JAKARTA — Dunia perpajakan Indonesia memiliki banyak tokoh, tetapi hanya sedikit yang merangkap tiga peran sekaligus: birokrat, akademisi, dan peneliti kebijakan. Dr. Eko Ariyanto adalah salah satunya. Saat ini ia menjabat sebagai Fungsional Ahli Madya di Kementerian Keuangan (Kemenkeu), aktif mengajar sebagai dosen perpajakan di Taxcentre Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), serta menekuni riset kebijakan di Raramuri WPB. Kombinasi tiga dunia ini menempatkannya pada posisi yang unik, berada di persimpangan antara perumus kebijakan, pendidik generasi muda, dan pengkaji isu-isu fiskal secara mendalam.
Karier Panjang di Lingkungan Kemenkeu
Di lingkungan Kementerian Keuangan, Dr. Eko Ariyanto menempati jabatan Fungsional Ahli Madya. Berbeda dengan jabatan struktural yang melekat pada hierarki organisasi, jabatan fungsional menempatkan keahlian dan karya nyata sebagai dasar penilaian. Sebagai ahli madya di bidang perpajakan, ia berkecimpung dalam berbagai aspek administrasi perpajakan nasional, mulai dari pengelolaan penerimaan negara hingga upaya mendorong kepatuhan wajib pajak.
Pengalaman di institusi yang menjadi pengelola fiskal negara ini memberinya wawasan langsung tentang bagaimana kebijakan pajak dirancang, diuji, dan diimplementasikan. Wawasan semacam itu tidak mudah diperoleh dari buku teks, dan menjadi modal berharga ketika ia kemudian berpindah peran menjadi pendidik maupun peneliti. Kedekatan dengan proses pengambilan keputusan di tingkat birokrasi juga menjadikannya rujukan yang kredibel dalam setiap diskusi perpajakan yang ia ikuti.
Mengajar Perpajakan di Taxcentre FIA UI
Di luar tugas kedinasannya, Dr. Eko Ariyanto aktif sebagai dosen perpajakan di Taxcentre FIA UI. Taxcentre merupakan pusat kajian perpajakan di bawah Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia yang memadukan fungsi pendidikan, pelatihan, dan riset. Melalui pengajaran di kampus, ia memperkenalkan mahasiswa pada seluk-beluk sistem perpajakan Indonesia, termasuk aspek administrasi, kepatuhan, serta isu-isu perpajakan yang berkembang mengikuti dinamika ekonomi.
Kehadiran dosen dengan latar belakang birokrasi aktif memberikan warna tersendiri bagi perkuliahan. Mahasiswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga contoh nyata dari praktik administrasi perpajakan yang berjalan di lapangan. Cara penyampaian semacam ini membuat proses belajar menjadi lebih aplikatif dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja, sekaligus menjembatani kesenjangan yang kerap terjadi antara dunia akademik dan praktik kebijakan.
Peneliti Kebijakan di Raramuri WPB
Peran ketiga yang diembannya adalah sebagai peneliti kebijakan di Raramuri WPB. Lembaga ini bergerak di bidang kajian dan riset kebijakan publik dengan fokus pada isu-isu perpajakan dan fiskal. Sebagai peneliti, Dr. Eko Ariyanto terlibat dalam penyusunan analisis, pengolahan data, hingga perumusan rekomendasi kebijakan yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan, baik di pemerintahan maupun di luar pemerintahan.
Riset kebijakan memiliki peran strategis dalam ekosistem pemerintahan. Hasil kajian yang berbasis data dapat menjadi masukan objektif bagi pengambil keputusan di eksekutif maupun legislatif, sehingga kebijakan yang lahir diharapkan lebih tepat sasaran dan terukur dampaknya. Keberadaan peneliti dengan pengalaman birokrasi seperti Dr. Eko Ariyanto memperkuat kualitas kajian, karena analisis yang dihasilkan tidak lepas dari pemahaman nyata terhadap mekanisme kerja pemerintah.
Sinergi Birokrasi, Akademik, dan Riset
Yang menarik dari profil Dr. Eko Ariyanto adalah sinergi di antara ketiga perannya. Dari sisi birokrasi, ia memahami proses internal pembuatan kebijakan dan kendala yang dihadapi dalam implementasinya. Dari sisi akademik, ia terbiasa berpikir kritis, sistematis, dan berbasis teori. Dari sisi riset, ia memiliki ruang untuk mengkaji kebijakan secara lebih mendalam dan independen. Ketiga perspektif ini saling melengkapi dan menghasilkan pemahaman yang lebih utuh tentang persoalan perpajakan nasional.
Model karier seperti ini mencontohkan bagaimana seorang aparatur negara dapat memberi kontribusi yang lebih luas, tidak hanya di dalam institusinya, tetapi juga di ruang publik melalui pendidikan dan kajian. Perpaduan antara pengalaman teknis, kapasitas akademik, dan kedalaman riset menjadikannya figur yang dapat menjembatani komunikasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam diskursus kebijakan fiskal.
Dengan rekam jejak yang membentang di tiga ranah tersebut, nama Dr. Eko Ariyanto layak menjadi perhatian bagi siapa pun yang mengikuti perkembangan perpajakan dan kebijakan fiskal di Indonesia. Ketiga peran yang diembannya sekaligus menjadi bukti bahwa keahlian teknis dapat diterjemahkan menjadi kontribusi yang lebih luas bagi negara dan masyarakat.
Comments (0)