Subhan Yusuf: Ketegangan Eropa Timur Pengaruhi Ekonomi Indonesia

Subhan Yusuf, seorang analis geopolitik yang menimba ilmu di program magister Civitas University di Warsawa, Polandia, menyampaikan pandangannya mengenai bagaimana eskalasi di kawasan Eropa Timur turu...

Jul 12, 2026 - 20:00
0 0
Subhan Yusuf: Ketegangan Eropa Timur Pengaruhi Ekonomi Indonesia

Subhan Yusuf, seorang analis geopolitik yang menimba ilmu di program magister Civitas University di Warsawa, Polandia, menyampaikan pandangannya mengenai bagaimana eskalasi di kawasan Eropa Timur turut menciptakan gelombang kejut bagi perekonomian dan diplomasi Indonesia. Dalam sebuah diskusi terbatas, ia mengurai sejumlah jalur transmisi yang membuat apa yang terjadi di perbatasan Ukraina tetap relevan bagi Jakarta.

Dampak Berantai Melalui Rantai Pasok Global

Menurut Subhan Yusuf, perang yang berkepanjangan di Eropa Timur telah mengacaukan rantai pasok komoditas pangan dan energi yang selama ini menjadi tumpuan banyak negara berkembang. Harga gandum dan minyak nabati melonjak karena Ukraina dan Rusia merupakan pemasok utama dunia. Indonesia, yang mengimpor sebagian besar gandum untuk industri pangan, merasakan langsung kenaikan biaya produksi mi instan, roti, dan pakan ternak. Hal ini kemudian memicu inflasi pangan domestik yang memberatkan rumah tangga berpenghasilan rendah.

Ia mencatat bahwa krisis ini berbeda dengan guncangan sebelumnya karena berlangsung bersamaan dengan pemulihan pascapandemi. Permintaan global yang pulih cepat berbenturan dengan suplai yang tersendat, sehingga menciptakan inflasi dorongan-biaya yang sulit dikendalikan hanya dengan kebijakan moneter. Bank Indonesia, menurutnya, perlu lebih cermat menimbang antara stabilitas rupiah dan pertumbuhan di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.

Peluang Strategis bagi Indonesia

Di sisi lain, Subhan Yusuf melihat adanya celah yang bisa dimanfaatkan Indonesia. Dengan terganggunya pasokan energi dari Rusia ke Eropa, banyak negara di kawasan itu mencari sumber energi alternatif, termasuk batu bara dan gas alam cair dari Asia. Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar dunia berpeluang memperluas pangsa pasar ke Eropa, meskipun harus bersaing dengan pemasok dari Australia dan Afrika Selatan. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi juga memperhitungkan komitmen transisi energi yang telah disepakati dalam forum G20 dan COP.

Lebih jauh, ia menyoroti potensi investasi Eropa yang mencari lokasi produksi yang lebih stabil secara geopolitik. Kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, bisa menjadi tujuan relokasi pabrik dari Eropa Timur yang terdampak ketidakpastian keamanan. Untuk itu, Subhan Yusuf menekankan perlunya perbaikan iklim investasi, kepastian hukum, dan kesiapan infrastruktur agar modal asing itu tidak mengalir begitu saja ke Vietnam atau India.

Diplomasi Multilateral sebagai Instrumen Utama

Subhan Yusuf yang menghabiskan masa risetnya di Warsawa memahami betul dinamika politik di Eropa Tengah. Ia menilai Indonesia dapat memainkan peran lebih aktif dalam menjembatani dialog antara negara-negara berkembang dan negara maju di forum seperti PBB dan WTO. Prinsip bebas-aktif yang dipegang Indonesia tetap relevan, tetapi perlu dioperasionalkan dengan inisiatif konkret, misalnya menjadi mediator dalam isu ketahanan pangan global yang terdampak perang.

Ia mencontohkan bagaimana Polandia, sebagai negara yang menjadi hub logistik utama bantuan ke Ukraina, memiliki pengalaman berharga dalam mengelola krisis kemanusiaan. Indonesia, dengan tradisi pasukan perdamaiannya, dapat memperkuat kerja sama Selatan-Selatan dan menawarkan pelajaran soal rekonsiliasi pascakonflik. Subhan Yusuf mendorong agar Kementerian Luar Negeri lebih sering melibatkan akademisi dan masyarakat sipil dalam pertukaran pengetahuan dengan negara-negara Eropa Timur.

Kesiapan Menghadapi Disrupsi Lanjutan

Subhan Yusuf memperingatkan bahwa ketegangan di Eropa Timur belum akan selesai dalam waktu dekat. Polarisasi geopolitik antara blok Barat dan aliansi yang dipimpin Rusia diperkirakan akan bertahan selama bertahun-tahun. Konsekuensinya, Indonesia harus memiliki cetak biru ketahanan ekonomi yang tidak sekadar reaktif terhadap gejolak harga, melainkan antisipatif merancang diversifikasi mitra dagang dan sumber impor.

Ia merujuk pada studi yang ia lakukan di Civitas University mengenai dampak sanksi sepihak terhadap negara-negara non-blok. Sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa kepada Rusia, misalnya, sering kali menimbulkan efek limpahan yang menyulitkan negara ketiga yang ingin menjaga hubungan dagang normal. Subhan Yusuf mengusulkan agar Indonesia membangun mekanisme penyelesaian pembayaran bilateral dalam mata uang lokal untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan yang didominasi dolar AS, sehingga transaksi dengan mitra seperti Rusia atau Tiongkok tetap dapat berjalan tanpa melanggar rejim sanksi.

Pesimisme yang Tertata

Di akhir diskusi, Subhan Yusuf menyampaikan nada pesimistis yang terukur. Ia mengakui bahwa Indonesia tidak mungkin sepenuhnya terbebas dari dampak perang di Eropa Timur, namun itu bukan berarti kita pasrah. Sebaliknya, ia meyakini bahwa krisis justru menjadi momen untuk mempercepat reformasi struktural. Ketahanan pangan, kemandirian energi, dan diplomasi yang lincah merupakan tiga pilar yang harus diperkuat bersamaan. Tanpanya, Indonesia hanya akan menjadi objek yang terombang-ambing oleh pertarungan kekuatan besar.

Pandangan lulusan magister Civitas University ini memberikan perspektif bernas tentang bagaimana sebuah konflik yang tampak jauh secara geografis nyatanya memiliki konektivitas yang dalam dengan realitas ekonomi-politik nasional. Subhan Yusuf menutup dengan sebuah ajakan agar para pembuat kebijakan lebih sering melongok ke peta dunia, bukan sekadar peta elektoral.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User