sangat umum, bukan tanda kelemahan. Otak kita memang dirancang untuk mengingat hal-hal yang menyakitkan demi melindungi diri. Perbedaan antara orang yang berhasil bangkit dan yang tidak justru terletak pada cara menyikapi ingatan tersebut, bukan pada ada atau tidaknya ingatan itu sendiri.

Melalui penerimaan, batasan yang sehat, kebiasaan baru, dan bila perlu pendampingan profesional, setiap orang dapat memperkecil kendali masa lalu atas kehidupannya. Orang yang pernah melukai kita boleh tetap hadir dalam ingatan, tetapi tidak seharusnya menjadi penjara yang menghalangi langkah kita ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User