Jakarta — BCA Finance mencatatkan akselerasi signifikan pada penyaluran pembiayaan kendaraan listrik sepanjang 2026. Porsi pembiayaan segmen elektrifikasi naik dari 7 persen menjadi 15 persen dari total portofolio perusahaan, sejalan dengan permintaan pasar yang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.
Pencapaian ini menandai pergeseran struktur bisnis pembiayaan kendaraan di Indonesia. Kendaraan listrik tidak lagi diposisikan sebagai produk pelengkap, melainkan segmen pertumbuhan utama yang menyumbang porsi signifikan terhadap penyaluran baru. Manajemen perusahaan menilai tren tersebut akan berlanjut seiring dukungan kebijakan pemerintah dan semakin matangnya ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri.
Lonjakan Hampir Dua Kali Lipat dalam Setahun
Berdasarkan data internal perseroan, kenaikan porsi pembiayaan kendaraan listrik dari 7 persen menjadi 15 persen berarti pertumbuhan hampir dua kali lipat dalam periode satu tahun. Laju pertumbuhan segmen ini melampaui penyaluran kredit kendaraan konvensional yang tumbuh pada laju moderat, karena pasar mobil berbahan bakar bensin dan diesel dinilai telah berada pada fase matang.
Dari sisi angka absolut, lonjakan tersebut ditopang oleh volume penjualan kendaraan listrik nasional yang terus mencetak rekor. Sebagian besar transaksi pembelian kendaraan di Indonesia masih mengandalkan skema kredit, sehingga setiap kenaikan penjualan unit di pasar otomotif domestik berbanding lurus dengan kenaikan permintaan pembiayaan dari perusahaan multifinance.
Perusahaan juga mencatat adanya pergeseran profil konsumen. Pembeli kendaraan listrik tidak lagi didominasi segmen korporasi atau armada, tetapi mulai merambah konsumen ritel perorangan, termasuk pekerja perkotaan yang menjadikan kendaraan listrik sebagai kendaraan utama harian.
Faktor Pendorong Pertumbuhan
Setidaknya ada tiga faktor utama yang mendorong akselerasi pembiayaan kendaraan listrik. Pertama, insentif fiskal dari pemerintah berupa pengurangan pajak pertambahan nilai dan berbagai stimulus lain yang membuat harga kendaraan listrik semakin kompetitif dibandingkan kendaraan konvensional. Selisih harga yang menyempit menjadi katalis utama keputusan konsumen beralih ke kendaraan listrik.
Kedua, biaya operasional yang lebih rendah. Konsumen mempertimbangkan efisiensi energi dan biaya perawatan kendaraan listrik yang lebih ringan dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal, sehingga total biaya kepemilikan menjadi lebih menarik dalam jangka panjang.
Ketiga, meluasnya pilihan produk. Semakin banyak pabrikan yang meluncurkan model kendaraan listrik dengan rentang harga yang beragam, dari kendaraan entry-level hingga premium. Keberagaman ini memperluas pasar sasaran pembiayaan dan memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam menyusun skema kredit yang sesuai dengan profil risiko masing-masing segmen.
Strategi Ekspansi Portofolio
Untuk menjaga momentum, BCA Finance memperkuat kerja sama dengan jaringan dealer kendaraan listrik dan mengembangkan produk pembiayaan yang lebih fleksibel, termasuk skema uang muka ringan dan tenor panjang. Perusahaan juga memanfaatkan digitalisasi proses pengajuan kredit agar persetujuan pembiayaan dapat diproses lebih cepat.
Selain itu, perusahaan terus memperbarui sistem penilaian risiko untuk menyesuaikan karakteristik aset kendaraan listrik, termasuk pertimbangan nilai jual kembali dan perkembangan teknologi baterai. Manajemen risiko yang disiplin menjadi prasyarat agar pertumbuhan portofolio tidak mengorbankan kualitas aset.
Tantangan yang Masih Mengadang
Meski tumbuh pesat, segmen pembiayaan kendaraan listrik masih menghadapi sejumlah tantangan. Tingkat suku bunga yang relatif tinggi dapat menahan laju permintaan, sementara infrastruktur pengisian daya yang belum merata masih menjadi pertimbangan bagi konsumen di luar kota besar.
Nilai jual kembali kendaraan listrik bekas juga masih menjadi perhatian, mengingat pasar kendaraan listrik bekas belum sematang kendaraan konvensional. Perusahaan menyikapi hal ini dengan penilaian aset yang konservatif dan skema pembiayaan yang disesuaikan.
Kendati demikian, prospek jangka panjang tetap positif. Dengan dukungan regulasi, penurunan biaya produksi baterai, dan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap efisiensi energi, porsi pembiayaan kendaraan listrik berpeluang terus bertumbuh. Pencapaian 15 persen pada 2026 menjadi landasan bagi target yang lebih ambisius pada tahun-tahun berikutnya, seiring transformasi industri otomotif nasional menuju elektrifikasi.
Comments (0)