Prabowo: Peringkat Literasi Indonesia dalam PISA Jadi Peringatan
Jakarta, Lurusin — Dalam sebuah pernyataan resmi yang disampaikan di hadapan para pemangku kepentingan pendidikan, Presiden Prabowo Subianto menyoroti rendahnya peringkat kemampuan membaca masyaraka...
Jakarta, Lurusin — Dalam sebuah pernyataan resmi yang disampaikan di hadapan para pemangku kepentingan pendidikan, Presiden Prabowo Subianto menyoroti rendahnya peringkat kemampuan membaca masyarakat Indonesia berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA). Berdasarkan verifikasi, pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah harus menerima hasil PISA sebagai peringatan untuk melakukan pembenahan dalam meningkatkan kemampuan literasi nasional.
Klaim dan Konteks Pernyataan
Klaim bahwa peringkat literasi Indonesia versi PISA masih rendah bukanlah hal baru. Faktanya adalah, data menunjukkan bahwa Indonesia secara konsisten berada di bawah rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sejak partisipasi pertama pada tahun 2000. Namun, pernyataan Prabowo kali ini menekankan pentingnya sikap responsif terhadap data tersebut, bukan sekadar menerima sebagai kondisi statis.
Berdasarkan verifikasi dari dokumen resmi OECD, pada PISA 2022, skor membaca Indonesia tercatat 359 poin, turun dari 371 poin pada PISA 2018. Angka ini jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 476 poin. Sumber resmi tersebut juga menunjukkan bahwa sekitar 54% siswa Indonesia tidak mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca, yang berarti mereka kesulitan memahami teks sederhana.
Respons Pemerintah dan Langkah Pembenahan
Menanggapi data tersebut, Prabowo menegaskan bahwa hasil PISA harus menjadi pemicu evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum, metode pengajaran, dan akses bahan bacaan. Klaim bahwa pemerintah harus memperbaiki sistem pendidikan didukung oleh fakta bahwa Indonesia telah beberapa kali melakukan reformasi kurikulum, namun dampaknya terhadap skor PISA belum signifikan. Data menunjukkan bahwa sejak 2015, skor membaca Indonesia cenderung stagnan, bahkan cenderung menurun.
Pernyataan ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, karena disparitas kualitas pendidikan antarwilayah masih menjadi tantangan. Sumber resmi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah dasar hampir universal, tetapi kualitas pembelajaran di daerah terpencil masih tertinggal. Hal ini bertentangan dengan target nasional untuk mengejar ketertinggalan literasi.
Verifikasi Data dan Konteks Internasional
Berdasarkan verifikasi terhadap laporan OECD, peringkat Indonesia dalam membaca memang berada di posisi bawah, sekitar peringkat 68 dari 81 negara yang berpartisipasi dalam PISA 2022. Klaim bahwa peringkat ini masih rendah adalah akurat, tetapi perlu dicatat bahwa Indonesia juga menghadapi tantangan serupa dalam bidang matematika dan sains. Namun, fokus Prabowo pada kemampuan membaca menunjukkan prioritas pada literasi dasar sebagai fondasi pembelajaran sepanjang hayat.
Data menunjukkan bahwa negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand memiliki skor lebih tinggi, meskipun dengan kondisi ekonomi yang tidak jauh berbeda. Ini menunjukkan bahwa rendahnya peringkat bukan semata-mata karena faktor ekonomi, melainkan juga efektivitas kebijakan pendidikan. Sumber resmi dari Bank Dunia juga mengindikasikan bahwa peningkatan kualitas guru dan bahan ajar merupakan kunci utama.
Pernyataan Prabowo bahwa pemerintah harus menerima hasil PISA sebagai peringatan adalah langkah yang tepat secara kebijakan. Namun, faktanya adalah bahwa penerimaan data saja tidak cukup; diperlukan aksi nyata yang terukur. Beberapa program seperti Gerakan Literasi Sekolah telah diluncurkan, tetapi implementasinya belum konsisten di semua daerah. Bukti dari studi kasus di beberapa provinsi menunjukkan bahwa sekolah dengan akses perpustakaan yang baik memiliki skor membaca lebih tinggi.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Berdasarkan verifikasi menyeluruh, klaim bahwa peringkat baca Indonesia versi PISA masih rendah adalah BENAR. Data resmi OECD mendukung pernyataan tersebut. Namun, pernyataan Prabowo yang menekankan perlunya pembenahan juga relevan, meskipun harus diikuti dengan kebijakan konkret dan anggaran yang memadai. Tanpa langkah terukur, hasil PISA hanya akan menjadi catatan tahunan tanpa perubahan signifikan.
Kesimpulannya, pemerintah perlu fokus pada pelatihan guru, distribusi buku, dan penguatan kurikulum berbasis literasi. Data menunjukkan bahwa negara-negara dengan perbaikan cepat, seperti Estonia dan Irlandia, melakukan investasi besar pada kualitas guru. Indonesia harus belajar dari kasus tersebut untuk keluar dari perangkap skor rendah. Pernyataan Prabowo adalah langkah awal, tetapi eksekusi adalah kuncinya.
Comments (0)