Para Ahli Bicara Kebijakan Publik dan Ekonomi Digital Indonesia

Dalam sebuah forum diskusi yang digelar di Jakarta, empat tokoh dengan latar belakang strategis hadir memberikan pandangan mereka mengenai arah kebijakan publik dan transformasi ekonomi digital Indone...

Jul 11, 2026 - 18:06
0 0
Para Ahli Bicara Kebijakan Publik dan Ekonomi Digital Indonesia

Dalam sebuah forum diskusi yang digelar di Jakarta, empat tokoh dengan latar belakang strategis hadir memberikan pandangan mereka mengenai arah kebijakan publik dan transformasi ekonomi digital Indonesia. Mereka adalah Didin Nasirudin, pemerhati politik Amerika Serikat sekaligus mahasiswa doktor komunikasi politik; Laksamana Sukardi, mantan Menteri BUMN dan ekonom senior; Harry K Nugraha, Country Manager Intel Indonesia; serta Dr. Eko Wahyuanto, pengamat kebijakan publik. Keempatnya menyoroti bahwa Indonesia berada di persimpangan penting yang memerlukan sinergi antara regulasi, infrastruktur, dan sumber daya manusia.

Didin Nasirudin, yang kini menjabat Managing Director Bening Communication dan tengah menempuh Program Doktor Komunikasi Politik & Diplomasi di Universitas SAHID, membuka diskusi dengan analisis mengenai dampak kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap stabilitas kawasan. Menurutnya, perubahan kepemimpinan di Washington selalu menimbulkan efek domino yang memengaruhi iklim investasi di Asia Tenggara. “Indonesia perlu membaca geopolitik secara cermat agar tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam rantai pasok global,” ujarnya. Didin juga menekankan pentingnya diplomasi publik yang kuat untuk membangun citra positif Indonesia di mata investor internasional, terutama dalam sektor teknologi dan energi hijau.

Laksamana Sukardi, politisi dan mantan Menteri BUMN yang kini menjadi pengamat ekonomi, memberikan perspektif dari sisi pengelolaan aset negara. Ia mengingatkan peran BUMN sebagai katalisator pembangunan. “Kita tidak bisa mengandalkan APBN saja. BUMN harus bisa menjadi motor investasi, terutama di sektor digital dan infrastruktur, dengan tetap menjaga tata kelola yang bersih,” tegasnya. Laksamana menyoroti bahwa banyak perusahaan negara masih terjebak dalam birokrasi yang lambat sehingga kalah gesit oleh swasta dan pemain asing. Ia mendorong adanya penyederhanaan aturan agar BUMN dapat lebih fleksibel merespons perubahan pasar, termasuk dalam adopsi kecerdasan buatan dan cloud computing.

Senada dengan itu, Harry K Nugraha selaku Country Manager Intel Indonesia membawa wawasan langsung dari industri teknologi global. Ia menyatakan bahwa Intel terus berkomitmen mendukung percepatan transformasi digital di Indonesia, bukan hanya melalui perangkat keras, tetapi juga melalui pelatihan sumber daya manusia. “Talenta digital adalah kunci. Kami sudah melatih ribuan guru dan dosen melalui program Intel AI for Youth agar generasi muda siap menghadapi era otomatisasi,” jelas Harry. Ia juga mengungkapkan bahwa Intel sedang menjajaki kerja sama dengan kementerian terkait untuk membangun lab inovasi di kawasan industri prioritas. Investasi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem manufaktur cerdas yang memanfaatkan Internet of Things (IoT) dan big data analytics.

Sementara itu, Dr. Eko Wahyuanto yang merupakan pengamat kebijakan publik menyoroti sisi regulasi yang seringkali menjadi hambatan utama. “Banyak kebijakan yang sudah baik secara konsep, tapi lemah di implementasi karena koordinasi antarlembaga yang belum optimal,” kritiknya. Eko mencontohkan tumpang tindih aturan antara pusat dan daerah dalam perizinan investasi teknologi. Ia merekomendasikan pendekatan omnibus law sektoral untuk menciptakan kepastian hukum bagi pelaku industri digital. Menurutnya, kebijakan publik harus mampu beradaptasi dengan kecepatan inovasi, terutama di bidang fintech, healthtech, dan edutech yang berkembang pesat pascapandemi.

Diskusi yang berlangsung hangat itu menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi digital terdepan di Asia Tenggara, namun membutuhkan kepemimpinan kolaboratif dan kebijakan adaptif. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri seperti Intel, serta masukan dari para akademisi dan praktisi komunikasi politik seperti Didin Nasirudin dipandang krusial. Keempat tokoh sepakat bahwa fondasi digital Indonesia harus dibangun di atas tiga pilar: sumber daya manusia unggul, infrastruktur modern, dan regulasi yang lincah. Jika sinergi ini terwujud, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi model transformasi digital bagi negara-negara berkembang lainnya.

[TAGS]: didin nasirudin, laksamana sukardi, harry k nugraha, eko wahyuanto, intel indonesia, kebijakan publik, ekonomi digital, bumn [SOCIAL_TWEET]: Empat tokoh strategis Indonesia—dari mantan menteri hingga Country Manager Intel—bicara masa depan ekonomi digital dan kebijakan publik. Sinergi SDM, infrastruktur, dan regulasi jadi kunci. Baca liputan lengkapnya. [SOCIAL_FB]: Laksamana Sukardi, mantan Menteri BUMN, bersama Didin Nasirudin dari Bening Communication, Harry K Nugraha (Country Manager Intel Indonesia), dan Dr. Eko Wahyuanto pengamat kebijakan publik, bertemu dalam satu forum membahas masa depan ekonomi digital Indonesia. Mereka sepakat bahwa talenta digital, regulasi adaptif, dan investasi infrastruktur menjadi fondasi penting. Simak ulasan dan analisis lengkapnya. [SOCIAL_TG]: Para tokoh: Didin Nasirudin, Laksamana Sukardi, Harry K Nugraha (Intel), dan Dr. Eko Wahyuanto angkat bicara tentang kebijakan publik dan ekonomi digital. Baca ringkasannya. [SOCIAL_THREADS]: Lagi rame obrolan soal ekonomi digital? Empat tokoh ini—mulai dari mantan menteri sampai petinggi Intel—kumpul bahas masa depan regulasi dan talenta. Pendapat mereka: Indonesia bisa, asal kebijakan gercep dan kolaborasi jalan. Yuk swipenya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User