Sep 01, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Panglima Jilah Diperiksa Istana Soal Tuduhan Peladang dan Karhutla

Panglima Jilah akhirnya angkat bicara setelah dipanggil ke Istana Negara untuk dimintai keterangan terkait tuduhan yang menyebut masyarakat peladang sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan di Kalim...

Panglima Jilah Diperiksa Istana Soal Tuduhan Peladang dan Karhutla

Panglima Jilah akhirnya angkat bicara setelah dipanggil ke Istana Negara untuk dimintai keterangan terkait tuduhan yang menyebut masyarakat peladang sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Dalam keterangannya, ia dengan tegas menolak tuduhan tersebut dan menilai pihak-pihak yang menyematkan label itu tidak memahami realitas kehidupan masyarakat adat di wilayah Borneo.

Tuduhan yang Dinilai Tidak Berdasar

Panglima Jilah menjelaskan bahwa tuduhan yang dialamatkan kepada para peladang merupakan bentuk ketidakpahaman terhadap pola bercocok tanam tradisional yang telah dilakukan turun-temurun oleh masyarakat adat di Kalimantan. Menurut pandangannya, sistem pertanian berpindah yang diterapkan oleh komunitas lokal sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu tanpa pernah menimbulkan kerusakan lingkungan yang masif seperti yang terjadi saat ini.

Ia menegaskan bahwa masyarakat adat memiliki pengetahuan lokal yang mendalam tentang keseimbangan ekologi hutan. Praktik bercocok tanam yang mereka jalankan bukan bersifat eksploitatif, melainkan bagian dari kearifan lokal yang telah terintegrasi dengan alam sekitar selama beberapa generasi. Oleh karena itu, tuduhan yang menyamakan aktivitas pertanian tradisional dengan sengaja membakar hutan merupakan penyederhanaan yang tidak adil.

Pemanggilan ke Istana dan Klarifikasi Resmi

Pemanggilan Panglima Jilah ke Istana Negara dilakukan dalam rangka mendapatkan klarifikasi langsung dari tokoh masyarakat adat Kalimantan tersebut. Pemerintah tampaknya ingin mendengar perspektif dari pihak yang selama ini berada di garis depan dalam menjaga hutan di wilayah Borneo.

Dalam pertemuan tersebut, ia menyampaikan penjelasan komprehensif mengenai praktik pertanian masyarakat adat yang selama ini berjalan. Presentasinya mencakup data tentang siklus bercocok tanam, durasi lahan digunakan, serta periode pemulihan yang diberikan kepada setiap petakan tanah. Semua informasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih akurat kepada pemerintah pusat mengenai kondisi riil di lapangan.

Panglima Jilah juga menyoroti bahwa selama ini ada kecenderungan untuk menyalahkan komunitas lokal tanpa melakukan investigasi menyeluruh terhadap penyebab sebenarnya dari kebakaran hutan dan lahan. Ia berpendapat bahwa pihak berwenang perlu lebih cermat dalam mengidentifikasi sumber api dan memahami konteks sosial-budaya sebelum menetapkan siapa yang bertanggung jawab.

Kearifan Lokal sebagai Penjaga Hutan

Dalam kesempatan tersebut, Comandante Jilah menjelaskan bahwa masyarakat adat Kalimantan memiliki sistem pengetahuan yang kompleks dalam mengelola sumber daya alam. Rotasi lahan yang mereka terapkan bukanlah tindakan sembarangan, melainkan didasarkan pada pengamatan terhadap kondisi tanah, musim, dan keberlanjutan ekosistem.

Praktik berburu dan meramu yang dilakukan oleh masyarakat adat juga menjadi bagian dari sistem pengelolaan hutan yang terstruktur. Mereka memahami zona-zona tertentu yang boleh dan tidak boleh dibuka untuk aktivitas pertanian. Pengetahuan ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi dan menjadi pedoman penting dalam menjaga kelestarian hutan Borneo.

Menurut data yang ia sampaikan, tingkat kerusakan hutan yang disebabkan oleh aktivitas pertanian tradisional masyarakat adat secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan aktivitas perkebunan besar yang beroperasi di Kalimantan. Namun, fakta ini jarang mendapat perhatian publik yang seimbang.

Harapan ke Depan

Panglima Jilah berharap agar pemerintah dapat lebih melibatkan masyarakat adat dalam setiap kebijakan terkait pengelolaan hutan di Kalimantan. Pengalaman dan pengetahuan lokal yang mereka miliki selama berabad-abad bisa menjadi modal penting dalam upaya pencegahan kebakaran hutan secara menyeluruh.

Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat adat siap bekerja sama dengan pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan, asalkan ada pengakuan yang layak terhadap peran mereka. Selama ini, kontribusi mereka sering kali tidak terlihat dan tidak dihargai secara optimal oleh berbagai pihak.

Sebagai penutup, Comandante Jilah menegaskan bahwa masyarakat peladang bukan musuh dalam masalah kebakaran hutan dan lahan. Justru mereka adalah mitra strategis yang selama ini telah menjadi penjaga asli hutan Kalimantan. Diperlukan pendekatan yang lebih inklusif dan berbasis bukti dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan di wilayah ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User