Suasana Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Jumat pagi (11/9/2026) tampak tidak sehangat biasanya. Di antara lorong-lorong sempit yang biasa diramaikan oleh riuh tawar-menawar, kini bayang-bayang ketegangan menyelimuti para pedagang dan pembeli. Pantauan langsung tim Lurusin.com menunjukkan adanya lonjakan harga komoditas pangan yang signifikan, terutama pada sektor bumbu dapur dan beras. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa, melainkan indikasi kuat dari distorsi sistematis dalam alur rantai pasok pangan yang mengalir ke Ibu Kota.
Para pembeli yang menyusuri lapak-lapak bahan pokok terpaksa menahan napas saat mendengar penetapan harga dari para pedagang. Komoditas vital seperti cabai merah keriting, bawang merah, hingga beras kualitas medium mengalami lonjakan drastis yang kian menggerus daya beli masyarakat menengah ke bawah di kawasan perkotaan.
Jeritan Pedagang dan Lonjakan Komoditas Utama
Kenaikan paling tajam tercatat pada kelompok hortikultura. Cabai merah keriting yang pada pekan sebelumnya dijual pada kisaran Rp45.000 per kilogram, kini menembus angka fantastis Rp85.000 per kilogram. Sementara itu, harga beras medium terus merangkak naik dan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
| Komoditas Pangan | Harga Normal (per kg) | Harga (11 Sept 2026) | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| Cabai Merah Keriting | Rp45.000 | Rp85.000 | 88,8% |
| Bawang Merah | Rp32.000 | Rp50.000 | 56,2% |
| Beras Medium | Rp13.500 | Rp16.000 | 18,5% |
| Minyak Goreng Kemasan | Rp16.000 | Rp20.000 | 25,0% |
Kondisi ini memicu keluhan berat dari para pedagang yang mendapati omzet harian mereka merosot tajam akibat keengganan konsumen membeli dalam jumlah normal.
"Pembeli sekarang rata-rata beli ketengan. Cabai yang biasanya dibeli sekilo, sekarang cuma seperempat. Kami pedagang serba salah, modal dari tingkat distributor pasar induk sudah sangat tinggi," ujar Sumarni (52), pedagang bumbu dapur yang telah berjualan selama dua dekade di Pasar Kebayoran Lama.
Mengurai Benang Kusut Rantai Distribusi
Hasil penelusuran lebih lanjut di lapangan mengindikasikan bahwa lonjakan harga ini tidak semata-mata disebabkan oleh gangguan cuaca di daerah penghasil seperti Garut dan Brebes. Terdapat hambatan struktural yang cukup tebal dalam rantai distribusi dari tengkulak daerah menuju pasar induk di Jakarta. Panjangnya alur perantara membuat margin harga membengkak sebelum bahan pangan sampai ke tangan pedagang eceran Pasar Kebayoran Lama.
Pola alokasi pasokan yang tersendat ini dinilai menguntungkan sebagian pihak pengumpul skala besar yang diduga menahan stok komoditas untuk memicu kelangkaan buatan di pasar regional.
"Ketika terjadi pergeseran pasokan atau hambatan di tingkat distributor utama, pasar tradisional seperti Kebayoran Lama adalah pihak yang paling cepat merasakan efek dominonya. Pemerintah daerah bersama satgas pangan harus segera mengaudit alur distribusi ini," penjelas dari ekonom pertanian independen, Dr. Hendra Wijaya.
Dampak Sosial dan Desakan Intervensi Pasar
Melonjaknya harga bahan baku pokok ini langsung berimbas pada sektor usaha mikro, khususnya para pelaku usaha kuliner skala kecil di sekitar Jakarta Selatan. Daya beli masyarakat yang tergerus memaksa pedagang makanan matang mengurangi porsi jualan atau menaikkan harga jual yang berisiko ditinggal pelanggan.
Kekhawatiran akan peningkatan inflasi daerah memicu desakan publik agar pihak terkait, seperti Perum Bulog dan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, segera mengambil langkah konkrit. Warga dan pedagang membutuhkan operasi pasar murah yang menyasar langsung titik eceran, bukan sekadar peninjauan seremonial tanpa solusi jangka panjang.
Jika transparansi data pasokan dan penindakan tegas terhadap permainan rantai distribusi tidak segera dilakukan, ketidakstabilan harga pangan di Pasar Kebayoran Lama dikhawatirkan akan terus memburuk dan meluas ke pasar-pasar tradisional lainnya di wilayah DKI Jakarta.
Pantauan Jumat (11/9/2026) mencatat kenaikan harga cabai merah keriting hingga Rp85.000/kg dan beras melebih HET. Apa yang sebenarnya terjadi pada rantai distribusi pasokan pangan Jakarta? Baca ulasan lengkapnya di Lurusin.com!
Comments (0)