Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Mengapa Orang Korea dan Cina Memelihara Batu sebagai Hewan Peliharaan

Ketika sebagian orang sibuk merawat kucing atau anjing, sebagian lainnya justru memilih pendamping yang jauh lebih sederhana: batu. Di Korea Selatan dan Cina, hobi memelihara batu perlahan berubah men...

Mengapa Orang Korea dan Cina Memelihara Batu sebagai Hewan Peliharaan

Ketika sebagian orang sibuk merawat kucing atau anjing, sebagian lainnya justru memilih pendamping yang jauh lebih sederhana: batu. Di Korea Selatan dan Cina, hobi memelihara batu perlahan berubah menjadi tren yang digandrungi banyak orang, terutama mereka yang tinggal di kota besar. Batu-batu itu dirawat seperti makhluk hidup, diberi nama, dan menjadi bagian dari rutinitas harian pemiliknya.

Fenomena ini mungkin terdengar aneh, tetapi jejaknya mudah ditemukan di media sosial. Dari unggahan yang memperlihatkan batu yang dibersihkan dengan sikat lembut hingga foto batu yang dipajang di meja kerja, tren ini telah menumbuhkan komunitas penggemar tersendiri.

Fenomena yang Tumbuh di Korea Selatan dan Cina

Di Korea Selatan, tren ini terlihat dari banyaknya unggahan di platform media sosial yang memperlihatkan orang membersihkan batu, mengoleskannya dengan minyak, hingga mengajaknya berbicara. Sebagian pemilik bahkan membawa batu peliharaannya saat bepergian dan memotretnya di tempat-tempat wisata. Batu yang dipilih biasanya berukuran kecil dengan permukaan halus dan dianggap memiliki karakter tersendiri oleh pemiliknya. Hal serupa juga terjadi di Cina, tempat batu peliharaan dipandang sebagai hiburan murah yang tidak merepotkan.

Fenomena ini menarik karena menantang logika umum. Kebanyakan orang memelihara hewan demi kebersamaan, kasih sayang, atau hiburan. Batu tidak bergerak, tidak bersuara, dan tidak pernah memberikan respons apa pun. Meski begitu, jumlah orang yang tertarik pada hobi ini terus bertambah dari waktu ke waktu.

Akar Psikologis Memelihara Benda Mati

Mengapa manusia memilih memelihara benda mati? Jawabannya berkaitan dengan kebutuhan emosional yang tidak selalu terpenuhi oleh hubungan antarmanusia. Batu peliharaan menawarkan kebersamaan tanpa tuntutan. Ia tidak menuntut perhatian pada jam tertentu, tidak mengeluarkan suara bising, dan tidak pernah mengecewakan pemiliknya.

Dalam tekanan kerja yang tinggi, banyak orang merasa kelelahan secara sosial. Interaksi dengan sesama manusia, meskipun bermakna, kerap menguras energi. Batu hadir sebagai alternatif yang tenang. Merawatnya memberi rasa tanggung jawab yang ringan sekaligus melatih kesabaran dan kepekaan terhadap detail. Tren ini juga dinilai relevan dengan gaya hidup modern yang serba digital; di tengah interaksi yang semakin banyak terjadi melalui layar, kehadiran objek fisik yang tenang justru terasa nyata dan membumi.

Para psikolog menilai praktik semacam ini sebagai bentuk perawatan objek yang memberi efek menenangkan. Rutinitas membersihkan dan merawat batu dapat berfungsi seperti ritual mindfulness yang membantu seseorang berhenti sejenak dari kesibukan dan fokus pada satu hal yang sederhana.

Filosofi Ketenangan di Balik Batu

Selain alasan psikologis, ada dimensi filosofis dalam hobi ini. Batu yang tampak biasa bisa menjadi pengingat bahwa tidak semua hal harus bergerak cepat atau menghasilkan sesuatu. Dalam masyarakat yang mengagungkan produktivitas, memelihara batu menjadi semacam perlawanan halus terhadap ritme hidup yang serba terburu-buru.

Alasan lain yang tidak kalah penting adalah faktor ekonomi. Dibandingkan hewan peliharaan yang membutuhkan pakan, vaksin, dan pemeriksaan dokter, batu hampir tidak memerlukan biaya perawatan. Biaya yang rendah membuat hobi ini mudah diakses oleh siapa saja, termasuk pelajar dan pekerja dengan anggaran terbatas.

Ragam Respons dan Masa Depan Tren

Respons terhadap tren ini beragam. Sebagian warganet menganggapnya lucu dan menghibur, sebagian yang lain menganggapnya aneh atau berlebihan. Namun, bertambahnya jumlah penggemar menunjukkan bahwa tren ini bukan sekadar lelucon sesaat. Beberapa pemilik mengaku merasakan keterikatan emosional yang nyata terhadap batu yang mereka rawat.

Belum ada data resmi yang pasti mengenai jumlah pemelihara batu di kedua negara tersebut. Kendati demikian, berdasarkan banyaknya unggahan dan diskusi daring, tren ini memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan yang stabil. Komunitas daring pun bermunculan untuk berbagi tips merawat batu dan memamerkan koleksi masing-masing.

Kesimpulan

Hobi memelihara batu di Korea Selatan dan Cina mencerminkan kebutuhan manusia akan ketenangan, kebersamaan tanpa beban, dan makna pada hal-hal sederhana. Meskipun tampak absurd bagi sebagian orang, tren ini memiliki akar psikologis yang bisa dipahami. Pada akhirnya, yang dirawat manusia bukan sekadar batu, melainkan kebutuhan emosional yang ingin dipenuhi dengan cara paling sederhana.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User