Prabowo Resmikan 5 Bendungan, Optimistis Tambah 1 Juta Ton Beras
Pemerintah meresmikan lima bendungan baru yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari percepatan pembangunan infrastruktur sumber daya air. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan k...
Pemerintah meresmikan lima bendungan baru yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari percepatan pembangunan infrastruktur sumber daya air. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan keyakinannya bahwa kehadiran bendungan-bendungan ini akan menjadi pijakan kokoh bagi penguatan ketahanan air nasional sekaligus mendorong pencapaian swasembada pangan yang dicanangkan. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa air adalah prasyarat mutlak pertanian produktif dan bendungan adalah instrumen strategis untuk merekayasa ketersediaan air sepanjang musim.
Pernyataan itu disampaikan di salah satu lokasi bendungan yang baru diresmikan, di hadapan para menteri, kepala daerah, dan kelompok tani. Presiden menjelaskan bahwa kelima bendungan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir dan penyedia air baku, tetapi terutama sebagai penggerak irigasi teknis yang mampu meningkatkan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua atau tiga kali setahun. Dengan dukungan irigasi yang lebih andal, ia memperkirakan tambahan produksi beras nasional bisa mencapai satu juta ton per tahun.
Lima Bendungan Strategis dan Sebarannya
Lima bendungan yang diresmikan meliputi Bendungan Margatiga di Lampung, Bendungan Cipanas di Jawa Barat, Bendungan Napun Gete di Nusa Tenggara Timur, Bendungan Tiga Dihaji di Sumatera Selatan, dan Bendungan Bulango Ulu di Gorontalo. Masing-masing bendungan memiliki kapasitas tampung bervariasi, dari 25 juta meter kubik hingga lebih dari 100 juta meter kubik, dan mampu mengairi lahan pertanian seluas antara 2.000 hingga 8.000 hektare secara langsung. Secara total, kelima bendungan ini akan mengairi sekitar 25.000 hektare sawah baru maupun lahan eksisting yang sebelumnya hanya mengandalkan tadah hujan.
Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, seluruh bendungan ini mulai dibangun sejak 2017 hingga 2020 dan menelan investasi total lebih dari Rp12 triliun. Pembangunannya sempat tertunda akibat pandemi dan kendala pembebasan lahan, namun akhirnya dapat diselesaikan pada triwulan pertama tahun ini. Dengan beroperasinya bendungan-bendungan ini, pemerintah menargetkan peningkatan produksi padi nasional hingga dua juta ton dalam dua tahun ke depan, separuh di antaranya berasal dari tambahan produksi di daerah irigasi baru yang didukung bendungan.
Presiden juga menginstruksikan agar daerah irigasi yang dilayani bendungan segera didukung dengan sarana produksi lain seperti jalan usaha tani, gudang, dan akses pasar agar manfaatnya langsung dirasakan petani. Ia menegaskan bahwa swasembada pangan bukan hanya soal menyediakan air, melainkan juga mengintegrasikan rantai pasok pertanian secara menyeluruh.
Dampak pada Produksi Padi dan Ketahanan Pangan
Estimasi tambahan satu juta ton beras dihitung berdasarkan asumsi bahwa setiap hektare sawah irigasi baru mampu menghasilkan 4–5 ton gabah kering panen per musim, dengan peningkatan indeks pertanaman menjadi dua kali setahun. Dengan luas total daerah irigasi yang terkoneksi bendungan mencapai 25.000 hektare, potensi produksi padi tambahan mencapai 200.000 ton gabah per musim atau setara 120.000 ton beras. Jika ditambah dengan perbaikan irigasi pada lahan eksisting yang mendapat pasokan air lebih stabil, maka proyeksi tambahan produksi beras nasional bisa melampaui 500.000 ton per tahun. Angka ini masih di bawah target satu juta ton karena pemerintah juga mengandalkan bendungan-bendungan lain yang masih dalam tahap konstruksi atau perencanaan.
Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Iwan Setiawan, menilai bahwa proyeksi tersebut realistis asalkan pemerintah konsisten dalam mengawal distribusi air hingga ke tingkat tersier dan memberikan pendampingan teknologi kepada petani. “Bendungan hanya salah satu komponen. Yang sering menjadi hambatan adalah terputusnya saluran irigasi dari pintu air bendungan ke petak sawah individu. Jika ini tidak dibenahi, penambahan produksi bisa di bawah potensi,” ujarnya dalam sebuah diskusi virtual.
Sementara itu, Menteri Pertanian menyebutkan bahwa kementeriannya telah menyiapkan program benih unggul dan mekanisasi pertanian untuk menyambut beroperasinya bendungan-bendungan ini. Target swasembada pangan tidak hanya bergantung pada ekspansi lahan irigasi, tetapi juga pada peningkatan produktivitas melalui varietas padi berumur pendek dan penggunaan alat tanam modern.
Komitmen Swasembada Pangan dan Ketahanan Air
Presiden Prabowo dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa swasembada pangan adalah harga mati bagi kedaulatan negara. Oleh karena itu, pembangunan bendungan akan terus dilanjutkan sebagai fondasi utama ketahanan air nasional. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan hujan. Iklim makin tak menentu, air harus kita pegang kendalinya,” ujar Presiden dalam pidato singkatnya. Ia juga meminta agar bendungan-bendungan yang telah dibangun dikelola dengan baik dan dijaga kelestarian daerah tangkapan airnya agar tidak cepat mengalami sedimentasi.
Pemerintah menargetkan pembangunan 15 bendungan tambahan hingga tahun 2028, yang akan menambah luas daerah irigasi baru sekitar 80.000 hektare dan diharapkan berkontribusi pada tambahan produksi beras hingga 3 juta ton. Dengan demikian, Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada impor beras yang selama ini membebani neraca perdagangan dan rawan terdampak fluktuasi harga global.
Peresmian lima bendungan ini menjadi tonggak penting dalam upaya mengkonsolidasikan sektor pertanian Indonesia menuju kemandirian pangan. Kepala daerah di lokasi bendungan menyambut positif dan berjanji akan mengoptimalkan pemanfaatan air untuk kesejahteraan petani setempat. Sementara itu, warga tani mulai merasakan langsung aliran air yang dulunya hanya ada saat musim hujan, kini tersedia secara terkontrol sepanjang tahun.
Baca juga:
Comments (0)