Profil Singkat Didin Nasirudin hingga Laksamana Sukardi
Jakarta - Liputan6.com kembali menghadirkan diskusi bertema geopolitik dan ekonomi yang mempertemukan sejumlah tokoh nasional dari latar belakang berbeda. Acara yang digelar secara hibrida itu melibat...
Jakarta - Liputan6.com kembali menghadirkan diskusi bertema geopolitik dan ekonomi yang mempertemukan sejumlah tokoh nasional dari latar belakang berbeda. Acara yang digelar secara hibrida itu melibatkan para pembicara yang memiliki kompetensi tinggi di bidang komunikasi politik, ekonomi, teknologi, dan kebijakan publik. Keempat narasumber tersebut adalah Didin Nasirudin, Laksamana Sukardi, Harry K Nugraha, dan Dr. Eko Wahyuanto. Meskipun tampil dalam forum yang sama, masing-masing membawa perspektif unik yang memperkaya diskusi. Berikut adalah profil singkat mereka seperti dihimpun Liputan6.com.
Didin Nasirudin, Diplomasi di Era Digital
Didin Nasirudin merupakan Managing Director Bening Communication, sebuah firma konsultan komunikasi strategis yang banyak menangani isu-isu politik dan hubungan internasional. Ia dikenal luas sebagai pemerhati politik Amerika Serikat yang kerap memberikan analisis tajam tentang dinamika Paman Sam, terutama implikasinya terhadap kawasan Asia Tenggara. Kredibilitasnya tersebut dibangun melalui riset mendalam serta pengalaman bertahun-tahun mengamati kebijakan luar negeri AS di bawah berbagai pemerintahan. Saat ini Didin tengah menempuh studi Program Doktor Komunikasi Politik dan Diplomasi di Universitas SAHID Jakarta, sebuah langkah yang menegaskan keseriusannya mengawinkan teori dan praktik diplomasi publik. Dalam diskusi Liputan6.com, ia menyoroti bagaimana aktor non-negara seperti perusahaan teknologi dan media sosial kini turut memengaruhi hubungan antarnegara. Menurutnya, memahami politik domestik AS adalah kunci untuk mengantisipasi arah kebijakan global yang akan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi Indonesia. Ia juga mendorong para pemangku kepentingan untuk lebih aktif menggunakan komunikasi digital sebagai instrumen soft power guna memperjuangkan kepentingan nasional.
Laksamana Sukardi, Jejak Panjang di Panggung Ekonomi dan Politik
Nama Laksamana Sukardi tidak asing di telinga publik Indonesia. Perjalanan kariernya merentang dari panggung politik hingga jajaran eksekutif pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, periode yang diwarnai oleh upaya restrukturisasi dan privatisasi beberapa perusahaan negara. Sebelum menduduki posisi menteri, Laksamana telah aktif di dunia politik sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan kemudian berkiprah di PDI Perjuangan. Latar belakang pendidikannya sebagai ekonom membentuk cara pandangnya yang pragmatis namun tetap berlandaskan ideologi kerakyatan. Dalam berbagai kesempatan, ia lantang mengkritisi kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada kedaulatan ekonomi nasional. Di forum Liputan6.com, Laksamana menyoroti pentingnya tata kelola BUMN yang transparan dan akuntabel agar badan usaha milik negara tersebut tidak sekadar menjadi mesin politik, melainkan juga lokomotif pertumbuhan ekonomi. Ia juga menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta dalam menghadapi ketidakpastian global yang dipicu oleh perang dagang dan disrupsi teknologi. Dengan jam terbang puluhan tahun, pandangan Laksamana Sukardi senantiasa menjadi rujukan bagi para pengambil kebijakan maupun akademisi yang mendalami isu badan usaha milik negara dan ekonomi politik Indonesia.
Harry K Nugraha, Menatap Masa Depan Semikonduktor Indonesia
Dari dunia teknologi, hadir Harry K Nugraha, Country Manager Intel Indonesia. Sosok ini memimpin salah satu perusahaan semikonduktor terbesar di dunia yang telah beroperasi di tanah air sejak beberapa dekade lalu. Di bawah kendalinya, Intel Indonesia terus memperkuat ekosistem teknologi lokal melalui program pengembangan talenta, kolaborasi riset dengan universitas, serta perluasan akses komputasi ke berbagai sektor industri. Harry percaya bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk naik kelas dalam rantai pasok semikonduktor global, asalkan strategi yang dijalankan tepat dan berkelanjutan. Dalam paparannya di hadapan peserta Liputan6.com, ia menguraikan peta jalan transformasi digital Indonesia dan di mana posisi strategis industri chip di dalamnya. Ia menyoroti perlunya investasi jangka panjang di bidang pendidikan teknik dan infrastruktur digital agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk teknologi, melainkan juga pemain kunci dalam manufaktur dan desain semikonduktor. Menurutnya, kebijakan insentif yang tepat sasaran akan mampu menarik lebih banyak investasi asing sekaligus menumbuhkan perusahaan rintisan berbasis perangkat keras. Perspektif global yang dibawa Harry melengkapi diskusi dengan sudut pandang yang lebih praktis dan berorientasi pada inovasi teknologi.
Dr. Eko Wahyuanto, Meramu Kebijakan Publik yang Inklusif
Pembicara keempat adalah Dr. Eko Wahyuanto, M.M., seorang pengamat kebijakan publik yang telah lama bergelut di ranah perumusan, implementasi, dan evaluasi kebijakan pemerintah. Gelar doktoral yang ia sandang menjadi bukti kedalaman akademiknya, sementara pengalaman langsung di lapangan memperkuat analisisnya yang kerap menjadi acuan media dan lembaga riset. Eko dikenal dengan pendekatannya yang menekankan dialog antara pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta sebagai syarat utama lahirnya kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan. Pada gelaran Liputan6.com kali ini, ia mengangkat isu kesenjangan antara desain kebijakan di tingkat pusat dengan realitas implementasi di daerah. Ia mencontohkan sejumlah regulasi yang secara normatif baik namun gagal efektif karena kurangnya koordinasi lintas lembaga dan minimnya partisipasi publik. Solusi yang ia tawarkan meliputi penguatan kapasitas aparatur daerah, digitalisasi layanan publik, dan mekanisme umpan balik warga yang lebih responsif. Bagi Eko, kebijakan publik bukan hanya dokumen hukum, melainkan kontrak sosial yang harus terus disempurnakan berdasarkan bukti dan kebutuhan riil masyarakat.
Kehadiran keempat tokoh tersebut dalam satu panggung menunjukkan komitmen Liputan6.com untuk menyuguhkan diskursus multidimensional kepada publik. Dari komunikasi politik lintas negara hingga nasib industri chip, dari tata kelola perusahaan negara hingga reformasi birokrasi, semuanya saling terkait dalam benang merah upaya memperkuat kedaulatan dan kesejahteraan bangsa. Kedalaman pengalaman yang dimiliki Didin Nasirudin, Laksamana Sukardi, Harry K Nugraha, dan Dr. Eko Wahyuanto menjadi modal intelektual berharga yang diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk terjun dalam ranah kebijakan, teknologi, dan diplomasi. Liputan6.com akan terus menyajikan liputan mendalam yang didukung oleh narasumber kredibel agar publik mendapatkan informasi yang akurat dan mencerahkan.
[TAGS]: Profil, Liputan6, Didin Nasirudin, Laksamana Sukardi, Harry K Nugraha, Eko Wahyuanto, Diskusi, Teknologi, Ekonomi, Kebijakan Publik [SOCIAL_TWEET]: Mengenal empat tokoh diskusi Liputan6.com: Didin Nasirudin (diplomasi digital), Laksamana Sukardi (ekonom politik), Harry K Nugraha (teknologi), dan Dr. Eko Wahyuanto (kebijakan publik). Simak profilnya. [SOCIAL_FB]: Liputan6.com menghadirkan empat pakar mumpuni dalam diskusi terkini: Didin Nasirudin sang pemerhati politik AS, Laksamana Sukardi mantan Menteri BUMN, Harry K Nugraha Country Manager Intel Indonesia, dan Dr. Eko Wahyuanto pengamat kebijakan publik. Setiap narasumber membawa perspektif unik yang memperkaya dialog. Baca profil lengkap mereka di artikel ini. [SOCIAL_TG]: Profil singkat empat tokoh diskusi Liputan6.com: 1) Didin Nasirudin, ahli diplomasi digital dan politik AS. 2) Laksamana Sukardi, mantan Menteri BUMN dan ekonom. 3) Harry K Nugraha, bos Intel Indonesia yang bicara semikonduktor. 4) Dr. Eko Wahyuanto, pengamat kebijakan publik. Selengkapnya di artikel. [SOCIAL_THREADS]: Liputan6.com baru saja menggelar diskusi yang mempertemukan empat tokoh dari latar belakang berbeda. Ada Didin Nasirudin yang paham seluk-beluk politik Amerika Serikat dan tengah mengambil doktoral komunikasi politik. Ada Laksamana Sukardi, mantan Menteri BUMN yang kritis soal kebijakan ekonomi. Lalu Harry K Nugraha, Country Manager Intel Indonesia, yang membahas masa depan semikonduktor. Dan Dr. Eko Wahyuanto, pengamat kebijakan publik yang menyoroti kesenjangan regulasi. Thread ini merangkum profil mereka.
Comments (0)