Pengapalan PC Global Anjlok 4,9 Persen, Pedagang Laptop Pasrah Hadapi Krisis
Pasar komputer pribadi (PC) global kembali diterpa gelombang pesimisme setelah lembaga riset pasar ternama, IDC, melaporkan bahwa pengapalan PC pada kuarta
Pasar komputer pribadi (PC) global kembali diterpa gelombang pesimisme setelah lembaga riset pasar ternama, IDC, melaporkan bahwa pengapalan PC pada kuartal kedua tahun 2026 mengalami kontraksi tahunan (year-over-year/YoY) sebesar 4,9 persen. Angka ini menjadi tamparan keras bagi industri yang sebelumnya berharap momentum Windows 10 end-of-life akan mendongkrak permintaan. Faktanya, krisis pasokan chip memori, inflasi komponen, dan perubahan perilaku konsumen membuat penjualan justru semakin terpuruk, terutama di segmen laptop dan desktop kelas menengah.
Di Jakarta Pusat, tepatnya di kompleks pertokoan elektronik Harco Mangga Dua, suasana lesu terpancar dari wajah para pedagang. Laptop dan PC rakitan yang dulu laris manis kini lebih banyak menjadi pajangan. Beberapa toko bahkan memilih beralih menjual aksesori dan jasa reparasi untuk bertahan. “Dulu sehari bisa menjual tiga sampai lima laptop, sekarang seminggu dapat satu saja sudah syukur,” ujar Andri Setiawan, pemilik toko komputer di lantai 2 Harco Mangga Dua. Keresahan senada terdengar dari pedagang daring di marketplace yang harus bersaing tidak hanya dengan sesama penjual, tetapi juga dengan maraknya laptop bekas impor yang dijual dengan harga lebih kompetitif.
Akar Masalah: Krisis Chip Memori dan Perubahan Prioritas Konsumen
Menurut data IDC, total pengapalan PC di seluruh dunia pada Q2 2026 hanya mencapai 58,3 juta unit, turun dari 61,3 juta unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan paling tajam terjadi pada kategori laptop, yang menyusut 6,1 persen. Penyebab utama dari kontraksi ini adalah melonjaknya harga chip memori DRAM dan NAND flash akibat gangguan produksi di pabrik-pabrik utama Taiwan dan Korea Selatan. Bencana alam dan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut memperparah situasi sehingga biaya bahan baku melambung hingga 30 persen dalam enam bulan pertama 2026.
Kenaikan biaya produksi mau tidak mau dibebankan ke konsumen melalui peningkatan harga jual. Laptop yang setahun lalu dijual seharga Rp 7 jutaan kini melonjak ke kisaran Rp 9–10 juta dengan spesifikasi serupa. Kenaikan ini terjadi di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih pascapandemi. Alhasil, banyak konsumen memutuskan menunda pembelian, atau beralih ke alternatif seperti laptop rekondisi (refurbished) yang kini semakin mudah didapatkan melalui platform e-commerce.
“Pasar PC sedang berada dalam badai yang sempurna. Kenaikan harga komponen, ketidakpastian ekonomi, dan kurangnya inovasi yang memaksa orang untuk upgrade membuat siklus penggantian perangkat semakin panjang,”ungkap Jitesh Ubrani, analis senior di IDC. Laporan riset juga mencatat bahwa rata-rata siklus penggantian laptop kini memanjang dari 4 tahun menjadi 6 tahun, tanda bahwa konsumen tidak lagi terburu-buru membeli perangkat baru jika perangkat lama masih berfungsi.
Linimasa Krisis: Dari Harapan ke Kekecewaan
- Q4 2025 – Awal Optimisme: Industri menaruh harapan besar pada berakhirnya dukungan Windows 10 pada Oktober 2025. Vendor seperti Lenovo, HP, dan Dell meningkatkan produksi untuk memenuhi proyeksi permintaan upgrade ke Windows 11.
- Q1 2026 – Tanda Bahaya: Permintaan tidak sesuai ekspektasi. Penjualan hanya naik tipis 1,2 persen YoY, jauh di bawah proyeksi 5 persen. Gangguan rantai pasok chip mulai terasa.
- Q2 2026 – Kontraksi Nyata: IDC mengonfirmasi penurunan 4,9 persen YoY. Harga jual laptop naik 15–20 persen. Toko-toko fisik mulai mengurangi stok karena lesunya permintaan.
- Juli 2026 – Pedagang Pasrah: Survei Lurusin.com terhadap 150 pedagang di Jakarta, Bandung, dan Surabaya menunjukkan 68 persen dari mereka mengalami penurunan omzet di atas 40 persen dibanding tahun lalu. Sebagian beralih ke bisnis reparasi dan aksesori.
Dampak Terhadap Pasar Indonesia
Di Indonesia, situasi ini diperburuk oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hampir seluruh komponen PC masih diimpor, sehingga setiap pelemahan rupiah langsung mengerek harga perangkat. Toko-toko yang sebelumnya berani memesan kontainer laptop dari Tiongkok kini lebih berhati-hati dan memilih sistem indent atau pre-order untuk meminimalkan risiko kerugian. Akibatnya, pilihan yang tersedia di etalase fisik semakin terbatas, dan konsumen yang ingin membeli secara langsung seringkali harus menunggu berminggu-minggu.
Namun di tengah keterpurukan, segmen PC gaming dan laptop premium justru menunjukkan ketahanan. Laptop dengan harga di atas Rp 20 juta masih diminati oleh kalangan profesional kreatif dan gamer kelas atas yang tidak sensitif terhadap kenaikan harga. Lenovo, ASUS, dan Apple bahkan mencatat pertumbuhan tipis di segmen premium ini, yang menjadi sedikit titik terang bagi industri.
Para pelaku usaha kecil berharap ada intervensi dari pemerintah, misalnya dalam bentuk keringanan bea masuk komponen atau subsidi untuk perangkat yang diproduksi secara lokal. Namun hingga kini, belum ada kebijakan spesifik yang menyasar industri PC, karena perhatian pemerintah lebih terfokus pada pengembangan ponsel pintar dan infrastruktur digital dasar. Dengan jeda peluncuran teknologi baru yang masih cukup lama—generasi berikutnya dari prosesor Intel dan AMD diperkirakan baru membawa lompatan signifikan pada tahun 2027—pedagang hanya bisa pasrah menunggu badai berlalu.
Di tengah ketidakpastian, adaptasi menjadi kunci. Beberapa toko di Harco Mangga Dua mulai menggencarkan layanan custom build PC dengan komponen bekas berkualitas, menyasar segmen pekerja jarak jauh yang membutuhkan perangkat fungsional dengan harga terjangkau. Siasat ini terbukti cukup membantu, meski belum mampu mengganti volume penjualan laptop baru yang hilang.
[SOCIAL_TWEET]: Pengapalan PC global turun 4,9% di Q2 2026. Pedagang laptop di Mangga Dua pasrah. Apa penyebabnya dan kapan pasar akan pulih? #PasarPC #KrisisChip #EkonomiDigital[SOCIAL_TG]: 📉 Kabar buruk dari pasar PC: pengapalan turun 4,9%, harga laptop naik 30%. Pedagang di Harco Mangga Dua mengeluh sepi pembeli. Krisis chip memori jadi biang keladi. Selengkapnya di Lurusin.com
Comments (0)