Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Mubasyier Fatah, Praktisi Siber yang Jabat Bendahara Umum PP ISNU

Jakarta – Organisasi Sarjana Nahdlatul Ulama atau yang dikenal dengan ISNU kini memiliki sosok baru di jajaran kepengurusan pusatnya. Seorang profesional di bidang keamanan digital dipercaya mendudu...

Mubasyier Fatah, Praktisi Siber yang Jabat Bendahara Umum PP ISNU

Jakarta – Organisasi Sarjana Nahdlatul Ulama atau yang dikenal dengan ISNU kini memiliki sosok baru di jajaran kepengurusan pusatnya. Seorang profesional di bidang keamanan digital dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Bendahara Umum Pimpinan Pusat. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa organisasi keagamaan berbasis intelektual tersebut mulai memberi perhatian serius pada isu-isu kontemporer, khususnya di ranah teknologi dan keamanan siber.

Profil Singkat Sang Bendahara

Sosok yang dimaksud adalah Mubasyier Fatah, seorang praktisi keamanan siber yang telah lama berkecimpung dalam dunia perlindungan data dan infrastruktur digital. Namanya bukanlah nama asing di kalangan profesional teknologi informasi. Dengan pengalaman bertahun-tahun menangani berbagai kasus kebocoran data, serangan peretasan, hingga tata kelola keamanan digital di sektor swasta maupun publik, Mubasyier membawa perspektif baru ke dalam struktur organisasi yang mayoritas anggotanya berlatar belakang pendidikan agama dan ilmu sosial.

Penunjukannya sebagai Bendahara Umum PP ISNU bukan sekadar pengisian jabatan administratif. Ini merupakan langkah simbolis bahwa ISNU ingin mengintegrasikan pendekatan keamanan siber dalam pengelolaan organisasi, terutama dalam hal transparansi dan akuntabilitas keuangan berbasis digital. Dalam lingkungan organisasi modern, peran bendahara tidak lagi sekadar mencatat pemasukan dan pengeluaran, melainkan juga memastikan bahwa seluruh sistem pencatatan keuangan terlindungi dari ancaman kebocoran maupun serangan dunia maya.

Menggabungkan Keamanan Siber dengan Tata Kelola Organisasi

Kehadiran praktisi keamanan siber di posisi bendahara umum mencerminkan perubahan paradigma yang signifikan. Selama ini, posisi semacam itu lazimnya diisi oleh individu dengan latar belakang ekonomi, akuntansi, atau manajemen keuangan. Namun, ISNU tampaknya menyadari bahwa ancaman terhadap aset organisasi kini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga digital. Dana organisasi, data anggota, hingga dokumen strategis semuanya tersimpan dalam sistem elektronik yang rentan terhadap peretasan.

Dengan latar belakangnya, Mubasyier Fatah diharapkan mampu membangun sistem keuangan yang tidak hanya rapi secara pencatatan, tetapi juga tangguh secara infrastruktur digital. Ia memahami bagaimana data dapat disusupi, bagaimana transaksi elektronik dapat dimanipulasi, dan bagaimana celah keamanan kecil dapat berujung pada kerugian besar. Pengetahuan semacam ini sangat krusial bagi organisasi sebesar ISNU yang memiliki jaringan luas hingga ke daerah-daerah.

Lebih jauh lagi, Mubasyier juga dapat berperan dalam mengedukasi pengurus dan anggota mengenai pentingnya literasi keamanan digital. Di era di mana penipuan daring dan pencurian identitas semakin marak, pemahaman dasar tentang proteksi data pribadi dan keamanan bertransaksi secara elektronik menjadi kebutuhan mendesak bagi setiap elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan.

ISNU dan Tantangan Era Digital

Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama merupakan wadah bagi para sarjana yang memiliki afiliasi dengan NU, organisasi Islam terbesar di Indonesia. Anggotanya tersebar di berbagai sektor, mulai dari akademisi, birokrat, profesional, hingga wirausahawan. Sebagai organisasi yang menghimpun kaum intelektual, ISNU dituntut untuk responsif terhadap perkembangan zaman, termasuk disrupsi digital yang mengubah hampir seluruh aspek kehidupan.

Penempatan Mubasyier Fatah dalam struktur kepengurusan dapat dibaca sebagai bagian dari strategi organisasi untuk tetap relevan dan adaptif. Keamanan siber bukan lagi isu pinggiran yang hanya relevan bagi perusahaan teknologi. Lembaga pendidikan, rumah sakit, organisasi nirlaba, bahkan tempat ibadah pun kini bergantung pada sistem digital yang memerlukan perlindungan. ISNU, dengan jaringannya yang luas dan beragam, tentu tidak ingin menjadi korban berikutnya dari serangan siber yang semakin canggih.

Di samping tanggung jawabnya sebagai bendahara, Mubasyier juga berpotensi menjadi katalisator bagi program-program ISNU yang berkaitan dengan teknologi. Mulai dari seminar tentang keamanan data, pelatihan literasi digital untuk anggota, hingga advokasi kebijakan publik terkait perlindungan data pribadi. Semua ini merupakan wilayah yang dapat ia jelajahi berbekal keahlian profesionalnya.

Ke depan, kolaborasi antara pengetahuan keagamaan dan keahlian teknologi menjadi keniscayaan. Organisasi seperti ISNU tidak bisa lagi bergerak hanya pada ranah sosial-keagamaan secara tradisional. Mereka harus mampu merespons tantangan kontemporer, dan salah satu caranya adalah dengan merekrut talenta-talenta dari disiplin ilmu yang sebelumnya jarang tersentuh, seperti keamanan siber. Langkah ini patut diapresiasi sebagai bentuk modernisasi organisasi yang tidak kehilangan akar tradisinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User