Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Prabowo Gunakan Istilah 'Londo Ireng' untuk Kritikus Pemerintah

Sebuah pernyataan dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menuai sorotan setelah ia menggunakan istilah "londo ireng" untuk menyebut jurnalis, aktivis LSM, dan akademisi yang kritis terhadap pemerint...

Prabowo Gunakan Istilah 'Londo Ireng' untuk Kritikus Pemerintah

Sebuah pernyataan dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menuai sorotan setelah ia menggunakan istilah "londo ireng" untuk menyebut jurnalis, aktivis LSM, dan akademisi yang kritis terhadap pemerintah. Istilah dalam bahasa Jawa ini secara harfiah berarti "Belanda hitam", namun dalam konteks ini mengandung konotasi sindiran bagi pihak-pihak yang dianggap terlalu aktif mencari kesalahan dan mengkritik kebijakan yang dijalankan pemerintah.

Latar Belakang Pernyataan

Prabowo menyampaikan sindiran tersebut dalam sebuah forum diskusi beberapa waktu lalu. Dalam pandangan Prabowo, ada sekelompok intelektual dan profesional yang dinilai lebih berfokus pada kelemahan pemerintah ketimbang menawarkan solusi. Menurutnya, sikap seperti ini mirip dengan mentalitas "londo ireng", sebuah frasa yang dalam budaya Jawa sering digunakan untuk menggambarkan orang yang berpura-pura menjadi pengawas atau mengkritik habis-habisan tanpa memberikan kontribusi yang signifikan.

Penggunaan istilah ini tidak hanya mengundang pertanyaan tentang kebebasan berekspresi, tetapi juga memantik diskusi tentang hubungan antara pemerintah dan kelompok-kelompok pengawas yang dianggap sebagai pilar demokrasi. Di satu sisi, kritik dianggap sebagai bagian dari checks and balances, namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa kritik berlebihan dapat mengganggu konsolidasi kebijakan.

Makna dan Implikasi Istilah

Frasa "londo ireng" sendiri memiliki akar historis yang dalam. Istilah ini pernah digunakan dalam konteks kolonial untuk merujuk pada tentara Belanda berkulit hitam, namun dalam perkembangan bahasa sehari-hari, khususnya di beberapa daerah di Jawa, ia bertransformasi menjadi metafora bagi seseorang yang bersikap seolah-olah memiliki otoritas untuk menghakimi atau terus-menerus mencari-cari kesalahan orang lain.

Dalam konteks politik kontemporer, penggunaan istilah ini oleh seorang tokoh setingkat Prabowo dapat dilihat sebagai upaya untuk mempertegas posisi pemerintah bahwa tidak semua kritik bersifat konstruktif. Namun, para pengamat politik menilai bahwa hal ini bisa menjadi preseden buruk jika dimaknai sebagai sikap anti-kritik. Sebab, jurnalis, LSM, dan akademisi memiliki peran strategis dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas publik.

Respons dari Kalangan Terkait

Hingga berita ini ditulis, sejumlah organisasi jurnalis dan aktivis LSM mulai menyikapi pernyataan tersebut dengan beragam. Beberapa menyebutnya sebagai bagian dari retorika politik yang tidak perlu dibesar-besarkan, namun ada pula yang melihatnya sebagai sinyal pengkerdilan peran masyarakat sipil. Mereka mengingatkan bahwa fungsi kontrol sosial adalah elemen fundamental dalam sistem demokrasi yang sehat, dan oleh karenanya, pemerintah tidak boleh bersikap defensif berlebihan terhadap kritik yang muncul.

Di kalangan akademisi, ada kekhawatiran bahwa pelabelan semacam ini bisa menciptakan iklim ketidaknyamanan dalam dunia riset dan diskusi intelektual. Jika para akademisi dan peneliti merasa diawasi atau dicap negatif karena hasil kerja mereka yang kritis, maka inovasi dan perbaikan kebijakan berbasis data akan terganggu.

Konteks Politik dan Kebebasan Berpendapat

Peristiwa ini terjadi di tengah dinamika politik yang semakin kompleks menjelang tahun politik. Pemerintah di bawah koalisi besar menghadapi berbagai tantangan yang menuntut kolaborasi banyak pihak. Dalam situasi seperti ini, penting untuk membedakan antara kritik membangun dengan ujaran yang bersifat destruktif. Penggunaan label seperti "londo ireng" dikhawatirkan dapat mengaburkan batas tersebut dan menciptakan polarisasi yang tidak perlu.

Di era demokrasi modern, kebebasan berpendapat dilindungi oleh konstitusi, namun tanggung jawab moral dan etika tetap harus dijunjung oleh semua pihak. Dialog yang produktif antara pemerintah dan masyarakat sipil merupakan kunci keberhasilan pembangunan yang inklusif. Oleh karena itu, diharapkan semua pihak dapat menahan diri dan mengedepankan komunikasi yang lebih substansial ketimbang saling melabeli.

Kesimpulan

Meskipun Prabowo tidak menjelaskan secara rinci maksud di balik istilah "londo ireng", pernyataannya telah membuka babak baru dalam wacana hubungan pemerintah dengan kelompok pengawas. Apakah ini hanya sekadar candaan politik atau cerminan dari sikap yang lebih dalam, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Yang jelas, peristiwa ini menjadi pengingat bagi semua elemen bangsa akan pentingnya menjaga keseimbangan antara mendukung pemerintah dan memastikan tidak ada ruang yang tertutup bagi kritik yang sehat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User