Aug 26, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Setelah Ibu Pergi: Kehilangan yang Menjadi Titik Balik Hidup

Dalam perjalanan hidup manusia, hampir tidak ada sosok yang hadir sekonsisten ibu. Kehadirannya mengisi ruang-ruang kecil: sarapan pagi, pesan singkat sebelum berangkat kerja, hingga doa yang tak pern...

Setelah Ibu Pergi: Kehilangan yang Menjadi Titik Balik Hidup

Dalam perjalanan hidup manusia, hampir tidak ada sosok yang hadir sekonsisten ibu. Kehadirannya mengisi ruang-ruang kecil: sarapan pagi, pesan singkat sebelum berangkat kerja, hingga doa yang tak pernah putus meski anaknya sudah jauh. Karena intensitas itulah, kepergian ibu meninggalkan kekosongan yang tidak dapat diisi oleh siapa pun. Berbagai riset psikologi menunjukkan bahwa kehilangan orang tua, khususnya ibu, termasuk dalam kategori peristiwa paling menekan dalam daftar pengalaman hidup manusia.

Ikatan yang Terbentuk Sejak Lahir

Hubungan ibu dan anak merupakan ikatan pertama yang dikenali manusia. Sejak dalam kandungan, bayi sudah mengenali detak jantung dan suara ibunya. Setelah lahir, sosok itu menjadi pusat rasa aman, tempat pertama anak belajar tentang dunia, bahasa, dan kasih sayang. Psikolog perkembangan mencatat bahwa pola kelekatan yang terbentuk pada masa awal ini ikut menentukan cara seseorang menjalin hubungan di kemudian hari.

Karena akar yang sedemikian dalam, kehilangan ibu tidak hanya berarti kehilangan orang yang dicintai, tetapi juga kehilangan saksi utama perjalanan hidup. Ibu adalah satu-satunya orang yang mengenal kita sejak awal, yang mengingat langkah pertama, kesalahan pertama, dan keberhasilan pertama. Ketika saksi itu tiada, banyak orang merasa kehilangan bagian dari narasi hidupnya sendiri.

Duka yang Berlapis

Kesedihan setelah ibu meninggal jarang berjalan linier. Ada masa syok, ada kemarahan, ada rasa bersalah, hingga penerimaan yang kadang baru tiba bertahun-tahun kemudian. Kerangka yang paling dikenal untuk memahami proses ini adalah lima tahap duka yang diperkenalkan oleh psikiater Elisabeth Kübler-Ross: penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Namun para ahli menegaskan bahwa tahapan itu tidak selalu berurutan dan setiap orang menjalaninya dengan kecepatan berbeda.

Yang sering tidak terduga adalah bentuk duka yang muncul justru setelah upacara pemakaman selesai. Ketika pelayat mulai pulang dan rumah kembali sepi, kenyataan baru perlahan terasa. Panggilan telepon yang tidak akan berdering lagi, menu masakan khas yang tidak akan pernah tersaji, hingga pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab. Banyak orang menggambarkan fase ini seperti belajar berjalan kembali: setiap kebiasaan lama menjadi pengingat, dan setiap pengingat awalnya terasa menyakitkan sebelum akhirnya menjadi kenangan yang menenangkan. Pada fase inilah banyak orang mulai menyadari bahwa hidupnya telah berubah secara fundamental.

Kehilangan yang Mengubah Cara Pandang

Berdasarkan berbagai penelitian tentang proses berduka, kehilangan ibu kerap menjadi pemicu refleksi mendalam. Banyak orang yang setelah kehilangan justru mempertanyakan prioritas hidupnya: apakah selama ini ia sudah cukup meluangkan waktu untuk orang-orang terdekat, apakah pekerjaan yang dikejar sepadan dengan momen yang terlewat. Beberapa orang memilih mengubah karier, memperbaiki hubungan keluarga, atau mulai lebih terbuka dalam mengungkapkan kasih sayang.

Perubahan ini tidak terjadi secara instan dan tidak selalu nyaman. Namun para praktisi kesehatan mental melihatnya sebagai bagian alami dari proses pemulihan. Ketika seseorang mampu mengubah rasa kehilangan menjadi kesadaran baru tentang arti hubungan, duka yang tadinya terasa melumpuhkan dapat menjadi dasar untuk menjalani hidup yang lebih bermakna.

Menemani Mereka yang Berduka

Bagi orang-orang di sekitar, pertanyaan yang paling sering muncul adalah bagaimana cara terbaik menemani seseorang yang baru kehilangan ibu. Para ahli menyarankan agar kehadiran lebih diutamakan daripada kata-kata. Kalimat penghiburan yang panjang sering kali tidak sebermakna kehadiran yang tenang, tawaran bantuan yang konkret, atau kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi. Yang juga penting adalah tidak memaksa orang yang berduka untuk cepat pulih, sebab setiap orang memiliki waktunya sendiri.

Pada akhirnya, kepergian ibu memang meninggalkan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh total. Namun seperti yang ditunjukkan banyak pengalaman, luka itu bisa berubah bentuk: dari rasa sakit yang melumpuhkan menjadi kekuatan untuk menghargai hidup, dari kekosongan menjadi dorongan untuk merawat hubungan yang masih ada. Menghormati kepergian ibu, pada akhirnya, bukan berarti melupakan, melainkan membiarkan warisan kasih sayangnya terus bekerja melalui cara kita mencintai orang lain. Momen kehilangan, sekecil apa pun peristiwanya terlihat dari luar, dapat menjadi titik balik yang mengubah arah hidup seseorang secara permanen.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User