Ribuan Penerbangan di Tiongkok Dibatalkan Akibat Amukan Topan Bavi
Gelombang pembatalan besar-besaran melanda sejumlah bandara utama di Tiongkok setelah Topan Bavi menerjang kawasan pesisir timur negeri itu. Ribuan jadwal penerbangan terpaksa dibekukan demi alasan ke...
Gelombang pembatalan besar-besaran melanda sejumlah bandara utama di Tiongkok setelah Topan Bavi menerjang kawasan pesisir timur negeri itu. Ribuan jadwal penerbangan terpaksa dibekukan demi alasan keselamatan, memicu kekacauan perjalanan bagi puluhan ribu penumpang yang hendak menuju atau meninggalkan kota-kota penting.
Gangguan Meluas ke Tujuh Kota Pusat Ekonomi
Berdasarkan pemantauan otoritas penerbangan sipil, sejumlah rute vital terdampak secara signifikan. Penerbangan menuju Nanjing dan Hangzhou—dua kota di Delta Sungai Yangtze yang menjadi pusat bisnis dan logistik—mengalami penundaan paling panjang. Di jalur tengah, akses udara ke Wuhan juga terputus hampir separuh dari total jadwal harian. Sementara itu, di wilayah timur laut, penerbangan ke Shenyang dan Dalian terpaksa dikurangi drastis akibat kombinasi angin kencang dan hujan deras yang dibawa sistem badai. Gangguan turut merembet ke Chengdu di barat daya serta kota-kota satelit di sekitarnya, meskipun jalur ini tidak berada di lintasan langsung topan. Efek domino dari penutupan hub timur menyebabkan jadwal penerbangan di seluruh negeri terimbas.
Administrasi Meteorologi Tiongkok (CMA) mencatat bahwa Bavi membawa kecepatan angin berkelanjutan hingga 150 kilometer per jam di dekat pusatnya, dengan embusan yang lebih tinggi. Kondisi ini memaksa menara kontrol di Shanghai Pudong, Hangzhou Xiaoshan, dan Nanjing Lukou memberlakukan larangan lepas landas dan pendaratan selama beberapa jam. Bandara-bandara tersebut kemudian hanya membuka layanan secara terbatas setelah angin mereda, namun antrean panjang pesawat yang tertahan menciptakan kemacetan udara yang belum sepenuhnya terurai hingga keesokan hari.
Langkah Darurat Maskapai dan Reaksi Penumpang
Maskapai penerbangan domestik seperti China Eastern dan Air China langsung mengaktifkan pusat krisis mereka. Penumpang yang terdampak mendapat opsi penjadwalan ulang tanpa biaya tambahan, pengembalian dana penuh, atau pengalihan rute melalui kota transit yang lebih aman. Ribuan pesan teks dan notifikasi aplikasi dikirimkan untuk menghindari penumpukan massa di terminal. Meski demikian, di Bandara Internasional Pudong, puluhan penumpang masih terlihat mengantre di konter layanan pelanggan, sebagian besar berharap mendapat kursi pada penerbangan pertama yang tersedia.
“Saya seharusnya menghadiri pertemuan bisnis pagi ini di Nanjing, tetapi penerbangan saya dibatalkan tepat saat saya hendak menuju gerbang,” ujar seorang penumpang yang memilih menunggu di ruang tunggu sembari memantau papan informasi. Banyak pelaku perjalanan bisnis terpaksa mengalihkan janji temu ke platform daring, sementara wisatawan domestik memperpanjang masa tinggal mereka di hotel sekitar bandara.
Kesiapan Infrastruktur dan Prediksi Cuaca
Otoritas bandara di kota-kota yang terdampak telah menyiagakan tim darurat untuk memastikan landasan pacu bebas dari genangan air dan serpihan. Di Hangzhou, petugas bandara melaporkan tidak ada kerusakan struktural pada fasilitas navigasi, tetapi pemeriksaan menyeluruh tetap dilakukan sebelum operasi normal kembali. Biro Cuaca Pusat memperkirakan Topan Bavi akan terus bergerak ke arah timur laut, melemah secara bertahap setelah menyentuh daratan Semenanjung Korea. Namun, hujan sisa badai masih berpotensi memicu gangguan penerbangan di sepanjang pesisir timur Tiongkok setidaknya hingga 48 jam ke depan.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan Tiongkok mengimbau masyarakat untuk memantau informasi terkini dari maskapai dan mempertimbangkan perjalanan kereta cepat sebagai alternatif. Jalur kereta Shanghai–Nanjing dan Shanghai–Hangzhou dilaporkan menambah gerbong untuk mengakomodasi limpahan penumpang yang beralih moda transportasi. Langkah ini sedikit meredakan tekanan, meski tiket kereta pun melonjak permintaannya dalam hitungan jam pasca pembatalan massal.
Gangguan besar-besaran ini kembali menegaskan posisi Tiongkok sebagai salah satu negara yang paling sering menghadapi tantangan operasional akibat cuaca ekstrem. Sektor penerbangan komersial yang telah berjuang pulih pasca tekanan pandemi kini harus kembali mengatur ritme layanan di tengah dinamika alam yang sulit diprediksi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa atau cedera yang berkaitan langsung dengan pembatalan penerbangan tersebut.
Baca juga:
Comments (0)