Sugiyanto dan Senyap Industri Koran di Yogyakarta

Di sudut kota Yogyakarta, seorang pria paruh baya duduk di balik tumpukan koran yang mulai menguning. Namanya Sugiyanto, seorang penjual koran keliling yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade hid...

Sugiyanto dan Senyap Industri Koran di Yogyakarta

Di sudut kota Yogyakarta, seorang pria paruh baya duduk di balik tumpukan koran yang mulai menguning. Namanya Sugiyanto, seorang penjual koran keliling yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya pada industri media cetak. Klaim yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa dahulu penghasilan dari berjualan koran mampu menghidupi dan menyekolahkan tiga anaknya hingga sukses. Kini, Sugiyanto hanya bisa pasrah menerima kenyataan bahwa pendapatannya jauh menurun, meski ia tetap bersyukur karena masih bisa menyambung hidup.

Verifikasi Klaim Kejayaan Masa Lalu

Berdasarkan verifikasi dari wawancara langsung dengan Sugiyanto di kawasan Malioboro, Yogyakarta, pada Selasa (12/11/2024), klaim bahwa penghasilan dari jualan koran mampu membiayai pendidikan tiga anak adalah fakta yang ia akui sendiri. "Dulu, satu hari bisa habis 100 eksemplar. Uangnya cukup untuk bayar SPP tiga anak sekaligus," ujarnya. Data dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY menunjukkan bahwa pada era 1990-an hingga awal 2000-an, jumlah pembaca koran harian di Yogyakarta mencapai puncaknya, dengan total oplah nasional yang tercatat oleh Serikat Perusahaan Pers (SPS) mencapai 8,5 juta eksemplar per hari.

Faktanya adalah, pada periode tersebut, koran lokal seperti Kedaulatan Rakyat dan Bernas Jogja memiliki ribuan pelanggan tetap. Sugiyanto sendiri mengaku bisa menjual 80 hingga 120 eksemplar per hari dengan margin keuntungan sekitar Rp1.500 hingga Rp2.000 per eksemplar. Jika dihitung, pendapatan hariannya bisa mencapai Rp200.000, yang pada saat itu merupakan angka yang sangat layak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bukti ini diperkuat oleh catatan Asosiasi Perusahaan Pers Indonesia (APPI) yang menyebutkan bahwa sektor distribusi koran menyerap puluhan ribu tenaga kerja informal di Jawa Tengah dan DIY.

Kondisi Terkini dan Data Penurunan

Bertentangan dengan masa kejayaan tersebut, data menunjukkan bahwa industri koran cetak di Yogyakarta mengalami penurunan drastis. Berdasarkan laporan Dewan Pers tahun 2023, jumlah media cetak yang masih beroperasi di DIY turun dari 47 menjadi 21 perusahaan dalam lima tahun terakhir. Sugiyanto mengaku kini hanya mampu menjual 10 hingga 15 eksemplar per hari, bahkan di hari libur bisa tidak laku sama sekali. "Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Orang sekarang baca berita dari HP," katanya dengan nada datar.

Sumber resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat bahwa tingkat kunjungan ke perpustakaan dan pembelian bahan bacaan cetak mengalami penurunan sebesar 34% antara tahun 2019 dan 2023. Sementara itu, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa 98,2% penduduk Yogyakarta telah mengakses internet melalui perangkat seluler, dan 76% di antaranya mendapatkan informasi berita dari platform digital. Angka ini berbanding terbalik dengan data pembaca koran yang hanya tersisa 4,7% dari total populasi.

Klaim bahwa Sugiyanto "merasa kurang rezeki" perlu diverifikasi lebih lanjut. Faktanya, ia masih mampu membeli beras dan membayar listrik, namun tabungannya sudah lama tidak bertambah. "Yang penting anak-anak saya sudah sarjana dan bekerja. Saya tidak mau meminta-minta," tegasnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun pendapatan menurun, ia masih memiliki ketahanan ekonomi berkat pendidikan yang berhasil didapatkan anak-anaknya di masa lalu.

Dampak Sosial dan Masa Depan Pekerja Informal

Perubahan lanskap media ini tidak hanya berdampak pada Sugiyanto, tetapi juga pada ratusan agen koran dan penjual eceran lain di Yogyakarta. Berdasarkan verifikasi dari data Koperasi Agen Koran Yogyakarta, jumlah anggota aktif menurun dari 340 orang pada 2015 menjadi hanya 87 orang pada 2024. Banyak dari mereka yang beralih profesi menjadi pengemudi ojek online atau pedagang kaki lima. Namun, tidak semua memiliki keberuntungan seperti Sugiyanto yang anak-anaknya sudah mapan.

Faktanya adalah, pemerintah kota melalui Dinas Koperasi dan UMKM telah meluncurkan program pelatihan alih profesi bagi mantan penjual koran sejak 2022. Namun, dari data Dinas Sosial DIY, hanya 40% dari peserta pelatihan yang berhasil mendapatkan pekerjaan baru. Sugiyanto sendiri menolak tawaran tersebut karena merasa sudah tua dan tidak ingin merepotkan orang lain. "Saya sudah 62 tahun. Biarkan saya menjalani sisa hidup dengan cara saya sendiri," ujarnya.

Kesimpulan dari verifikasi ini adalah bahwa narasi tentang Sugiyanto adalah representasi akurat dari transformasi industri media yang sedang berlangsung. Klaim bahwa koran pernah menjadi sumber penghidupan yang layak adalah benar berdasarkan data historis. Namun, klaim bahwa ia "kurang rezeki" adalah subjektif dan tidak sepenuhnya akurat, karena ia masih memiliki penghasilan dan dukungan keluarga. Berdasarkan seluruh bukti yang terkumpul, pernyataan bahwa industri koran di Yogyakarta sedang mengalami kemerosotan adalah fakta yang tidak bisa dibantah, didukung oleh data resmi dari BPS, Dewan Pers, dan APJII. Rating keseluruhan untuk klaim-klaim yang beredar adalah SEBAGIAN BENAR, dengan catatan bahwa kondisi ekonomi Sugiyanto tidak bisa digeneralisasi sebagai kemiskinan absolut, melainkan penurunan kelas ekonomi yang dialami banyak pekerja sektor informal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User