Banyak orang pernah mengalami sebuah pertanyaan yang sama di tengah kegagalan hubungan: mengapa mereka kembali tertarik kepada seseorang yang justru menyakitinya, alih-alih kepada orang yang memperlakukan mereka dengan baik? Pertanyaan ini tidak selalu berkaitan dengan pilihan sadar, melainkan bisa berasal dari mekanisme psikologis yang bekerja di balik alam bawah sadar manusia. Fenomena ini kerap kali membuat seseorang terjebak dalam pola yang berulang, meski telah bertekad untuk mencari hubungan yang lebih sehat.
Ketidaknyamanan yang Terasa Akrab
Salah satu alasan mengapa manusia bisa tertarik pada hubungan yang tidak sehat adalah karena adanya rasa akrab terhadap pola tertentu. Sejak kecil, otak manusia belajar untuk mengenali lingkungan sekitarnya sebagai bentuk bertahan hidup. Pola yang sering dihadapi, baik itu positif maupun negatif, akan lama kelamaan terasa familiar bagi seseorang. Ketika seseorang tumbuh di lingkungan yang penuh gejolak, maka ketenangan justru bisa terasa asing. Sebaliknya, suasana yang penuh naik turun, kecemasan, maupun ketidakpastian bisa terasa seperti rumah bagi dirinya. Hal ini bukan berarti seseorang menyukai rasa sakit, namun otaknya telah terbiasa dengan sensasi tersebut sehingga terasa lebih mudah untuk diterima dibandingkan dengan sesuatu yang belum dikenali.
Otak yang Lebih Memilih yang Sudah Dikenal
Mekanisme ini berkaitan erat dengan kecenderungan manusia untuk lebih menyukai hal yang telah sering dijumpai. Semakin sering otak terpapar pada suatu stimulus, maka semakin besar kecenderungan untuk menerimanya. Dalam konteks hubungan, hal ini dapat berlaku terhadap perilaku, suasana, bahkan siklus konflik yang terus berulang. Otak tidak selalu menilai apakah sesuatu itu baik untuk kesehatan mental, namun ia menilai berdasarkan tingkat keakraban. Pola yang sudah dikenal membutuhkan energi kognitif yang lebih sedikit untuk diproses, sehingga secara otomatis terasa lebih nyaman meski berpotensi merugikan. Inilah yang membuat seseorang bisa merasa rindu akan kekacauan yang pernah ia jalani, namun tidak merasa tenang saat berada di hubungan yang stabil dan aman.
Perbedaan Antara Akrab dan Aman
Penting untuk membedakan antara rasa akrab dengan rasa aman. Hubungan yang sehat umumnya ditandai dengan konsistensi, kejelasan batasan, komunikasi yang dapat diprediksi, serta rasa saling menghargai. Semua hal tersebut merupakan bentuk keamanan, namun tidak selalu memberikan sensasi dramatis yang kerap kali dialami pada hubungan yang bergejolak. Adrenalin yang muncul akibat pertengkaran yang kemudian dilanjutkan dengan perdamaian, misalnya, dapat memberikan lonjakan emosi yang kuat. Lonjakan tersebut kerap kali disalahartikan sebagai cinta atau gairah, padahal bisa saja merupakan respons stres yang berulang. Gairah yang berasal dari ketidakpastian berbeda jauh dengan kedamaian yang berasal dari keamanan. Kedua hal ini bisa terasa serupa pada saat tertentu, namun dampaknya terhadap kesehatan mental sangatlah berbeda.
Lingkaran Berulang yang Sulit Diputus
Ketika rasa akrab berpadu dengan emosi yang intens, terbentuklah siklus yang sulit untuk diputuskan. Seseorang bisa saja menyadari bahwa hubungannya beracun, namun tubuh dan pikirannya telah terlatih untuk merespons pola tersebut. Rasa rindu, harapan akan perubahan, hingga nostalgia akan momen baik kerap kali menjadi penguat untuk kembali ke dalam siklus yang sama. Ditambah dengan kurangnya pengalaman akan hubungan yang aman, seseorang bisa berpikir bahwa stabilitas adalah sesuatu yang membosankan, dingin, atau bahkan tidak tulus. Pandangan ini bukanlah realitas, namun merupakan hasil dari pembiasaan terhadap kekacauan yang telah berlangsung lama. Proses ini membutuhkan waktu untuk diurai, terutama bagi mereka yang belum pernah merasakan keamanan dalam hubungan sebelumnya.
Menuju Pilihan yang Lebih Sehat
Menyadari mekanisme ini merupakan langkah awal yang penting untuk memutus pola tersebut. Pertama, seseorang perlu mengenali perbedaan antara ketertarikan yang berlandaskan gairah, dengan ketertarikan yang berlandaskan keamanan. Kedua, penting untuk memberikan ruang bagi diri sendiri untuk terbiasa dengan ketenangan. Pada awalnya, hubungan yang stabil bisa terasa datar atau bahkan canggung, namun hal tersebut bukanlah pertanda bahwa hubungan itu tidak baik. Justru, hal itu bisa menjadi pertanda bahwa otak sedang belajar sebuah pola baru. Ketahanan untuk bertahan di dalam ketenangan, alih-alih kembali pada kekacauan, merupakan latihan yang perlu dilakukan secara berulang. Dengan waktu, apa yang dulunya terasa asing tersebut dapat berubah menjadi sesuatu yang akrab, dan yang paling penting, menjadi sesuatu yang aman untuk dinikmati.
Pada akhirnya, cinta yang sehat tidak selalu terasa menegangkan. Terkadang, cinta yang sehat justru terasa tenang. Bukan karena kurangnya passion, namun karena tidak adanya rasa takut yang terus menerus. Dan untuk sampai pada titik tersebut, manusia perlu belajar untuk tidak hanya mencari yang akrab, namun juga berani memilih yang aman bagi dirinya sendiri.
Comments (0)