Oct 08, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Maulid Aceh Berlangsung 100 Hari, Ini Alasannya

Di Aceh, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW tidak sekadar diperingati dalam hitungan malam. Masyarakat di sejumlah daerah menjalankan rangkaian kegiatan yang membentang selama lebih dari tiga bulan, te...

Maulid Aceh Berlangsung 100 Hari, Ini Alasannya

Di Aceh, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW tidak sekadar diperingati dalam hitungan malam. Masyarakat di sejumlah daerah menjalankan rangkaian kegiatan yang membentang selama lebih dari tiga bulan, tepatnya 100 hari penuh sejak hari pertama dimulainya syukuran. Durasi yang tidak biasa ini menyimpan makna sejarah yang dalam dan masih dijaga sampai sekarang.

Banyak orang dari luar Aceh baru mengetahui panjangnya tradisi ini ketika berkunjung langsung. Mereka menyaksikan bahwa setiap hari selalu ada kegiatan di dayah, masjid, atau rumah warga. Tidak ada jeda panjang, seolah perayaan tak pernah benar-benar usai sebelum hari ke-100 ditutup dengan doa bersama.

Wasiat yang Tertulis dalam Kitab Klasik

Durasi tersebut bukan angka acak. Ada pedoman tertulis yang menjadi rujukan utama pelaksanaannya, yakni kitab Tazkirat al Tabaqah. Di dalam naskah itu, tercantum pesan dari Sultan Aceh terdahulu yang meminta agar maulid dirayakan dengan cara demikian. Amanat itu diwariskan turun-temurun dan tetap ditaati oleh generasi berikutnya.

Menurut penjelasan sejumlah ulama setempat, pesan dalam kitab tersebut menekankan dua hal: ibadah dan silaturahmi. Perayaan panjang dimaksudkan agar umat tidak berhenti mengingat Rasulullah hanya sesaat, melainkan terus mempererat hubungan antar sesama selama periode yang panjang itu.

Klaim yang beredar menyebut tradisi ini sebagai kebiasaan baru yang muncul belakangan. Faktanya adalah, pedoman pelaksanaannya bersumber dari naskah klasik yang usianya sudah ratusan tahun, sehingga praktik ini justru termasuk warisan tua yang dijaga secara konsisten.

Bukti utamanya terletak pada keberadaan kitab rujukan tersebut, yang masih disimpan dan dirujuk kalangan pesantren di sejumlah kabupaten. Karena itu, anggapan bahwa perayaan berdurasi panjang hanyalah tren sesaat tidak dapat dibenarkan.

Bagaimana 100 Hari Itu Dijalani

Rangkaian kegiatan dibagi dalam beberapa tahap. Pada awal periode, warga berkumpul untuk pembacaan maulid berjamaah, dilanjutkan dengan ceramah dan zikir. Selanjutnya, giliran rumah tangga atau kelompok tertentu yang menggelar syukuran, sehingga hampir setiap malam ada tuan rumah yang menerima kunjungan tetangga dan kerabat.

Pola ini membuat pertemuan antarwarga berlangsung berkelanjutan. Tidak seperti perayaan satu malam yang langsung usai, selama 100 hari kesempatan untuk saling bertemu terbuka lebar. Warga yang sebelumnya sibuk bekerja pun akhirnya menyempatkan diri bersilaturahmi.

Selain kegiatan keagamaan, sebagian daerah juga memadukannya dengan tradisi kuliner dan syair. Hidangan khas disiapkan secara bergiliran, sementara para syekh melantunkan puisi keagamaan yang telah menjadi bagian dari budaya lokal. Kombinasi ini membuat suasana terasa hidup dari hari ke hari.

Tujuan yang Ditekankan

Aspek paling penting dari tradisi ini adalah penguatan tali kekerabatan. Jarak antar kampung yang jauh, kesibukan kerja, serta perubahan gaya hidup modern kerap memisahkan orang yang dulu akrab. Perayaan berdurasi panjang menjadi alasan praktis untuk berkumpul kembali secara berkala.

Di samping itu, kegiatan ini juga berfungsi sebagai ruang pendidikan tidak langsung. Anak-anak muda yang hadir mengenal lebih dekat kisah hidup Nabi, hafalan syair, serta adab dalam berinteraksi dengan tetangga dan orang yang lebih tua.

Data lapangan menunjukkan bahwa jumlah rumah yang membuka pintu untuk tamu terus bertambah seiring berjalannya waktu. Fenomena ini menandakan bahwa semangat berbagi masih menjadi budaya yang dihidupkan warga, bukan sekadar formalitas upacara.

Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

Tantangan terbesarnya kini adalah menjaga kelestarian di tengah mobilitas penduduk. Banyak warga Aceh yang merantau dan hanya pulang pada momen tertentu. Meski demikian, sebagian komunitas tetap menjalankan rangkaian tersebut dengan dukungan pemuda setempat yang bertugas mengkoordinasi kegiatan.

Pemerintah daerah dan sejumlah lembaga keagamaan pun mulai mendokumentasikan pelaksanaannya agar tidak kehilangan jejak. Arsip foto, rekaman syair, serta catatan siapa saja yang menjadi tuan rumah disimpan sebagai bahan rujukan bagi generasi berikutnya.

Kesimpulannya, panjangnya perayaan maulid di Aceh berakar pada wasiat tertulis yang dihormati turun-temurun, bukan pada keinginan membuat perayaan berbeda dari daerah lain. Dengan durasi 100 hari, tradisi ini berhasil memadukan ibadah dan keakraban sosial dalam satu rangkaian yang utuh, sekaligus membuktikan bahwa warisan budaya masih relevan meski zaman terus berubah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User