Oct 15, 2026
factcheck

Pencarian KM Nurul Salsa: Satu Jenazah Ditemukan, 18 Masih Hilang

Operasi pencarian dan penyelamatan terhadap korban tenggelamnya kapal motor (KM) Nurul Salsa telah memasuki hari ketujuh. Tim gabungan akhirnya berhasil menemukan satu jenazah di perairan sekitar Kabu...

Pencarian KM Nurul Salsa: Satu Jenazah Ditemukan, 18 Masih Hilang

Operasi pencarian dan penyelamatan terhadap korban tenggelamnya kapal motor (KM) Nurul Salsa telah memasuki hari ketujuh. Tim gabungan akhirnya berhasil menemukan satu jenazah di perairan sekitar Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, sementara 18 orang lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.

Kronologi Kejadian

KM Nurul Salsa dilaporkan tenggelam pada pekan lalu di perairan Selat Makassar, tepatnya di sekitar Kepulauan Spermonde. Kapal kayu yang biasa melayani rute antar-pulau tersebut tengah berlayar dari Pelabuhan Paotere, Makassar, menuju sejumlah pulau di Kabupaten Pangkep. Berdasarkan data yang dihimpun, kapal itu membawa lebih dari 40 orang, termasuk awak, meskipun manifes resmi mencatat jumlah penumpang yang lebih sedikit dari itu.

Musibah terjadi ketika kapal dihantam gelombang tinggi disertai angin kencang. Lambung kapal diduga kemasukan air dengan cepat, membuatnya oleng lalu tenggelam dalam waktu singkat. Sebagian penumpang berhasil menyelamatkan diri dengan berenang ke pulau terdekat atau ditolong oleh nelayan yang melintas. Hingga kini, total korban selamat tercatat sebanyak 23 orang, namun angka itu masih mungkin berubah seiring proses verifikasi yang terus dilakukan.

Temuan Jenazah di Perairan Pangkep

Pada hari ketujuh pencarian, tim SAR yang terdiri atas Basarnas, TNI AL, Polair, dan relawan menemukan satu jenazah terapung di perairan Pangkep, berjarak sekitar 15 mil laut dari perkiraan lokasi tenggelamnya kapal. Jenazah tersebut terlihat sudah membengkak, namun ciri-ciri pakaian yang dikenakan mengindikasikan bahwa ia merupakan salah satu penumpang yang dilaporkan hilang.

Proses evakuasi segera dilakukan menggunakan perahu karet, lalu jenazah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah setempat untuk identifikasi forensik. Pihak keluarga langsung dihubungi untuk membantu pengenalan. Sampai berita ini disusun, identitas resmi jenazah belum diumumkan, meskipun informasi awal menyebut bahwa jenazah tersebut adalah seorang laki-laki dewasa.

Penemuan ini membawa harapan sekaligus kecemasan bagi keluarga korban lainnya. Arus laut yang kuat sering kali membawa jenazah hanyut hingga puluhan mil, sehingga tim SAR kini memperluas area pencarian hingga ke perairan Kabupaten Barru dan Mamuju, Sulawesi Barat.

Pencarian 18 Korban Hilang

Operasi SAR masih terfokus pada upaya menemukan 18 orang yang belum diketahui nasibnya. Kepala Basarnas Makassar menyatakan bahwa pihaknya telah mengerahkan kapal SAR, helikopter, dan puluhan personel untuk menyisir area seluas kurang lebih 200 mil persegi. Teknologi sonar dan drone bawah laut juga dikerahkan untuk mendeteksi obyek di dasar laut, mengingat sebagian puing kapal diduga tenggelam pada kedalaman 30–50 meter.

“Kami terus berupaya maksimal meskipun cuaca tidak selalu mendukung. Gelombang cukup tinggi dalam beberapa hari ini menghambat penyelaman dan operasi udara,” ujarnya. Koordinasi dengan nelayan setempat menjadi penting, mengingat banyak korban yang mungkin terbawa arus hingga ke pesisir atau pulau-pulau tak berpenghuni.

Di posko SAR yang terletak di Pelabuhan Paotere, puluhan keluarga korban terus menanti kabar. Sebagian dari mereka bahkan ikut mencari menggunakan perahu tradisional. Pemerintah daerah setempat telah menyalurkan bantuan logistik dan layanan dukungan psikososial bagi keluarga yang terdampak.

Penyebab Tenggelamnya KM Nurul Salsa

Sementara penyelidikan resmi masih berlangsung, dugaan awal menyebut bahwa kecelakaan ini dipicu oleh kombinasi kelebihan muatan dan kondisi cuaca ekstrem. Kapal yang seharusnya hanya mengangkut maksimal 30 orang diduga membawa penumpang dan barang melebihi kapasitasnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan gelombang tinggi hingga 2,5 meter di perairan Spermonde pada hari kejadian.

Para penyintas menuturkan bahwa kapal tiba-tiba oleng dan air masuk begitu deras dari sisi kiri. Mereka juga menyebutkan bahwa kapal tidak dilengkapi alat keselamatan yang memadai, seperti pelampung dan sekoci cadangan. Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah menurunkan tim investigasi untuk memeriksa kelayakan kapal, dokumen perizinan, serta kemungkinan kelalaian nahkoda.

Insiden ini menambah panjang daftar kecelakaan kapal tradisional di Indonesia yang kerap diwarnai pelanggaran standar keselamatan. Pemerintah kembali diingatkan untuk memperketat pengawasan angkutan laut tradisional, khususnya di jalur-jalur yang rawan cuaca buruk. “Ini harus menjadi pelajaran. Kami akan mengevaluasi seluruh izin operasi kapal serupa di wilayah ini,” kata seorang pejabat Dinas Perhubungan setempat.

Operasi SAR akan dilanjutkan sesuai prosedur standar, yaitu hingga tujuh hari ke depan, dengan kemungkinan perpanjangan jika masih ada indikasi keberadaan korban. Meski harapan menemukan korban selamat semakin menipis, tim gabungan berkomitmen menuntaskan pencarian demi memberikan kepastian bagi keluarga yang menanti.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User