Mengenal IDA, Lembaga Bank Dunia yang Kini Dipimpin Sri Mulyani
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati resmi mengemban jabatan strategis di kancah global sebagai Ketua International Development Association (IDA), lembaga yang menjadi bagian dari Kelompok Bank Duni...
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati resmi mengemban jabatan strategis di kancah global sebagai Ketua International Development Association (IDA), lembaga yang menjadi bagian dari Kelompok Bank Dunia. Penunjukan ini menempatkannya sebagai orang Indonesia pertama yang memimpin lembaga pendanaan pembangunan bagi negara-negara termiskin di dunia tersebut.
Penunjukan dilakukan oleh Presiden Bank Dunia Ajay Banga, dan Sri Mulyani menjalankan peran itu secara rangkap dengan tugasnya sebagai Menteri Keuangan. Posisi Ketua IDA memegang fungsi penting: mengawal arah kebijakan lembaga, memperkuat mobilisasi sumber daya dari negara donor, dan memastikan bantuan tersalur tepat sasaran ke negara berpendapatan rendah yang paling membutuhkan.
Apa Itu IDA
IDA didirikan pada tahun 1960 sebagai salah satu lembaga di bawah Kelompok Bank Dunia dan berkantor pusat di Washington DC, Amerika Serikat. Kelahirannya dilatarbelakangi kesadaran bahwa negara-negara termiskin tidak mampu meminjam dengan bunga pasar, sehingga memerlukan skema pembiayaan lunak yang berbeda dari pinjaman komersial biasa.
Berbeda dengan International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) yang melayani negara berpendapatan menengah, IDA berfokus pada negara berpendapatan rendah. Saat ini sekitar 75 hingga 78 negara memenuhi syarat menerima dukungan lembaga ini, sebagian besar berada di kawasan Afrika Sub-Sahara dan Asia.
Bantuan IDA diberikan dalam bentuk kredit berbunga nol atau sangat rendah serta hibah, dengan masa pengembalian 30 hingga 40 tahun dan masa tenggang 5 hingga 10 tahun. Dana tersebut membiayai layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, air bersih, sanitasi, infrastruktur, ketahanan pangan, hingga adaptasi perubahan iklim. IDA tercatat sebagai salah satu sumber pendanaan terbesar di dunia untuk memerangi kemiskinan ekstrem.
Dari Mana Dana IDA Berasal
Pendanaan IDA dihimpun melalui mekanisme pengisian kembali atau replenishment setiap tiga tahun, ketika negara-negara donor menjanjikan kontribusi mereka. Skema ini ditopang pula oleh transfer laba dari IBRD dan International Finance Corporation (IFC), serta dana yang mengalir kembali dari cicilan pinjaman negara penerima.
Sejak 2018, IDA juga menerbitkan obligasi di pasar modal global berbekal peringkat kredit tertinggi. Langkah ini memungkinkan setiap dolar kontribusi donor dilipatgandakan menjadi pembiayaan beberapa kali lebih besar melalui leverage pasar.
Pada putaran IDA20 yang dipercepat satu tahun akibat pandemi, lembaga ini mengumpulkan paket pembiayaan sekitar 93 miliar dolar AS, rekor terbesar pada masanya. Putaran terbaru, IDA21, yang ditutup di Seoul, Korea Selatan, pada Desember 2024, menghasilkan paket sekitar 100 miliar dolar AS dan menjadi replenishment terbesar sepanjang sejarah lembaga.
Indonesia: Dari Peminjam Menjadi Donor
Indonesia memiliki jejak panjang bersama IDA. Selama puluhan tahun, Indonesia termasuk penerima kredit lunak lembaga ini sebelum akhirnya dinyatakan lulus pada 2008, menyusul kenaikan pendapatan negara ke kategori menengah.
Status Indonesia kemudian berbalik arah. Pada putaran IDA18, Indonesia resmi menjadi negara donor yang ikut menyumbang pendanaan bagi negara-negara miskin lainnya. Transformasi dari penerima bantuan menjadi penyumbang ini kerap dikutip sebagai salah satu contoh keberhasilan pembangunan ekonomi sebuah negara berkembang.
Sosok dan Tugas Sri Mulyani
Sri Mulyani bukan wajah baru di lingkungan Bank Dunia. Ia pernah menjabat Direktur Pelaksana sekaligus Chief Operating Officer Bank Dunia pada periode 2010 hingga 2016, sebelum kembali ke Jakarta untuk memimpin Kementerian Keuangan. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) yang mewakili kelompok negara Asia Tenggara.
Sebagai Ketua IDA, ia ditugaskan memperkuat posisi lembaga di tengah tantangan global yang kian berat: tekanan utang negara-negara miskin, dampak perubahan iklim, konflik, serta kerapuhan ekonomi pascapandemi. Pengalamannya mengelola keuangan negara sekaligus birokrasi multilateral dinilai menjadi modal utama dalam menjalankan mandat tersebut.
Penunjukan ini sekaligus menjadi penanda pengakuan internasional terhadap kapasitas Indonesia dalam tata kelola ekonomi global. Dari negara yang dulu dibantu IDA, kini seorang putri Indonesia justru duduk memimpin lembaga tersebut dan ikut menentukan arah pembiayaan pembangunan bagi negara-negara termiskin di dunia.
Comments (0)