Sep 18, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

NIGERIA — King’s College Terjebak Pembusukan Infrastruktur dan Sengketa Privatisasi

Di sudut kota Lagos yang padat dan riuh, berdiri sebuah monumen sejarah yang kini tampak kian lesu. King’s College, institusi pendidikan sekunder paling le

NIGERIA — King’s College Terjebak Pembusukan Infrastruktur dan Sengketa Privatisasi

Di sudut kota Lagos yang padat dan riuh, berdiri sebuah monumen sejarah yang kini tampak kian lesu. King’s College, institusi pendidikan sekunder paling legendaris di Nigeria yang didirikan pada **1909**, tengah berjuang mempertahankan napas terakhir kejayaannya. Dinding-dinding tua bertembok tebal yang dahulu menyaksikan lahirnya para menteri, hakim agung, dan presiden bangsa, kini dipenuhi retakan menganga dan cat yang mengelupas. Kehancuran fisik institusi ini bukan sekadar masalah perawatan bangunan yang terbengkalai, melainkan simbol nyatanya krisis sistemik yang menggerogoti pendidikan publik di Afrika Barat.

Investigasi mendalam menunjukkan bahwa fasilitas sekolah yang awalnya dirancang untuk menampung ratusan siswa pilihan kini dipaksa menampung lebih dari 3.000 siswa. Lonjakan kapasitas tanpa diimbangi pembaruan sarana ini memicu krisis sanitasi yang parah, kelebihan muatan di asrama, hingga laboratorium sains yang rapuh dan tak lagi layak guna. Langit-langit ruang kelas yang bocor saat hujan deras menjadi pemandangan harian yang ironis bagi sekolah yang pernah dijuluki sebagai "Eton-nya Nigeria".

Dari Mahkota Kolonial Menuju Pembusukan Kelembagaan

Dalam rekam jejak sejarahnya, King’s College dibangun oleh pemerintah kolonial Inggris dengan standar akademis dan disiplin yang sangat tinggi. Selama puluhan tahun pasca-kemerdekaan Nigeria, sekolah ini berhasil mempertahankan reputasinya sebagai pencetak elite intelektual. Namun, kombinasi antara tata kelola yang buruk, korupsi birokrasi, dan pemotongan anggaran secara berkelanjutan selama dua dekade terakhir telah merusak fondasi tersebut secara perlahan.

"Kami sedang menyaksikan kehancuran perlahan dari sebuah warisan besar. Sekolah yang dahulu mencetak sejarah bangsa kini harus berjuang keras hanya untuk menyediakan air bersih dan listrik yang stabil bagi para siswanya," tegas seorang perwakilan alumni senior dari King’s College Old Boys Association (KCOBA).

Pengabaian ini memicu ketegangan hebat antara berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah pusat dinilai acuh tak acuh, sementara alokasi dana pemeliharaan yang dikucurkan setiap tahun diduga kuat menguap sebelum sampai ke ruang-ruang kelas.

Pertempuran Ideologi: Privatisasi vs Penyelamatan Pendidikan Publik

Kondisi King’s College yang semakin memprihatinkan kini melahirkan pertempuran sengit mengenai masa depan arah kebijakannya. Komunitas alumni dan kelompok investor swasta mulai mendesak pemerintah untuk menyerahkan pengelolaan sekolah kepada pihak swasta atau mengadopsi skema Kemitraan Pemerintah-Swasta (PPP). Mereka berargumen bahwa hanya suntikan modal swasta dan manajemen profesional yang mampu menyelamatkan aset bersejarah tersebut dari kepunahan.

Namun, gagasan tersebut mendapat perlawanan gigih dari para aktivis pendidikan publik dan serikat guru. Mereka menilai bahwa menyerahkan King’s College ke tangan swasta merupakan bentuk pengkhianatan terhadap konstitusi dan awal dari komersialisasi pendidikan yang akan menutup akses bagi anak-anak dari kalangan miskin.

Indikator Evaluasi Era Kejayaan (1909–1980-an) Kondisi Krisis (2020-an)
Rasio Siswa per Kelas 20 – 25 Siswa (Ideal) 60 – 80 Siswa (Overkapasitas)
Sumber Pendanaan Anggaran Penuh Negara & Beasiswa Minim APBN, Bergantung Sumbangan Alumni
Fasilitas Penunjang Standar Internasional & Laboratorium Lengkap Rusak Berat, Sanitasi Buruk, Kurang Listrik

Cermin Buram Masa Depan Pendidikan Nigeria

Sengketa yang terjadi di King’s College Lagos pada akhirnya mencerminkan dilema yang lebih besar di tingkat nasional. Saat ini, Pemerintah Nigeria hanya mengalokasikan kurang dari 8% dari total anggaran nasional untuk sektor pendidikan, jauh di bawah batas minimum **15% hingga 20%** yang direkomendasikan oleh UNESCO. Di saat sekolah swasta bertarif mahal tumbuh subur melayani kalangan borjuis, sekolah-sekolah negeri publik justru dibiarkan merana.

Jika sekolah sekaliber King’s College yang memiliki jaringan alumni kuat dan nilai sejarah tinggi saja gagal dirawat oleh negara, lantas harapan apa yang tersisa bagi ribuan sekolah negeri biasa di pelosok pedalaman Nigeria? Kemunduran King’s College adalah alarm keras bahwa ketika pendidikan publik dikorbankan, jurang kesenjangan sosial akan semakin menganga dan mengancam masa depan suatu bangsa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User