Oct 08, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Mengapa Sekolah Tak Menjamin Anak Benar-Benar Belajar?

Kinerja literasi dan numerasis peserta didik Indonesia kembali menjadi perbincangan publik setelah publikasi hasil asesmen internasional terbaru. Di tengah sorotan itu, muncul pertanyaan mendasar yang...

Mengapa Sekolah Tak Menjamin Anak Benar-Benar Belajar?

Kinerja literasi dan numerasis peserta didik Indonesia kembali menjadi perbincangan publik setelah publikasi hasil asesmen internasional terbaru. Di tengah sorotan itu, muncul pertanyaan mendasar yang jarang dibahas secara jujur: apakah kehadiran anak di ruang kelas otomatis berujung pada peningkatan kemampuan belajarnya? Seorang pakar pendidikan nasional baru-baru ini menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai kondisi sekolah tanpa pembelajaran, yaitu situasi di mana proses berlangsung tetapi hasil belajar siswa tidak tumbuh sebagaimana mestinya.

Pandangan ini relevan dengan capaian Indonesia dalam penilaian PISA, di mana posisi negara masih berada jauh di bawah rata-rata negara OECD. Data menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang mengikuti asesmen belum mencapai kompetensi minimum pada tiga domain utama. Angka-angka tersebut bukan sekadar peringkat, melainkan cerminan dari kualitas proses yang terjadi sehari-hari di ruang-ruang kelas.

Sekolah Ada, Belajar Belum Pasti

Klaim bahwa pendidikan formal sudah menjamin penguasaan kompetensi ternyata bertentangan dengan bukti di lapangan. Angka partisipasi kasar dan angka partisipasi murni tergolong tinggi, sementara capaian belajar tetap tertinggal. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kehadiran dan kualitas pembelajaran yang benar-benar terjadi.

Beberapa faktor penyebab sering disebut dalam berbagai kajian. Antar lain ketidakmerataan akses terhadap guru berkualitas, keterbatasan buku ajar yang bermutu, hingga sistem penilaian yang lebih menekankan kelulusan daripada penguasaan. Akibatnya, siswa dapat naik tingkat tanpa benar-benar menguasai materi pada tingkat sebelumnya. Fenomena ini dikenal sebagai pembelajaran bertumpuk, di mana ketertinggalan awal membesar pada jenjang berikutnya.

Pemerintah telah mengirimkan berbagai program untuk merespons persoalan tersebut, mulai dari pengadaan guru honorer hingga pelatihan kompetensi. Namun efektivitas program masih perlu diuji dengan indikator hasil belajar, bukan sekadar jumlah kegiatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi berbasis output belajar siswa menjadi syarat agar kebijakan tidak berhenti pada administrasi.

Guru sebagai Penentu Kualitas

Perbincangan tentang mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dari peran guru. Kualitas pengajaran di kelas sangat dipengaruhi oleh penguasaan materi, kemampuan mengelola kelas, serta ketersediaan umpan balik yang membangun bagi siswa. Dalam praktiknya, belum semua guru mendapatkan pendampingan yang konsisten sepanjang karier.

Data menunjukkan distribusi guru antarwilayah masih timpang. Daerah terpencil sering kekurangan tenaga pengajar untuk mata pelajaran tertentu, sementara wilayah perkotaan menikmati surplus. Ketimpangan ini secara langsung memengaruhi hasil belajar siswa dan memperlebar jurang prestasi antarregion.

Selain itu, beban administrasi yang tinggi kerap mengurangi waktu guru untuk menyiapkan pembelajaran yang matang. Ketika sebagian besar waktu habis untuk pelaporan, energi untuk merancang aktivitas kelas menjadi terbatas. Akibatnya, proses belajar mengajar berjalan rutinitas tanpa inovasi yang mendorong pemahaman mendalam.

Paradigma Baru: Fokus pada Hasil Belajar

Untuk keluar dari jebakan sekolah tanpa pembelajaran, diperlukan pergeseran orientasi kebijakan. Bukan lagi seberapa banyak gedung dibangun atau berapa banyak uang yang disalurkan, melainkan seberapa besar peningkatan kompetensi siswa setelah melewati satu jenjang. Indikator keberhasilan pendidikan harus diletakkan pada hasil belajar, bukan pada proses semata.

Pendekatan semacam ini menuntut sistem monitoring yang akurat dan terbuka. Data hasil belajar perlu dihimpun secara berkala, dianalisis, lalu dipakai sebagai dasar perbaikan. Orang tua, sekolah, dan pemerintah dapat bekerja sama bila informasi tersedia secara transparan dan mudah diakses.

Rekomendasi lain yang mengemuka adalah penguatan pembelajaran berbasis literasi dan numerasi sejak jenjang awal. Ketika fondasi ini kokoh, siswa akan lebih mudah mengikuti pelajaran berikutnya. Investasi pada tahap awal terbukti lebih efisien dibanding upaya remedial yang mahal di jenjang lanjut.

Tantangan Menuju Perubahan

Menerapkan paradigma hasil belajar bukan pekerjaan mudah. Berbagai pihak memiliki kepentingan yang berbeda, dan resistensi terhadap perubahan selalu muncul. Namun bila tujuan akhirnya adalah generasi yang mampu berpikir kritis dan bersaing, kompromi pada kualitas bukan pilihan.

Langkah awal yang realistis adalah menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja dan kehidupan sehari-hari. Disertai pelatihan guru yang berkelanjutan serta peningkatan alokasi sumber daya yang tepat sasaran, perbaikan dapat berjalan bertahap namun terukur.

Kesimpulannya, keberadaan sekolah saja tidak cukup. Yang menentukan adalah apa yang benar-benar dipelajari anak di dalamnya. Tanpa pergeseran fokus menuju hasil belajar nyata, target peningkatan mutu pendidikan akan terus menjadi angan-angan yang sulit diwujudkan dalam waktu dekat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User