Sugiyanto dan Luka Sunyi Koran di Trotoar Yogyakarta

Di sebuah sudut kota yang masih menyimpan jejak tradisi, aroma tinta surat kabar kini tercium semakin pudar. Sugiyanto, seorang pedagang koran yang telah menghabiskan puluhan tahun di tepi jalan Yogya...

Sugiyanto dan Luka Sunyi Koran di Trotoar Yogyakarta

Di sebuah sudut kota yang masih menyimpan jejak tradisi, aroma tinta surat kabar kini tercium semakin pudar. Sugiyanto, seorang pedagang koran yang telah menghabiskan puluhan tahun di tepi jalan Yogyakarta, menyaksikan perubahan besar yang mengikis fondasi ekonomi keluarganya. Dahulu, setiap lembar koran yang terjual membentang menjadi biaya sekolah untuk tiga anaknya. Kini, pemasukan yang ia genggam kerap terasa tak cukup, meski ia bersyukur dengan apa yang masih bisa diperoleh.

Jejak Ekonomi dari Tinta dan Kertas

Industri surat kabar cetak di Indonesia menghadapi tekanan tak terelakkan sejak gelombang digital menguasai konsumsi informasi. Data dari Asosiasi Penerbit Surat Kabar Indonesia menunjukkan penurunan sirkulasi signifikan dalam satu dekade terakhir. Fakta ini berbanding lurus dengan kisah Sugiyanto, yang semakin kesulitan menemukan pembeli rutin. Di masa kejayaannya, sebuah koran pagi bisa ludes terjual sebelum matahari terik. Saat ini, tumpukan cetakan sering kali kembali dengan lipatan usang, tak terjamah.

Perubahan perilaku pembaca menjadi pendorong utama anjloknya pendapatan para pedagang. Masyarakat beralih ke layar ponsel untuk mengejar berita terkini. Akibatnya, rantai distribusi koran di tingkat retail mengalami kontraksi. Bagi Sugiyanto, setiap eksemplar yang tak terjual bukan sekadar rugi modal, melainkan pengurangan nyata terhadap anggaran harian keluarga. Ia terpaksa mengurangi pesanan dari agen demi meminimalkan risiko kerugian, meski langkah itu juga berarti membatasi potensi keuntungan.

Ketahanan Hidup di Tengah Disrupsi Media

Meski kondisi ekonomi semakin menekan, Sugiyanto memilih bertahan di profesi yang telah menaungi masa depan anak-anaknya. Ketiga buah hatinya kini telah menyelesaikan pendidikan berkat jerih payah mengumpulkan keuntungan dari penjualan koran. Prestasi itu, bagaimanapun, tidak bisa diulangi dengan mudah di era sekarang. Biaya hidup yang terus merangkak naik berbenturan dengan pendapatan yang stagnan bahkan menurun.

Di sepanjang trotoar kota, deretan koran yang tersusun rapi di karung atau meja lipat kini terlihat semakin sepi. Beberapa rekan Sugiyanto telah beralih berjualan barang lain atau mencari pekerjaan informal. Namun, bagi Sugiyanto, koran bukan sekadar komoditas dagangan. Setiap edisi yang ia bawa pulang dari agen adalah bagian dari ritme hidup yang telah ia jalani sejak usia muda. Melepaskan profesi itu berarti melepas sebagian identitasnya sebagai warga kota yang turut menyaksikan perubahan zaman dari sudut pandang pinggir jalan.

Potret Muram dan Harapan yang Tersisa

Pemerintah daerah maupun pelaku industri cetak sebenarnya telah mencoba berbagai strategi untuk mempertahankan ekosistem media cetak. Namun, intervensi tersebut belum mampu mengembalikan kejayaan masa lalu. Bagi para pedagang seperti Sugiyanto, harapan kini lebih tertuju pada loyalitas segelintir pelanggan senior yang masih mencari sensasi memegang kertas koran sambil menyesap kopi pagi. Mereka adalah sisa pasar yang terus menciut, namun cukup untuk membuat Sugiyanto tetap melangkah ke lokasi berjualannya setiap fajar.

Kesenjangan antara kenangan dan realitas tercermin jelas dalam tatapan Sugiyanto ketika menghitung sisa koran di malam hari. Dahulu, hitungan itu menyisakan senyum karena laris manis. Kini, hitungan itu lebih sering menyisakan kerutan khawatir. Meski begitu, ia tak berhenti bersyukur. Bagi Sugiyanto, rezeki yang berkurang bukan berarti habis. Ia masih memiliki keluarga, kesehatan, dan kebiasaan pagi yang telah dijalani puluhan tahun. Dalam kesederhanaan itulah, potret muram deretan koran di Yogyakarta tetap menyimpan cerita tentang ketabahan manusia yang menolak tenggelam ditelan arus zaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User