Sep 03, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Rangkaian Sholawat Maulid Nabi yang Lazim Dibaca saat Muludan

Bulan Rabiul Awal menjadi salah satu momen paling dinanti umat Islam, khususnya di Nusantara. Di bulan inilah kelahiran Nabi Muhammad SAW diperingati dengan beragam tradisi, mulai dari pengajian, pemb...

Rangkaian Sholawat Maulid Nabi yang Lazim Dibaca saat Muludan

Bulan Rabiul Awal menjadi salah satu momen paling dinanti umat Islam, khususnya di Nusantara. Di bulan inilah kelahiran Nabi Muhammad SAW diperingati dengan beragam tradisi, mulai dari pengajian, pembacaan maulid, hingga syukuran yang dikenal dengan nama Muludan. Meski pelaksanaannya berbeda-beda di tiap daerah, hampir semua rangkaian acara memiliki satu kesamaan, yaitu pembacaan sholawat. Sholawat bukan sekadar pujian, melainkan doa dan penghormatan kepada Rasulullah SAW yang menjadi wujud kecintaan umat sekaligus harapan akan syafaat beliau di akhirat kelak.

Muludan dan Kedudukan Sholawat dalam Tradisi Umat

Tradisi Muludan berakar dari kebiasaan masyarakat menyambut kelahiran Nabi yang telah berlangsung turun-temurun. Dalam ajaran Islam, anjuran bersholawat memiliki dasar yang kuat, salah satunya firman Allah dalam Al-Qur'an surah Al-Ahzab ayat 56 yang menyatakan bahwa Allah dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi, dan orang-orang beriman diperintahkan untuk turut bersholawat. Berdasarkan verifikasi para ulama, ayat inilah yang menjadi landasan utama mengapa pembacaan sholawat ditempatkan sebagai bagian penting dalam setiap perayaan Maulid Nabi.

Dalam praktiknya, pembacaan sholawat pada acara Muludan biasanya dipimpin oleh seorang tokoh agama atau pemimpin majelis, lalu diikuti oleh seluruh hadirin secara berjamaah. Ada yang membacanya dengan nada datar, ada pula yang dilantunkan dengan irama merdu disertai rebana. Suasana khidmat dan semarak inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dari tradisi tahunan ini.

Dua Belas Bacaan Sholawat untuk Acara Muludan

Berdasarkan kebiasaan yang berkembang di masyarakat, berikut dua belas bacaan sholawat yang lazim digunakan dalam rangkaian acara Muludan.

1. Sholawat Nariyah — dikenal juga dengan sebutan Sholawat Tafrijiyah. Isinya berupa permohonan sholawat yang sempurna agar Allah melapangkan kesulitan, melancarkan rezeki, dan mengabulkan hajat. Sholawat ini kerap dibaca sebanyak 11 kali atau 41 kali menjelang puncak acara.

2. Sholawat Badar — syair pujian berbahasa Arab yang sangat populer di kalangan masyarakat, dilantunkan dengan irama khas dan sering diiringi tabuhan rebana. Kehadirannya biasanya membuat suasana Muludan semakin meriah dan penuh semangat.

3. Sholawat Thibbil Qulub — dikenal sebagai sholawat 'obat hati'. Kandungan doanya memohon kesembuhan lahir dan batin, sehingga sering dibaca ketika doa bersama di penghujung acara berlangsung.

4. Sholawat Munjiyat — berisi permohonan keselamatan dari segala marabahaya dan keburukan. Dalam tradisi masyarakat, sholawat ini juga sering diamalkan ketika menghadapi kesulitan, termasuk dalam momentum peringatan Maulid Nabi.

5. Sholawat Ummi — menggambarkan keistimewaan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang yang ummi, yakni tidak membaca dan menulis, namun tetap menerima wahyu Allah. Bacaan ini lazim diulang-ulang dalam jumlah tertentu oleh para jamaah.

6. Sholawat Ibrahimiyah — bacaan yang tidak asing karena menjadi bagian dari tasyahud akhir dalam salat. Membacanya dalam acara Maulid sekaligus meneladani doa yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW kepada umatnya.

7. Sholawat Al-Fatih — berisi permohonan agar sholawat menjadi pembuka segala hal yang tertutup serta penutup segala kekurangan. Sholawat ini cukup populer dan sering dijadikan penutup sebelum doa dipanjatkan.

8. Qasidah Burdah — syair panjang karya Imam al-Bushiri yang menggambarkan kecintaan dan kerinduan kepada Nabi. Pada sebagian acara Muludan, Burdah dibacakan secara bergiliran dengan irama tertentu hingga selesai.

9. Maulid al-Barzanji — kitab karangan Sayyid Ja'far al-Barzanji yang memuat kisah kelahiran, kehidupan, dan akhlak Nabi. Bacaan ini menjadi andalan utama dalam banyak peringatan Maulid di berbagai daerah.

10. Maulid ad-Diba'i — karya Imam Abdurrahman ad-Diba'i dengan susunan bahasa yang indah dan mudah diikuti. Bacaan ini menjadi dasar tradisi 'diba'an' yang digelar di banyak pesantren dan majelis taklim.

11. Simtud Durar — maulid yang disusun oleh Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, dikenal dengan nada-nada merdu dan digemari berbagai kalangan dalam majelis sholawat.

12. Ya Nabi Salam Alaika — pujian singkat berisi salam dan sholawat kepada Nabi yang dilantunkan berulang-ulang, sering dinyanyikan bersama oleh seluruh hadirin sebagai penutup rangkaian acara.

Etika Membaca Sholawat dalam Acara Muludan

Agar pembacaan sholawat bernilai ibadah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dianjurkan dalam keadaan suci dan berwudhu karena aktivitas ini termasuk dzikir dan doa. Kedua, niat harus ikhlas semata-mata karena Allah dan kecintaan kepada Nabi. Ketiga, suara yang dilantunkan hendaknya merdu namun tidak berlebihan hingga mengganggu kekhusyukan hadirin. Keempat, bagi yang mengikuti secara berjamaah, sebaiknya mengikuti irama yang dipimpin oleh pemimpin majelis agar bacaan tetap serasi. Terakhir, rangkaian pembacaan sholawat sebaiknya ditutup dengan doa bersama agar seluruh hajat yang dipanjatkan dapat dikabulkan oleh Allah SWT.

Sholawat Bukan Sekadar Tradisi

Lebih dari sekadar rutinitas tahunan, pembacaan sholawat dalam acara Muludan adalah sarana menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Harapannya, kecintaan tersebut tidak berhenti pada lantunan pujian, melainkan terus berlanjut dalam bentuk meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, tradisi Muludan tidak hanya meramaikan syiar Islam, tetapi juga memperkuat keimanan dan ketakwaan umat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User