Organisasi Palang Merah Indonesia (PMI) resmi menapaki usia ke-81 pada 17 September 2026. Momentum peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat atas pertarungan diplomasi panjang dan dorongan kedaulatan kemanusiaan yang telah dirintis jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia berkumandang.
Penelusuran dokumen historis kepalangmerahan nasional memperlihatkan bahwa keberadaan PMI lahir dari resistensi terhadap hegemoni kolonial. Lembaga kemanusiaan ini bertransformasi dari instrumen kekuasaan asing menjadi benteng pertolongan pertama yang dikelola secara independen oleh putra-putri bangsa.
Dominasi Kolonial NERKAI dan Keterbatasan Akses Medis
Akar kegiatan kepalangmerahan di Nusantara tercatat bermula pada 1873 lewat pendirian Het Nederland-Indische Rode Kruis oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Lembaga tersebut di kemudian hari berganti nama menjadi NERKAI (Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indie). Keberadaan NERKAI kala itu berfokus melayani kepentingan serdadu serta warga kolonial, menyisakan jurang pemisah bagi masyarakat pribumi yang membutuhkan perlindungan medis.
Ketika peralihan kekuasaan berlangsung akibat invasi militer Jepang pada 1942, operasional NERKAI dibekukan. Namun, kekosongan tersebut justru mempercepat konsolidasi para tokoh medis lokal untuk menyusun cetak biru organisasi kepalangmerahan nasional yang mandiri.
Diplomasi Medis Pribumi: Perjuangan Senduk dan Bahder Djohan
Gagasan mendirikan badan palang merah independen sejatinya telah dipelopori sejak 1932 oleh dua figur medis pergerakan, yakni dr. RCL Senduk dan dr. Bahder Djohan. Keduanya menilai kedaulatan pelayanan medis darurat harus berada di tangan bangsa sendiri guna menjamin netralitas dan pemerataan akses.
"Upaya pembentukan organisasi kemanusiaan nasional bukan sekadar urusan logistik medis, melainkan simbol legitimasi kedaulatan sebuah bangsa di mata hukum kemanusiaan internasional," catat arsip sejarah kepalangmerahan nasional.
Pada kongres NERKAI tahun 1940, delegasi pribumi secara resmi mengajukan proposal pembentukan Palang Merah Indonesia. Proposal tersebut ditolak mentah-mentah oleh otoritas Belanda karena kekhawatiran hilangnya kontrol politik. Kendati demikian, penolakan itu tidak menghentikan pergerakan bawah tanah tenaga medis pribumi.
Kronologi Transformasi Pembentukan Palang Merah Indonesia
- Tahun 1873: Pembentukan Het Nederland-Indische Rode Kruis sebagai embrio awal layanan palang merah kolonial Belanda di Batavia.
- Tahun 1932: Gagasan pembentukan Palang Merah pribumi pertama kali diusung secara sistematis oleh dr. RCL Senduk dan dr. Bahder Djohan.
- Tahun 1940: Pengajuan proposal kemandirian Palang Merah ditolak secara resmi dalam sidang Kongres NERKAI.
- 3 September 1945: Presiden Soekarno mengeluarkan instruksi resmi kepada Menteri Kesehatan dr. Boentaran Martoatmodjo untuk membentuk badan Palang Merah Nasional.
- 17 September 1945: Pengurus Besar PMI resmi terbentuk di bawah kepemimpinan Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua pertama.
Tantangan Modernitas dan Penguatan Layanan Donor Darah
Memasuki usia ke-81, spektrum kerja PMI telah meluas melampaui tugas kedaruratan perang masa lalu. Kini, fokus investigasi dan evaluasi tertuju pada tata kelola logistik donor darah, mitigasi bencana hidrometeorologi, serta integrasi teknologi dalam manajemen tanggap darurat.
Dengan jaringan unit donor darah di ratusan kabupaten/kota, PMI dituntut mempertahankan standar transparansi dan akurasi distribusi darah. Perjalanan panjang dari era penolakan NERKAI hingga pengakuan global membuktikan bahwa institusi ini tetap menjadi pilar vital dalam ketahanan kesehatan nasional.
Gagasan kemandirian PMI lahir dari inisiasi dokter pribumi pada 1932 yang sempat ditolak kolonial Belanda. Bagaimana kronologi lengkap hingga berdirinya organisasi kemanusiaan terbesar nasional ini? Baca selengkapnya di situs Lurusin.com.
Comments (0)