Mobil Listrik Produksi Indonesia Semakin Bertambah, Berikut Daftar dan Harganya

Transformasi industri otomotif nasional semakin nyata dengan kehadiran beragam kendaraan listrik yang tidak lagi sekadar diimpor utuh, melainkan dirakit dan diproduksi langsung di dalam negeri. Langka...

Jul 13, 2026 - 06:33
0 0
Mobil Listrik Produksi Indonesia Semakin Bertambah, Berikut Daftar dan Harganya

Transformasi industri otomotif nasional semakin nyata dengan kehadiran beragam kendaraan listrik yang tidak lagi sekadar diimpor utuh, melainkan dirakit dan diproduksi langsung di dalam negeri. Langkah ini tak hanya memperkuat rantai pasok lokal, tetapi juga berdampak pada harga jual yang lebih bersaing bagi konsumen. Hingga pertengahan dekade ini, setidaknya terdapat delapan model mobil listrik yang telah atau sedang diproduksi di fasilitas perakitan Indonesia, mencakup merek global maupun pemain lokal.

Deretan Pabrikan Global yang Merakit di Indonesia

Hyundai menjadi salah satu pionir investasi besar di sektor ini melalui pabriknya di Cikarang, Jawa Barat. Model Ioniq 5 menjadi kendaraan listrik pertama yang lahir dari fasilitas tersebut dengan tingkat komponen dalam negeri yang terus ditingkatkan. Harga Ioniq 5 varian Prime Standard Range dibanderol mulai Rp782 juta, sementara varian tertinggi Signature Long Range menyentuh Rp895 juta (OTR DKI Jakarta). Adapun Hyundai Ioniq 6 yang juga dirakit secara lokal memiliki harga mulai Rp1,1 miliar untuk varian tertingginya.

Wuling Motors, pabrikan asal Tiongkok yang telah lama memiliki basis produksi di Cikarang, menghadirkan Air ev sebagai mobil listrik paling terjangkau di kelasnya. Model ini ditawarkan dalam beberapa varian, mulai dari Lite Rp188,9 juta, Standard Range Rp215 juta, hingga Long Range Rp299 juta. Kehadiran Air ev sempat mencatatkan penjualan tertinggi di segmen kendaraan listrik murni pada tahun-tahun awal peredarannya. Wuling juga telah memproduksi BinguoEV secara lokal, dengan harga mulai Rp348 juta untuk varian 333 km dan Rp408 juta untuk varian 410 km.

Chery melalui model Omoda E5 turut meramaikan pasar. Diproduksi di fasilitas perakitan milik Handal Indonesia Motor di Pondok Ungu, Bekasi, SUV listrik ini dibanderol Rp488,8 juta. Chery mengklaim bahwa kendaraan ini menggunakan baterai LFP (lithium ferrophosphate) yang diklaim lebih tahan terhadap suhu tinggi dan memiliki siklus hidup lebih panjang. Sementara itu, DFSK (Sokonindo) juga memproduksi Gelora E, kendaraan niaga listrik yang hadir dalam dua pilihan: blind van seharga Rp350 juta dan minibus seharga Rp390 juta.

Tidak ketinggalan, MG Motor yang berada di bawah naungan SAIC Motor Tiongkok mulai merakit model MG4 EV dan MG ZS EV di fasilitas Cikarang. MG4 EV tipe Ignite dibanderol Rp375,9 juta, sedangkan tipe Magnify i-SMART dijual Rp419,9 juta. Adapun MG ZS EV i-SMART dipasarkan dengan harga Rp388,8 juta (OTR Jakarta). Seluruh harga tersebut merupakan harga on the road untuk wilayah DKI Jakarta dan dapat berbeda di daerah lain akibat kebijakan pajak dan subsidi daerah.

Pemain Lokal yang Mulai Menunjukkan Taring

Di luar merek-merek internasional, merek nasional juga tak mau ketinggalan. Gesits, motor listrik yang dikembangkan oleh konsorsium dalam negeri, telah lebih dulu membuktikan bahwa produk lokal mampu bersaing. Di segmen mobil, PT Mobil Anak Bangsa (MAB) menghadirkan bus dan kendaraan komersial listrik. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah kehadiran Aletra, merek yang dikembangkan oleh konsorsium swasta nasional yang memproduksi sedan listrik di fasilitas Purwakarta, Jawa Barat. Model perdana mereka dibanderol di kisaran Rp600 jutaan, menjadikannya kompetitor langsung bagi produk-produk global yang telah lebih dulu mapan.

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mencatat bahwa investasi di sektor kendaraan listrik telah menembus puluhan triliun rupiah dan diproyeksikan terus bertambah seiring dengan target produksi 600 ribu unit kendaraan listrik roda empat pada tahun 2030. Kebijakan insentif seperti Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) 0% untuk kendaraan listrik dengan komponen lokal tertentu juga menjadi pendorong utama percepatan adopsi.

Dampak Lokalisasi terhadap Harga dan Ekosistem

Produksi lokal terbukti menekan harga jual secara signifikan. Contoh paling mencolok adalah Wuling Air ev yang harganya sempat berada di bawah Rp200 juta setelah memperhitungkan subsidi dari pemerintah. Tanpa produksi lokal, harga tersebut hampir mustahil dicapai mengingat biaya logistik dan bea masuk yang harus ditanggung jika mengimpor secara utuh. Selain itu, ekosistem pendukung seperti pemasok baterai, sistem penggerak listrik, dan komponen interior juga ikut tumbuh. PT HKML Battery Indonesia, konsorsium Hyundai dan LG Energy Solution, telah memulai produksi sel baterai di Karawang dengan kapasitas awal 10 GWh per tahun.

Dampak berganda ini meluas hingga ke sektor ketenagakerjaan. Ribuan pekerja terserap di lini perakitan, rantai pasok, hingga layanan purnajual. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa penjualan wholesales kendaraan listrik murni (BEV) pada paruh pertama tahun 2024 saja telah melampaui total penjualan sepanjang tahun 2023, menandakan akselerasi permintaan yang tajam.

Meskipun demikian, tantangan infrastruktur pengisian daya dan persepsi konsumen terhadap ketahanan baterai masih menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah menargetkan pembangunan 31.000 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hingga tahun 2030, tetapi realisasinya baru mencapai sekitar 1.500 unit di awal tahun 2025. Kolaborasi antara produsen, penyedia listrik, dan pengembang properti menjadi kunci untuk mengatasi kesenjangan ini.

Secara keseluruhan, daftar mobil listrik yang diproduksi di Indonesia akan terus bertambah. Dengan kombinasi antara investasi asing yang masif dan munculnya pemain lokal yang ambisius, konsumen semakin diuntungkan dengan pilihan yang beragam dan harga yang lebih realistis. Era kendaraan listrik bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang sedang dibangun di atas negeri sendiri.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User