Sep 03, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Insentif Pajak Jadi Jurus Baru Pemerintah untuk Genjot Investasi Geotermal

JAKARTA — Pemerintah menyiapkan terobosan kebijakan untuk mempercepat masuknya investasi di sektor energi panas bumi. Rencana yang tengah digodok adalah perombakan sejumlah regulasi tingkat pusat, m...

Insentif Pajak Jadi Jurus Baru Pemerintah untuk Genjot Investasi Geotermal

JAKARTA — Pemerintah menyiapkan terobosan kebijakan untuk mempercepat masuknya investasi di sektor energi panas bumi. Rencana yang tengah digodok adalah perombakan sejumlah regulasi tingkat pusat, mencakup peraturan pemerintah dan peraturan presiden, yang selama ini menjadi payung hukum pengembangan geotermal di dalam negeri.

Arah kebijakan ini jelas: memberikan kemudahan prosedural sekaligus insentif yang lebih menarik bagi investor. Dengan demikian, pemerintah berharap proyek-proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi yang selama ini berjalan lambat dapat kembali bergulir dan mampu menarik modal baru, baik dari dalam maupun luar negeri.

Potensi Melimpah, Realisasi Masih Tipis

Latar belakang kebijakan ini tidak lepas dari fakta bahwa Indonesia memiliki salah satu cadangan panas bumi terbesar di dunia. Berdasarkan data yang banyak dirujuk dalam dokumen perencanaan energi nasional, potensi sumber daya geotermal Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 23 gigawatt, atau sekitar 40 persen dari total potensi dunia.

Namun, pemanfaatannya masih jauh tertinggal. Kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi nasional baru berada di kisaran 2,4 hingga 2,7 gigawatt. Angka tersebut berarti baru kurang dari seperdelapan potensi yang ada yang berhasil dikonversi menjadi energi listrik yang dapat dinikmati masyarakat.

Kesenjangan antara potensi dan realisasi itu kerap dikaitkan dengan sejumlah hambatan struktural: biaya eksplorasi yang tinggi, risiko geologi yang besar, masa pengembalian investasi yang panjang, serta prosedur perizinan yang berlapis. Kombinasi faktor inilah yang selama ini membuat minat investor terhadap sektor ini tidak sebesar yang diharapkan.

Penyederhanaan Regulasi dan Daya Tarik Fiskal

Salah satu bagian yang paling dinantikan pelaku industri adalah penyederhanaan rantai perizinan. Proyek geotermal dikenal memiliki siklus pengembangan yang sangat panjang, mulai dari survei pendahuluan, eksplorasi, pengeboran sumur, hingga tahap komersialisasi yang bisa memakan waktu bertahun-tahun sebelum menghasilkan listrik.

Dengan revisi peraturan pemerintah dan peraturan presiden, pemerintah diharapkan dapat memangkas tahapan yang tumpang tindih, termasuk koordinasi lintas kementerian serta antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kepastian jadwal dan kejelasan prosedur menjadi syarat mutlak agar investor berani menanamkan modal pada tahap awal yang penuh ketidakpastian.

Dari sisi fiskal, insentif pajak menjadi instrumen yang paling dinanti. Tingginya biaya eksplorasi dan kemungkinan kegagalan pengeboran membuat investor membutuhkan kompensasi berupa keringanan beban pajak, terutama pada fase awal proyek ketika pendapatan belum mengalir. Pengurangan tarif, pembebasan sementara, maupun perlakuan khusus atas biaya eksplorasi menjadi opsi yang kerap dibahas dalam perumusan kebijakan.

Perubahan regulasi ini juga disiapkan agar selaras dengan kebutuhan investor asing, yang umumnya menuntut kepastian hukum dan stabilitas kebijakan sebelum memutuskan masuk ke pasar Indonesia. Stabilitas inilah yang dinilai mampu menurunkan persepsi risiko dan pada akhirnya menekan biaya modal proyek secara keseluruhan.

Dorongan bagi Target Energi Bersih Nasional

Percepatan investasi geotermal tidak hanya soal kepentingan bisnis. Sektor ini memegang peran penting dalam upaya pemerintah memperbesar porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional. Berbeda dengan pembangkit surya dan angin yang bergantung pada cuaca, panas bumi mampu beroperasi secara terus-menerus sepanjang hari, sehingga menjadi tulang punggung yang andal bagi sistem kelistrikan.

Pengembangan pembangkit panas bumi juga membawa manfaat ganda bagi daerah. Kehadiran proyek geotermal umumnya membuka lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, dan menambah pemasukan daerah melalui pajak serta bagi hasil. Karena itu, keterlibatan pemerintah daerah dalam proses perizinan menjadi salah satu perhatian utama dalam rancangan revisi regulasi.

Meski demikian, sejumlah pekerjaan rumah masih menanti. Konsistensi implementasi di lapangan, kesiapan infrastruktur pendukung, serta keselarasan antara kebijakan pusat dan daerah akan menentukan apakah insentif yang ditawarkan benar-benar berdampak pada realisasi investasi.

Para pengamat menilai bahwa kombinasi antara kemudahan regulasi dan insentif fiskal merupakan langkah yang tepat, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada kecepatan penyelesaian aturan turunan serta sosialisasi kepada pelaku usaha. Tanpa keduanya, insentif yang menarik di atas kertas bisa kehilangan makna di lapangan.

Langkah Selanjutnya

Rancangan perubahan regulasi ini kini menjadi salah satu prioritas dalam agenda kebijakan energi pemerintah. Pelaku industri menaruh harapan besar agar proses penyusunan berjalan cepat dan melibatkan masukan dari para pemangku kepentingan, termasuk asosiasi pengembang panas bumi dan calon investor.

Jika berjalan sesuai rencana, kebijakan ini dapat menjadi titik balik bagi sektor geotermal nasional yang selama bertahun-tahun tumbuh di bawah potensinya. Dengan kepastian hukum yang lebih baik dan insentif yang lebih menarik, Indonesia memiliki peluang untuk menarik investasi yang jauh lebih besar serta menjadikan panas bumi sebagai salah satu motor utama transisi energi nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User