Pesanan Seragam Sekolah di Depok Anjlok Jelang Tahun Ajaran
Depok, Lurusin.com – Menjelang tahun ajaran 2026/2027, sejumlah rumah konveksi di Kota Depok justru menghadapi kenyataan pahit. Salah satunya adalah Fia Bu
Depok, Lurusin.com – Menjelang tahun ajaran 2026/2027, sejumlah rumah konveksi di Kota Depok justru menghadapi kenyataan pahit. Salah satunya adalah Fia Busana di kawasan Sawangan yang biasanya kebanjiran pesanan seragam sekolah pada musim seperti ini. Kamera Lurusin.com mengabadikan seorang pekerja tengah menyelesaikan potongan seragam yang kini hanya tersisa beberapa lembar, Rabu (08/07/2026). Suasana produksi tampak lengang; tak lagi riuh dengan suara mesin jahit bersahutan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Penurunan Pesanan yang Signifikan
Pemilik Fia Busana, Ibu Aminah (52), mengungkapkan bahwa jumlah pesanan seragam tahun ini merosot hingga 40 persen dibandingkan periode Juli 2025. "Biasanya H-2 minggu masuk sekolah, kami bisa terima 3.000 potong pakaian. Sekarang, paling banter 1.800 potong. Padahal bahan sudah kami siapkan," keluhnya. Data internal Fia Busana menunjukkan bahwa pemesanan dari SD hingga SMA sederajat mengalami penurunan paling tajam, terutama dari sekolah swasta yang biasanya memesan dalam jumlah besar.
"Orang tua banyak yang memilih membeli seragam jadi di pasar online karena harganya lebih murah," ujar Aminah.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Fia Busana. Tiga konveksi lain di sekitar Depok, seperti Berkah Tailor dan An-Nur Konveksi, juga melaporkan tren serupa. Bahkan, Berkah Tailor terpaksa mengurangi jam kerja delapan pegawainya karena minimnya order.
Faktor Ekonomi dan Perubahan Sistem Sekolah
Para pelaku usaha melihat setidaknya tiga penyebab utama penurunan ini:
- Melemahnya daya beli masyarakat – Harga bahan baku seperti kain drill dan katun naik 15-25 persen, sementara upah minimum hanya naik tipis. Banyak wali murid menunda pembelian seragam baru dan lebih memilih memperbaiki seragam lama.
- Maraknya seragam impor murah – Platform daring memasarkan seragam siap pakai dengan harga 30-40 persen lebih rendah, menggerus pasar konveksi lokal.
- Kebijakan sekolah – Sejumlah sekolah negeri di Depok kini menerapkan sistem seragam bebas (non-branded) yang bisa dibeli di toko mana pun, mengurangi ketergantungan pada konveksi langganan.
Akibatnya, rumah produksi harus putar otak. "Kami coba tawarkan paket hemat, seperti seragam gratis satu stel untuk setiap pembelian empat stel. Tapi ya tetap saja, banyak yang menawar," tambah Aminah.
Harapan Pengusaha Konveksi
Meski kondisi belum membaik, para pengusaha masih menaruh asa pada pekan terakhir sebelum masuk sekolah yang jatuh pada 21 Juli 2026. Mereka berharap adanya belanja mendadak (panic buying) dari orang tua yang menunda. Pemerintah Kota Depok diharapkan turut memberi stimulus, misalnya dengan memprioritaskan UMKM lokal dalam pengadaan seragam untuk program bantuan siswa miskin.
Sementara itu, pekerja harian konveksi mulai mencari penghasilan tambahan. "Saya sekarang jahit sprei dan gorden di rumah tetangga karena di sini sepi," kata Sari (35), salah satu penjahit Fia Busana. Potret tersebut menjadi cermin betapa sektor mikro masih rentan terhadap gejolak ekonomi dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
[SOCIAL_TWEET]: Pesanan seragam sekolah di Depok anjlok 40 persen! Daya beli turun, seragam impor makin menggoda. Pelaku konveksi lokal mulai gigit jari. #UMKMDepok #SeragamSekolah #EkonomiKreatif[SOCIAL_TG]: ✂️ Pesanan seragam sekolah di Depok turun drastis! Konveksi Fia Busana hanya terima 1.800 potong, biasanya 3.000. 😞 Harga bahan naik, seragam online murah, dan kebijakan baru bikin usaha kecil terpukul. #UMKMHarusBertahan
Comments (0)