Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Said Agil Husin Al Munawar, menyerukan agar umat Islam tidak lagi memaknai masjid sekadar sebagai tempat ibadah ritual. Menurutnya, masjid dalam tradisi Islam memiliki fungsi jauh lebih luas, yakni sebagai pusat peradaban yang mencerdaskan umat dan menjawab persoalan sosial di sekitarnya.
"Masjid dalam Islam bukan tempat menyembah saja. Masjid adalah tempat menggembleng umat, tempat lahirnya peradaban," tegas Prof. Said Agil dalam keterangannya.
Pernyataan itu bukan seruan kosong. Dalam lintasan sejarah Islam, masjid memang menjadi episentrum pergerakan umat. Dari Masjid Quba hingga Masjid Nabawi, fungsi masjid melebar ke ranah pendidikan, ekonomi, hingga diplomasi. Prof. Said Agil menilai, pergeseran peran masjid modern menjadi sekadar bangunan megah tanpa program pemberdayaan adalah kemunduran yang perlu dikoreksi bersama.
Masjid sebagai Pusat Pendidikan dan Pemberdayaan Umat
Salah satu poin utama yang ditekankan Prof. Said Agil adalah perlunya masjid kembali menjadi ruang belajar. Ia menilai, takmir masjid perlu menyusun program yang menyentuh kebutuhan riil jemaah, bukan hanya kegiatan seremonial yang berhenti pada peringatan hari besar keagamaan.
- Pendidikan: Masjid diharapkan menghidupkan kembali majelis ilmu, kajian rutin, dan literasi keagamaan bagi berbagai kelompok usia.
- Pemberdayaan ekonomi: Masjid dapat menjadi simpul pengelolaan zakat, infak, sedekah, hingga pelatihan keterampilan bagi jemaah prasejahtera.
- Pelayanan sosial: Masjid berperan sebagai rumah singgah, pos kesehatan, dan pusat konseling bagi masyarakat sekitar.
- Penguatan karakter: Masjid menjadi benteng moral dalam menghadapi derasnya arus informasi dan disrupsi digital.
Menurutnya, masjid yang dikelola dengan manajemen modern dan program terukur akan berdampak langsung pada kualitas hidup umat. Ia menyoroti pentingnya sinergi antara pengurus masjid, lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan pelaku usaha untuk memperkuat ekosistem tersebut.
Kronologi Seruan dan Konteks Kelembagaan
- Prof. Said Agil Husin Al Munawar menyampaikan pandangan ini dalam kapasitasnya sebagai guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebuah kampus yang memiliki tradisi kajian masjid dan masyarakat.
- Ia memetakan persoalan bahwa banyak masjid hanya difungsikan untuk salat berjamaah dan kegiatan seremonial, sementara program pemberdayaan jemaah tidak berjalan.
- Ia mengajak takmir, ulama, akademisi, dan umat untuk mengembalikan masjid pada visi peradabannya, terutama dalam menghadapi persoalan sosial-ekonomi kontemporer.
- Seruan ini menjadi penegasan penting bahwa revitalisasi peran masjid tidak bisa berjalan sendiri, melainkan butuh kolaborasi lintas sektor.
Pendapat Prof. Said Agil sejalan dengan sejumlah kajian yang menyebut masjid berpotensi besar menjadi pusat pemberdayaan, terutama di kawasan perkotaan padat dan daerah dengan akses layanan publik terbatas. Namun, tantangan utamanya bukan pada minat jemaah, melainkan pada kapasitas manajemen dan transparansi tata kelola masjid.
Respons dan Tantangan ke Depan
Sejumlah pengurus masjid menilai gagasan tersebut relevan, terutama di tengah menipisnya ruang publik yang menampung aspirasi dan kebutuhan warga. Mereka menyoroti perlunya pelatihan berkelanjutan bagi takmir agar program masjid tidak berhenti pada wacana.
Pengamat menilai, revitalisasi fungsi masjid menuntut setidaknya tiga prasyarat: kepemimpinan yang visioner, keterbukaan pengelolaan, dan kemitraan strategis dengan pemangku kepentingan. Tanpa itu, masjid berisiko tetap terjebak sebagai bangunan fisik yang meriah saat acara, namun sepi saat jemaah membutuhkan solusi nyata.
Prof. Said Agil berharap, langkah ini menjadi gerakan bersama. Baginya, kemakmuran masjid bukan diukur dari kilau kubah dan keramiknya, melainkan dari seberapa besar ia mengubah keadaan umat di sekelilingnya. Seruan ini pun menjadi pijakan bagi upaya penguatan peran masjid sebagai pusat peradaban yang berdampak luas.
Masjid bukan hanya tempat salat, tapi tempat menggembleng umat. Tiga fungsi kunci yang perlu dihidupkan: • Pendidikan dan kajian ilmu • Pemberdayaan ekonomi jemaah • Pelayanan sosial dan penguatan karakter Kunci: kepemimpinan visioner, tata kelola transparan, dan kolaborasi lintas sektor.
Comments (0)