Aug 29, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Pertamina Siap Kembangkan Ekosistem Penyimpanan Karbon untuk Target NZE 2060

PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapannya untuk membangun ekosistem penangkapan dan penyimpanan karbon secara menyeluruh di Indonesia. Inisiatif tersebut dirancang sebagai bagian dari upaya korpor...

Pertamina Siap Kembangkan Ekosistem Penyimpanan Karbon untuk Target NZE 2060

PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapannya untuk membangun ekosistem penangkapan dan penyimpanan karbon secara menyeluruh di Indonesia. Inisiatif tersebut dirancang sebagai bagian dari upaya korporasi dalam mendukung agenda nasional menuju pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Dengan kapasitas infrastruktur energi yang dimiliki, perusahaan pelat merah ini menempatkan teknologi dekarbonisasi sebagai salah satu pilar utama transformasi bisnisnya.

Komitmen Korporasi dalam Agenda Dekarbonisasi

Pertamina menegaskan bahwa pengembangan ekosistem penangkapan dan penyimpanan karbon, atau yang dikenal dengan carbon capture and storage (CCS), menjadi prioritas dalam peta jalan transisi energi perusahaan. Melalui pendekatan ini, karbon dioksida yang dihasilkan dari proses industri dapat ditangkap, diangkut, dan disimpan pada formasi geologis yang aman di bawah permukaan bumi. Hal ini dinilai mampu menekan emisi secara signifikan tanpa harus menghentikan aktivitas produksi energi yang masih dibutuhkan masyarakat.

Dalam praktiknya, CCS menggabungkan tiga tahap utama. Tahap pertama adalah penangkapan emisi karbon dari sumbernya, baik dari cerobong pabrik maupun fasilitas pembangkit. Tahap kedua melibatkan proses kompresi dan transportasi karbon menuju lokasi penyimpanan. Adapun tahap ketiga adalah injeksi karbon ke dalam reservoir bawah tanah yang telah terverifikasi keamanannya. Ketiga tahap tersebut membutuhkan integrasi teknologi, investasi besar, serta dukungan regulasi yang jelas dari pemerintah.

Peran CCS dalam Peta Jalan NZE 2060

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target emisi nol bersih pada 2060 sebagai komitmen global dalam menekan laju perubahan iklim. Untuk merealisasikan target tersebut, seluruh sektor dituntut melakukan pengurangan emisi secara bertahap dan terukur. Sektor energi, yang selama ini menjadi penyumbang emisi terbesar, menjadi fokus utama dalam program dekarbonisasi nasional.

Berdasarkan verifikasi sejumlah kajian, teknologi CCS diproyeksikan menjadi salah satu instrumen kunci untuk menjembatani masa transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan. Sebab, sebagian emisi dari pembangkit dan industri berat sulit dihilangkan hanya dengan mengandalkan peralihan sumber energi. Dalam kondisi seperti ini, penyimpanan karbon menjadi opsi teknis yang paling realistis untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan komitmen lingkungan.

Keberadaan potensi geologis Indonesia menjadi nilai tambah tersendiri. Cekungan sedimen yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk bekas lapangan minyak dan gas bumi yang telah selesai berproduksi, dapat difungsikan sebagai lokasi penyimpanan karbon. Dengan kata lain, infrastruktur yang sudah ada dapat dialihfungsikan sehingga menekan biaya pengembangan dibandingkan membangun fasilitas baru dari nol.

Potensi Ekonomi dan Tantangan Implementasi

Pengembangan ekosistem CCS tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Industri jasa terkait, seperti penyediaan teknologi penangkapan karbon, transportasi, hingga monitoring reservoir, berpotensi tumbuh seiring maraknya proyek penyimpanan karbon. Selain itu, Indonesia berpeluang menjadi hub penyimpanan karbon regional mengingat kapasitas geologisnya yang besar.

Meski demikian, implementasi teknologi ini menghadapi sejumlah tantangan. Biaya investasi awal yang tinggi menjadi hambatan utama, mengingat proses penangkapan dan injeksi karbon membutuhkan peralatan canggih serta konsumsi energi yang tidak sedikit. Di sisi lain, aspek regulasi dan insentif fiskal masih perlu diperkuat agar proyek-proyek CCS menarik bagi investor. Kesiapan sumber daya manusia yang memahami teknologi ini juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri.

Dampak bagi Industri dan Lingkungan

Apabila ekosistem CCS terbentuk secara utuh, dampaknya akan terasa pada dua sisi sekaligus. Dari sisi industri, perusahaan dapat mempertahankan operasionalnya sembari menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan. Sementara dari sisi lingkungan, konsentrasi karbon dioksida di atmosfer dapat ditekan secara bertahap, sejalan dengan target penurunan emisi nasional.

Langkah Pertamina dalam membangun ekosistem ini dinilai sejalan dengan arah kebijakan energi nasional yang mendorong pemanfaatan teknologi bersih. Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, regulator, hingga pelaku industri, pengembangan CCS diyakini dapat berjalan sesuai rencana. Komitmen ini sekaligus menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih strategis dalam percaturan transisi energi global.

Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan, transparansi data emisi, serta keseriusan seluruh pihak dalam mengawal setiap tahapan proyek. Jika seluruh elemen berjalan selaras, target emisi nol bersih pada 2060 bukan sekadar wacana, melainkan capaian yang dapat diwujudkan dengan terukur.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User