Oct 05, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Mengapa Kita Tertarik pada Hubungan yang Merugikan

Banyak orang bertanya-tanya mengapa mereka terus-menerus tertarik pada pasangan yang justru membawa ketidakstabilan, konflik, atau bahkan rasa sakit dalam hubungan. Fenomena ini kerap kali membuat ses...

Mengapa Kita Tertarik pada Hubungan yang Merugikan

Banyak orang bertanya-tanya mengapa mereka terus-menerus tertarik pada pasangan yang justru membawa ketidakstabilan, konflik, atau bahkan rasa sakit dalam hubungan. Fenomena ini kerap kali membuat seseorang merasa bingung, terutama ketika mereka secara sadar menginginkan hubungan yang aman, tenang, dan penuh dukungan. Ternyata, ada sejumlah mekanisme psikologis yang dapat menjelaskan kecenderungan ini, salah satunya berkaitan dengan seberapa akrab otak kita terhadap suatu pola, bukan seberapa sehat pola tersebut.

Apa Itu Efek Paparan Semata

Salah satu penjelasan yang sering dibahas dalam psikologi adalah efek paparan semata atau mere exposure effect. Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh psikolog Robert Zajonc, yang menemukan bahwa semakin sering seseorang terpapar pada suatu stimulus, semakin besar kecenderungan mereka untuk menyukainya. Fenomena ini dapat terjadi pada berbagai hal, mulai dari musik, wajah asing, hingga kata-kata yang sebelumnya tidak terlalu menarik.

Namun, efek ini tidak terbatas pada hal-hal yang netral atau menyenangkan. Otak manusia cenderung mengasosiasikan keterulangan dengan keamanan. Ketika sesuatu sudah sering kita alami, sistem kognitif kita memprosesnya dengan lebih sedikit usaha. Hal ini menciptakan rasa familiaritas yang secara tidak langsung dapat diterjemahkan sebagai kenyamanan, meski kenyamanan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan.

Mengapa Kekacauan Bisa Terasa Akrab

Bagi sebagian orang, ketidakstabilan bukanlah hal yang baru, melainkan pola yang terbentuk sejak masa kecil. Lingkungan keluarga yang penuh gejolak, komunikasi yang tidak konsisten, atau hubungan orang tua yang tidak dapat diprediksi dapat membentuk apa yang disebut sebagai peta hubungan internal. Peta ini berfungsi layaknya template yang secara bawah sadar digunakan untuk menilai apa yang 'normal' dalam sebuah hubungan romantis.

Ketika seseorang tumbuh dengan pola tersebut, kedamaian justru bisa terasa asing. Sebaliknya, ketegangan, drama, atau bahkan siklus tarik-ulur dapat memicu respons yang sudah terbiasa mereka rasakan. Respons ini tidak berarti bahwa mereka menyukai rasa sakit, melainkan bahwa tubuh dan pikiran mereka telah terbiasa mengaktifkan mekanisme bertahan hidup dalam kondisi tersebut. Akibatnya, apa yang sehat bisa terasa membosankan, sementara apa yang tidak stabil bisa terasa 'tepat'.

Peran Sistem Emosi dan Keterikatan

Efek paparan semata bukanlah satu-satunya faktor yang berperan. Teori keterikatan juga menjelaskan mengapa banyak orang terjebak dalam siklus ini. Individu dengan gaya keterikatan cemas, misalnya, kerap kali mencari kepastian dari pasangan yang justru tidak konsisten. Siklus ketidakpastian ini dapat memicu lonjakan dopamin yang mirip dengan sensasi pengejaran, sehingga hubungan tersebut terasa lebih intens dibandingkan hubungan yang stabil dan dapat diprediksi.

Selain itu, kondisioning emosional turut memperkuat kecenderungan ini. Otak cenderung mengingat momen-momen intens dengan sangat kuat, seperti rekonsiliasi setelah pertengkaran besar atau momen kasih sayang yang muncul secara sporadis. Momen-momen inilah yang sering kali diingat secara berlebihan, sementara periode ketidaknyamanan yang berkepanjangan cenderung diremehkan. Hal ini menciptakan ilusi bahwa hubungan tersebut 'layak diperjuangkan' meski secara keseluruhan merugikan.

Mengapa Otak Lebih Memilih yang Dikenali

Dari perspektif evolusioner, otak dirancang untuk memprioritaskan hal yang familiar demi bertahan hidup. Menghindari hal asing dulunya bisa berarti menghindari bahaya. Namun, mekanisme yang dulunya adaptif ini bisa menjadi maladaptif di era modern, khususnya dalam ranah hubungan. Bias familiaritas membuat kita lebih memilih apa yang kita kenal, meski pilihan tersebut tidak menguntungkan kesehatan mental atau emosional kita.

Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa familiaritas tidak sama dengan kecocokan. Seseorang bisa sangat akrab dengan sebuah pola tanpa pola tersebut menjadi baik baginya. Kesadaran akan perbedaan ini menjadi langkah penting untuk memutus siklus yang berulang.

Langkah Menuju Hubungan yang Lebih Sehat

Memutus kecenderungan ini membutuhkan usaha sadar. Pertama, penting untuk mengenali pola berulang dengan jujur, tanpa menyalahkan diri sendiri. Menuliskan pengalaman hubungan dapat membantu melihat tren yang sebelumnya tidak disadari. Kedua, membiasakan diri dengan stabilitas juga perlu dilatih. Karena kedamaian terasa asing, diperlukan waktu untuk terbiasa merasa aman tanpa adanya drama.

Ketiga, mencari dukungan juga sangat berperan. Terapi, khususnya yang berfokus pada keterikatan atau trauma, dapat membantu mengurai peta hubungan yang terbentuk sejak lama. Terakhir, penting untuk belajar membedakan antara 'intensitas' dan 'kedekatan'. Hubungan yang sehat mungkin tidak selalu memicu adrenalin, namun justru memberikan ketenangan, rasa hormat, dan konsistensi yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, kecenderungan untuk tertarik pada orang yang salah bukanlah tanda kelemahan karakter. Hal ini merupakan hasil dari interaksi antara efek paparan semata, pengalaman masa lalu, gaya keterikatan, dan bias kognitif yang bertujuan melindungi. Dengan pemahaman yang tepat, mekanisme perlindungan ini dapat dikenali dan perlahan digantikan oleh pilihan yang benar-benar mendukung kesejahteraan jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User