Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan sering kali menjadi tembok penghalang utama bagi pengembangan sektor perikanan darat. Namun, Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Perikanan memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Mengambil langkah terobosan, otoritas setempat resmi menggelar program pelatihan budidaya ikan patin dengan memanfaatkan media kolam terpal yang ditargetkan kepada 25 Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Langkah strategis ini bukan sekadar kegiatan rutin pengeluaran anggaran, melainkan sebuah respons progresif terhadap dinamika ekonomi lokal dan ancaman krisis ketahanan pangan kota. Dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan rumah yang sempit, teknologi kolam terpal dinilai mampu menjadi solusi konkrit untuk mendongkrak produktivitas komoditas patin—jenis ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan permintaan pasar yang cukup stabil di Pulau Lombok.
Menembus Keterbatasan Lahan Perkotaan
Secara teknis, budidaya ikan patin tradisional biasanya membutuhkan areal kolam tanah yang luas dengan pasokan air mengalir yang melimpah. Namun, bagi masyarakat ibu kota Provinsi NTB ini, skema tersebut hampir mustahil diterapkan secara masif. Di sinilah metode kolam terpal mengambil peran sentral. Melalui pelatihan intensif ini, para anggota Pokdakan dibekali pemahaman mendalam mulai dari pembuatan konstruksi kolam terpal yang kokoh, manajemen kualitas air, pemilihan benih unggul, hingga efisiensi pemberian pakan.
"Kami ingin membuktikan bahwa keterbatasan lahan di wilayah perkotaan bukan lagi alasan untuk tidak berproduksi. Kolam terpal memberikan fleksibilitas tinggi, kontrol penyakit yang lebih mudah, serta biaya investasi awal yang jauh lebih terjangkau bagi kelompok masyarakat," tegas perwakilan pejabat Dinas Perikanan Kota Mataram di sela-sela pembukaan kegiatan pelatihan.
Untuk memahami efisiensi metode ini, berikut adalah komparasi teknis antara budidaya kolam tanah konvensional dengan metode kolam terpal perkotaan yang diterapkan dalam program pelatihan ini:
| Parameter Analisis | Kolam Tanah Konvensional | Kolam Terpal Urban (Mataram) |
|---|---|---|
| Kebutuhan Lahan | Minimal 100–500 m² | Fleksibel (mulai 6–12 m²) |
| Pengawasan Kualitas Air | Sulit dikontrol (rentan lumpur) | Sangat terkontrol & mudah dikuras |
| Padat Tebar Benih | Rendah hingga Sedang | Tinggi (Optimalisasi ruang) |
| Tingkat Kelangsungan Hidup (SR) | 60% – 70% | Mencapai 80% – 90% |
Strategi Ekonomi dan Penguatan Pakan Lokal
Ikan patin dipilih bukan tanpa alasan. Selain daya tahan tubuhnya yang relatif kuat terhadap perubahan lingkungan, daging patin sangat diminati oleh industri kuliner lokal, mulai dari warung makan hingga hotel dan restoran di Lombok. Kendala utama pembudidaya selama ini adalah tingginya pembengkakan biaya pakan pabrikan yang bisa mencapai 70 persen dari total biaya operasional.
Oleh karena itu, dalam materi pelatihan ini, Dinas Perikanan Mataram juga menyisipkan formulasi pakan mandiri berbasis bahan baku lokal. Para peserta diajarkan teknik pembuatan pakan tambahan untuk memangkas ketergantungan pada pakan komersial tanpa mengurangi nutrisi pertumbuhan ikan. Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak margin keuntungan pembudidaya saat masa panen tiba dalam rentang waktu 4 hingga 6 bulan ke depan.
Tantangan Teknis dan Pengawasan Berkelanjutan
Meski menawarkan banyak keunggulan, budidaya ikan patin di media terpal memiliki kerentanan tersendiri, terutama terkait amoniak akibat penumpukan sisa pakan. Tanpa manajemen aerasi dan sirkulasi air yang ketat, kegagalan panen tetap menjadi ancaman nyata. Memahami risiko ini, Dinas Perikanan Mataram memastikan bahwa pelatihan tidak berhenti di ruang kelas.
Skema pengawasan ketat disiapkan melalui penempatan Penyuluh Perikanan Lapangan (PPL) yang akan melakukan pendampingan berkala kepada 25 Pokdakan penerima manfaat. Para penyuluh akan memantau perkembangan fisik ikan, menguji kualitas air secara berkala, hingga membantu membuka akses pasar penyerapan hasil panen secara terintegrasi.
Inisiatif Dinas Perikanan Kota Mataram ini menegaskan satu hal: transformasi pertanian dan perikanan urban (urban farming) bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan strategi bertahan hidup dan penguat fondasi ekonomi warga di tengah keterbatasan ruang kota.
Comments (0)