Di bawah rindangnya kanopi hutan Desa Galam, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, guguran buah kemiri matang tidak lagi sekadar menjadi komoditas mentah bernilai rendah. Masyarakat setempat kini membuktikan bahwa kelestarian tutupan pohon dan peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga dapat berjalan beriringan melalui skema hilirisasi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
Praktik pemanfaatan pohon kemiri (Aleurites moluccanus) di kawasan penyangga Pegunungan Meratus ini menjadi antitesis dari praktik perambahan hutan konvensional. Alih-alih menebang tegakan pohon untuk kayu atau membuka lahan monokultur skala besar, warga memilih merawat pohon kemiri produktif yang telah tumbuh puluhan tahun guna memanen bijinya secara berkelanjutan.
Kronologi Transformasi: Dari Komoditas Murah Menuju Produk Bernilai Tambah
Langkah warga Desa Galam keluar dari jerat penjualan bahan mentah melalui proses bertahap yang terekam dalam catatan komunitas:
- Periode Ketergantungan Tengkulak (Sebelum 2021): Petani hanya memungut buah jatuh dan menjual kemiri gelondongan berkulit keras ke perantara dengan harga sangat rendah, berkisar antara Rp4.000 hingga Rp6.000 per kilogram, sehingga pendapatan warga sangat rentan terhadap fluktuasi pasar.
- Inisiasi Kelompok dan Pengadaan Mesin (2021–2023): Didampingi pengelola kehutanan lokal, warga membentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) dan mulai mengadopsi alat pemecah cangkang mekanis serta mesin pemeras minyak kemiri skala rumahan.
- Ekspansi Hilirisasi Terintegrasi (2024–Sekarang): Olahan kemiri berkembang menjadi produk bernilai jual tinggi, mulai dari kemiri kupas kualitas premium, minyak kemiri murni (candlenut oil) untuk perawatan rambut dan kulit, hingga pengolahan limbah cangkang menjadi briket arang berdaya bakar tinggi.
"Dulu kami merasa hutan hanya bernilai jika kayunya ditebang. Sekarang polanya terbalik: semakin rindang pohon kemiri dijaga, semakin banyak buah yang kami panen setiap musim tanpa merusak satu batang pohon pun," ujar salah seorang penggerak kelompok tani setempat.
Dampak Ekonomi dan Penyelamatan Ekosistem
Hilirisasi mandiri ini membawa lompatan pendapatan yang signifikan bagi rumah tangga di Desa Galam. Data kelompok tani menunjukkan penjualan kemiri dalam bentuk olahan memberikan margin keuntungan berkali-kali lipat:
- Kemiri Kupas Bersih: Mencapai nilai jual Rp35.000 hingga Rp45.000 per kilogram di pasar konsumsi rumah tangga dan industri kuliner.
- Minyak Kemiri Murni: Dijual dalam kemasan botol dengan valuasi setara Rp150.000 hingga Rp200.000 per liter untuk pasar kosmetik herbal.
- Pemanfaatan Limbah Cangkang: Limbah keras yang sebelumnya dibuang kini diubah menjadi briket dengan nilai jual Rp8.000 per kilogram, mewujudkan prinsip zero waste.
Model ekonomi hijau berbasis kemiri di Tanah Laut ini menjadi bukti nyata bahwa konservasi lingkungan tidak harus mengorbankan mata pencaharian warga lokal, melainkan justru memperkuat daya tahan ekonomi desa berbasis sumber daya hayati berkelanjutan.
Comments (0)