Sep 17, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Pyongyang — Kim Jong Un Perkuat Kekuasaan Melalui Eksploitasi Manusia

Di balik megahnya parade militer di Pyongyang dan manuver diplomasi tingkat tinggi yang belakangan ini memukau panggung geopolitik global, tersimpan tabir

Pyongyang — Kim Jong Un Perkuat Kekuasaan Melalui Eksploitasi Manusia

Di balik megahnya parade militer di Pyongyang dan manuver diplomasi tingkat tinggi yang belakangan ini memukau panggung geopolitik global, tersimpan tabir gelap yang mengerikan. Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, memang berhasil memperkokoh pengaruh finansial dan diplomasinya di tengah cengkeraman sanksi internasional. Namun, kejayaan politik ini berdiri di atas fondasi yang rapuh dan berdarah: eksploitasi sistematis terhadap rakyatnya sendiri.

Investigasi mendalam menunjukkan bahwa peningkatan pengaruh Pyongyang dalam beberapa tahun terakhir tidak didapatkan melalui inovasi ekonomi atau perdagangan bebas, melainkan melalui pemerasan tenaga kerja skala masif. Dari kedalaman tambang batubara yang berdebu di provinsi terpencil hingga meja-meja diplomasi di kedutaan asing, setiap elemen masyarakat Korea Utara diperah demi mengisi pundi-pundi rezim.

Perut Bumi yang Menelan Hak Asasi Manusia

Sektor pertambangan Korea Utara menjadi salah satu mesin utama penghasil komoditas rahasia rezim. Ribuan warga negara, termasuk tahanan politik dan masyarakat kelas bawah (dikenal dalam sistem status sosial Songbun), dipaksa bekerja dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi. Tanpa peralatan keselamatan yang memadai dan pasokan nutrisi yang jauh dari kata cukup, para penambang ini diwajibkan memenuhi kuota produksi batubara dan mineral berharga yang nantinya diselundupkan ke pasar gelap internasional.

"Manusia di sana tidak lagi dipandang sebagai warga negara, melainkan sekadar komoditas fisik yang nilainya diukur dari seberapa banyak valuta asing yang bisa mereka hasilkan untuk rezim," ungkap seorang mantan pejabat diplomatik Korea Utara yang berhasil membelot.

Budak Berjas: Eksploitasi Pekerja dan Diplomat di Luar Negeri

Praktik perbudakan negara ini tidak berhenti di dalam batas wilayah Korea Utara. Rezim Pyongyang secara rutin mengirimkan tensi puluhan ribu pekerja—mulai dari buruh konstruksi, pekerja tekstil, hingga peretas siber—ke luar negeri, seperti Rusia dan Tiongkok. Meskipun para pekerja ini menerima gaji dalam mata uang asing, sekitar 70 hingga 90 persen dari pendapatan mereka disita langsung oleh pemerintah melalui perwakilan diplomatik.

Bahkan korps diplomatik resmi Korea Utara pun tidak luput dari pemerasan ini. Para diplomat yang ditempatkan di berbagai negara beban tugasnya bukan sekadar menjalin hubungan bilateral, melainkan diwajibkan menyetor target kuota uang tunai (dikenal sebagai "dana kesetiaan") langsung ke Kantor 39—entitas rahasia rezim yang mengelola kas pribadi keluarga Kim.

Kategori Pekerja Bentuk Eksploitasi Alokasi Hasil Penjualan/Gaji
Penambang Domestik Kerja paksa tanpa upah, jam kerja ekstrem, risiko keselamatan tinggi. Pasar gelap komoditas & industri senjata.
Buruh Luar Negeri Penyitaan 70-90% gaji, pengawasan ketat, pembatasan ruang gerak. Kas rahasia rezim (Office 39) & valas.
Korps Diplomatik Target setoran valuta asing tahunan via bisnis ilegal/penyelundupan. Pembiayaan program rudal ballistic & nuklir.

Ambisi Geopolitik yang Dibayar Mahal Rakyat

Uang yang terkumpul dari keringat dan darah rakyat tersebut memiliki jalur muara yang sangat spesifik. Alih-alih digunakan untuk mengatasi krisis pangan kronis atau memperkuat infrastruktur kesehatan publik yang hancur, dana tersebut dialirkan langsung untuk membiayai program pengayaan nuklir, uji coba rudal balistik interkontinental, serta gaya hidup mewah para elit Pyongyang.

Pemberian bantuan militer dan pasokan amunisi Korea Utara kepada Rusia dalam konflik Ukraina belakangan ini semakin memperjelas peta transaksi tersebut. Kim Jong Un menukar nyawa dan tenaga kerja rakyatnya dengan teknologi militer canggih serta pasokan minyak dari Moskow. Kekuasaan yang baru didapatkan ini memperlihatkan realitas yang kelam: semakin kuat posisi diplomasi Kim Jong Un di panggung dunia, semakin dalam penderitaan yang harus ditanggung oleh rakyat Korea Utara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User